Jumat, 13 Mei 2016

#ReviewBuku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Kecuali kita pekerja buku atau orang yang gemar menyakiti diri sendiri, rasanya pasti berat untuk menyelesaikan buku yang ketika dibaca tidak menimbulkan rasa menyenangkan. Rasa menyenangkan ini, bagi saya pribadi, bisa hadir lewat gaya bahasa yang unik, humor berlimpah atau jalan cerita yang membuat penasaran. Sedangkan cerita tidak menyenangkan kurang lebih seperti ini: Ia ditulis terlalu puitis tapi murahan dan setiap kalimatnya seperti tak pernah mengajak kita untuk sampai ke halaman terakhir.

Sebetulnya, menyenangkan atau tidak ini lebih ke bagaimana saya ingin membaca sebuah buku. Pada situasi di mana buku bagus tidak mempunyai pengaruh yang luar biasa amat ketimbang ustad digital, membaca buku yang menghabiskan 3 halaman untuk mendeskripsikan seekor anjing jelas tidak menyenangkan. Apalagi kalimat yang membuat kening berkerut sampai-sampai kita malas membaca kata selanjutnya.

Sekarang, saya lebih suka dengan buku-buku yang ditulis dengan ringkas, punya rasa humor, dan setiap kalimatnya mampu dijelaskan dengan sederhana. Di Indonesia, baru-baru ini, saya menemukannya lewat Novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom.

Buku ini adalah karya pertamanya yang saya baca. Sebelumnya, saya hanya membaca cerpen-cerpennya di internet. Selama membaca Mandasia, saya seperti didongengkan oleh tukang cerita yang jago melawak dan sedikit banyak tahu ilmu silat serta kuliner.

Raden Mandasia dalam otak saya adalah cerita tentang dendam yang sebenarnya murahan. Dendam yang lahir akibat kematian orang tersayang bisa dengan mudah ditemui di setiap desa di negeri ini. Jenis perkara yang barangkali bisa diselesaikan dengan rasa ikhlas. Tapi, dendam yang biasa itu disokong oleh kejadian-kejadian lain yang membuat semuanya memang harus dibayar secara lunas.

Orang yang dendam itu, yang bernama Sungu Lembu, adalah narator dari kisah ini. Ia adalah Pangeran Banjaran Waru yang ingin membalaskan dendam kepada kerajaan Giliwengsi dengan cara membunuh Watugunung, pemilik kekuasaan di sana. Pembalasan dendam itu jelas tidak memakan waktu satu dua hari melainkan harus dibayar dengan kisah-kisah bertualang ke negeri jauh yang sangat menarik untuk diikuti.
Jika anda membaca kata Giliwengsi atau Banjaran Waru di atas dan berfikir kalau ini adalah kisah kerajaan, bisa jadi anda benar. Tapi jika anda berfikir ia dikisahkan lewat pilihan kata semacam “apa gerangan saudaraku” atau “apakah boleh hamba pergi membeli sekarung goni beras wahai paduka raja” atau kalimat sebangsanya, anda jelas salah. Novel ini ditulis dengan pilihan kata yang jauh dari rasa bikin ngantuk nan lamban seperti itu. Novel ini ditulis cepat sekaligus penuh umpatan di sana-sini. Jenis novel tebal yang apabila dibaca sambil menyelesaikan bom nuklir dengan deadline minggu depan pun tetap bisa diselesaikan kurang dari 3 hari.

Raden Mandasia, bagi saya, hadir ketika sebagian besar dari buku-buku kita tak pernah menarik perhatian yang kuat. Ia diciptakan dengan nuansa seru dan ditulis secara efektif. Penulisannya juga diperhatikan secara cermat. Di buku ini, diksi digunakan sesuai dengan konteks waktu pada zamannya. Pengambarannya yang sederhana juga tak lantas membuat buku ini minim imajinasi. Kita tetap bisa menciptakan gambaran tentang dongeng ini di kepala tanpa harus membaca deskripsi yang kelewat panjang hingga kadang-kadang menjadi tak efektif sama sekali.

Tapi, di antara kelebihan itu, yang sedikit menggangu bagi saya adalah cerita ini diselesaikan terlalu cepat dan beberapa makian datang secara tak perlu. Selain kedua hal itu, buku ini penuh dengan kabar-kabar menyenangkan yang akan membuat kita merasa tak sia-sia telah mengenal sesuatu bernama buku dalam hidup. Hadirnya buku ini juga mau tak mau membuat saya tak sabar menunggu kisah-kisah menyenangkan seperti ini untuk diciptakan lebih banyak lagi.

Senin, 25 April 2016

Melihat Chelsea Musim Ini

Saya pikir, ketika Jose Mourinho kembali menangani Chelsea, tim ini akan berubah menjadi tim yang konsisten tiap musimnya. Musim pertama, hal itu mulai terlihat. Musim kedua, saya mulai merasa bahwa saya punya bakat dalam meramal. Tapi di musim ini, musim ketiga, rasa-rasanya memang betul sepakbola tak bisa ditebak.

Kegagalan Mourinho di awal-awal membuat tim ini bahkan tidak lagi seru untuk diolok-olok. Saya tentu sedih. Selain Mourinho dipecat, mengakhiri musim tanpa satu hal pun yang bisa dibanggakan jelas sangat buruk. Ada dua hal yang tidak dapat kamu lakukan karenanya. Pertama, tidak bisa mengolok-olok fans Arsenal karena kalian sama-sama tidak juara. Kedua, tidak bisa melihat Chelsea di UCL musim depan.

