Minggu, 08 Februari 2015

Menuju Akhir



Sekitar 2 bulan lagi UN serempak akan dilakukan di seluruh Indonesia. Berbagai taktik belajar sedang disiapkan para anak-anak SMA. Ada yang militan mengerjakan soal-soal sampai larut malam dan dengan tegas mulai mengkesampingkan urusan asmara secara total. Ada juga yang bergerak secara gerilya dengan menginbox facebook teman-teman lama yang sudah pindah ke luar kota untuk menanyakan apakah punya kunci jawaban UN atau tidak. Silahkan anda tebak saya yang mana.

Layaknya para murid, guru-guru anak kelas 3 juga sedang sibuk-sibuknya mengatur strategi paling sahih agar semua siswanya lulus dengan nilai memuaskan. Les gencar dilakukan, soal-soal UN terdahulu telah dibabat sampai habis, meski itu tak terlalu menjamin para siswanya mengerti apa yang mereka katakan.

Selain mempersiapkan UN, para siswa juga sibuk memikirkan akan kuliah di jurusan apa. Di pertanyaan paling mendasar semacam ini, google sangat membantu. Keyword yang ditanyakan bermacam-macam, mulai dari jurusan paling besar peluang kerja, paling besar gajinya, dan paling besar yang lain.

Tak hanya siswa yang sibuk mencari, pihak Universitas pun rela bolak-balik daerah untuk mensosialisasikan kampusnya. Di sekolah saya juga sudah banyak universitas yang mempromosikan sekolahnya dan untuk beberapa minggu kedepan pasti akan lebih banyak lagi. Terakhir dari Sekolah Tinggi Tenaga Nuklir. Yang mensosialisasikan kebetulan kakak kelas saya yang lulus tahun lalu. Dan menurut tafsir saya, otak dia sedikit banyak telah terpapar radiasi yang positif sehingga diumur segitu ia lebih cocok jadi dosen daripada mahasiswa.

Saya sendiri sebenarnya juga lagi bingung akan melanjutkan langkah ke mana. Segala upaya lahir dan batin telah saya coba ikhtiar-kan. 

Pertanyaan awal tentu adalah akan kuliah di mana. Bagi saya perihal demografi ini penting karena sangat berpengaruh dengan target yang ingin saya capai di masa kuliah dan setelahnya, yang telah saya tetapkan jauh-jauh hari.

Kemudian yang kedua adalah akan kuliah jurusan apa. Target yang saya buat itu dapat direalisasikan melalui beberapa jurusan kalau menurut saya. Nah, tugas selanjutnya tentu adalah melihat untung rugi dari tiap-tiap jurusan. Sebenarnya bukan untung rugi, tapi lebih ke yang tidak terlalu menghancurkan otak masa muda saya yang sudah ditakdirkan hanya segini.

Memang kita yang jarang serius ini pada akhirnya harus mikir yang berat-berat juga kalau sudah berhubungan dengan masa depan. Tapi tak apa lah, itung-itung latihan buat otak untuk belajar mengambil keputusan penting, yang pasti akan lebih banyak lagi di masa-masa yang akan datang.