Sekitar 2 bulan lagi UN
serempak akan dilakukan di seluruh Indonesia. Berbagai taktik belajar sedang disiapkan
para anak-anak SMA. Ada yang militan mengerjakan soal-soal sampai larut malam
dan dengan tegas mulai mengkesampingkan urusan asmara secara total. Ada juga
yang bergerak secara gerilya dengan menginbox facebook teman-teman lama yang
sudah pindah ke luar kota untuk menanyakan apakah punya kunci jawaban UN atau
tidak. Silahkan anda tebak saya yang mana.
Layaknya para murid,
guru-guru anak kelas 3 juga sedang sibuk-sibuknya mengatur strategi paling
sahih agar semua siswanya lulus dengan nilai memuaskan. Les gencar dilakukan,
soal-soal UN terdahulu telah dibabat sampai habis, meski itu tak terlalu
menjamin para siswanya mengerti apa yang mereka katakan.
Selain mempersiapkan
UN, para siswa juga sibuk memikirkan akan kuliah di jurusan apa. Di pertanyaan
paling mendasar semacam ini, google sangat membantu. Keyword yang ditanyakan
bermacam-macam, mulai dari jurusan paling besar peluang kerja, paling besar
gajinya, dan paling besar yang lain.
Tak hanya siswa yang
sibuk mencari, pihak Universitas pun rela bolak-balik daerah untuk
mensosialisasikan kampusnya. Di sekolah saya juga sudah banyak universitas yang
mempromosikan sekolahnya dan untuk beberapa minggu kedepan pasti akan lebih banyak lagi. Terakhir dari
Sekolah Tinggi Tenaga Nuklir. Yang mensosialisasikan kebetulan kakak kelas saya
yang lulus tahun lalu. Dan menurut tafsir saya, otak dia sedikit banyak telah
terpapar radiasi yang positif sehingga diumur segitu ia lebih cocok jadi dosen
daripada mahasiswa.
Saya sendiri sebenarnya
juga lagi bingung akan melanjutkan langkah ke mana. Segala upaya lahir dan batin
telah saya coba ikhtiar-kan.
Pertanyaan awal tentu
adalah akan kuliah di mana. Bagi saya perihal demografi ini penting karena
sangat berpengaruh dengan target yang ingin saya capai di masa kuliah dan setelahnya, yang
telah saya tetapkan jauh-jauh hari.
Kemudian yang kedua
adalah akan kuliah jurusan apa. Target yang saya buat itu dapat direalisasikan
melalui beberapa jurusan kalau menurut saya. Nah, tugas selanjutnya tentu
adalah melihat untung rugi dari tiap-tiap jurusan. Sebenarnya bukan untung
rugi, tapi lebih ke yang tidak terlalu menghancurkan otak masa muda saya yang
sudah ditakdirkan hanya segini.
Memang kita yang jarang
serius ini pada akhirnya harus mikir yang berat-berat juga kalau sudah
berhubungan dengan masa depan. Tapi tak apa lah, itung-itung latihan buat otak
untuk belajar mengambil keputusan penting, yang pasti akan lebih banyak lagi di masa-masa yang akan datang.