Sebetulnya, saya yakin perjalanan Chelsea musim ini bakal menyenangkan. Gabungan antara skuat muda dan tua semakin baik. Terlebih ditambah Pedro yang ketika awal musim, demi Tuhan, saya tidak tahu bagaimana cara dia bermain. Saya pikir awal-awal, bg Ped ilmunya gak kalah-kalah amat sama bg Messi. Tapi baru setengah musim, saya yakin dia kebanyakan bualnya.

Sebagai fans, jelas saya punya analisis pribadi. Bagi saya, hilangnya sosok bg Terry dikebanyakan laga musim ini benar-benar membuat lini belakang menangys. Bek-bek Chelsea tanpa bg Ter jadi mudah diserang. Ditambah Courtois yang musim ini tiap main kayak banyak keselnya.

Di depan lebih parah lagi. Gelandang kebanggan bg Hazard baru bisa cetak gol di BPL di laga kemarin. Padahal, beliau jelas yang paling diharap-harapkan. Satu-satunya nama yang konsisten mungkin cuma Willian dan Costa yang kebanyakan cedera.

Jelas sekarang saya sudah maklum. Sejak kalah lawan PSG di UCL, saya sudah melepaskan semua harapan buat Chelsea musim ini. Saya sudah ikhlas sebelum musim berakhir. Saya juga sudah yakin, tak ada mukjizat-mukjizat lagi.

Sekarang, satu-satunya yang bisa membuat Chelsea dikenang musim ini mungkin cuma perannya yang penting buat dua tim yang lagi dipersaingan juara: Leicester dan Spurs. Chelsea bisa buat Leicester angkat trofi pertama kali kalau menang lawan Spurs dan pura-pura begok di laga terakhir. Sebaliknya, Chelsea juga bisa bikin Spurs jadi keren kalau kalah lawan mereka dan ngalahin Leicester di akhir laga. Sebagai fans, jelas saya benci dua skenario itu. Tapi kalaupun harus memlih, saya akan mengusulkan pilihan ketiga; Chelsea imbang lawan keduanya dan membiarkan Leicester dan Spurs menentukan nasib mereka lewat laga-laga lain.

Senin, 28 Desember 2015

Cerita Dari STAR 2015

Sebagai remaja tanggung yang selama hidup merasa makan indomie dengan cabe rawit 5 biji sebagai pengalaman paling ekstrem, saya langsung merasa semua itu bukan apa-apa ketika mengikuti agenda STAR 24-26 Desember lalu.

Sebagai penjelasan singkat, STAR adalah kegiatan kegamaan dari lembaga dakwah di fakultas saya yang isinya adalah studi atau belajar di alam terbuka. Kegiatan ini, dengan segala agendanya, berhasil menggeser aktivitas makan indomie dengan cabe rawit tadi sebagai hal paling greget pada hidup saya.

Awalnya, sebagai mahkluk yang percaya bahwa malas-malasan adalah sebaik-baiknya aktivitas, saya jelas menolak untuk bergabung menjadi peserta STAR. Terlebih ketika mendengar isi-isi kegiatannya dari berbagai mulut, membuat saya yakin kalau kegiatan itu tidak akan saya ikuti bagaimana pun caranya.

Tapi sebagaimana hidup, takdir selalu berkata lain. Menjelang penutupan pendaftaran peserta, saya akhirnya mendaftar dengan alasan solidaritas antar kawan angkatan dan karena sedikit masukan dari senior.

Karena sudah terlanjur ambil bagian, perasaan ogah-ogahan pun saya usahakan buang jauh-jauh. Hari demi hari saya saya gunakan untuk menyesal memantapkan ikhtiar agar semuanya terasa mudah. Karena jika tidak begitu, pastilah kegiatan tersebut akan saya lalui dengan berat. Apalagi kegiatan dilakukan di luar kota dan selama 3 hari.

Akhirnya setelah beberapa waktu, hari H kegiatan pun tiba. Semua sudah saya siapkan. Niat pun IsnyaAllah sudah bukan lillahi paksaan lagi. Saya berusaha menjalani 3 hari ke depan dengan semangat ala-ala pejuang jihad yang ingin merebut kembali tanah impiannya. Sebuah perjalanan serupa ziarah ke tempat yang telah lama dirindukan. Sembari terus memompa nyali agar diam-diam tidak ciut.

Dan ketika kegiatan dilakukan, saya merasa perasaan malas yang saya miliki di awal sungguh hilang seketika. Setelah dilalui, acara ini ternyata tidak buruk-buruk amat. Kami berkemah di sisi pantai, dan tidur di tenda berisi 70an orang. Yang lebih mengasyikkan tentu ketika hiking ke atas bukit tepat jam 12 malam dan di malam jum’at melalui medan yang bisa dibilang lumayan bahaya. Sungguh greget sekali. Tapi semua terbayarkan ketika sampai di puncak. Hamparan laut serta pendar kemerahan lampu kota Singkawang pada subuh hari ternyata serupa melihat adegan JAV secara lansgung. Benar-benar bikin orgasme di tempat. Diam-diam, saya mulai menikmati kegiatan ini. Berbagai agenda lain pun sangat baik. Semisal simulasi masuk neraka yang meski agak aneh, tapi seru juga.

Setelah mengikuti kegiatan ini, jelas saya belajar banyak hal. Bahwa sesungguhnya saya masih perlu belajar lebih banyak untuk bisa menerima semuanya dari berbagai sisi. Apalagi acara ini sangat bagus untuk membunuh sikap-sikap egois pada diri saya yang mungkin sangat banyak. Dan tanpa disadari, saya belajar menjadi manusia.

Rabu, 09 Desember 2015

Belajar Jadi MABA

Ketika menulis postingan ini, saya tengah dibebani setumpuk laporan dan jurnal yang belum selesai serta berbagai macam tugas-tugas lain yang bikin kepala cenat-cenut.

Beberapa bulan menjadi mahasiswa benar-benar di luar ekspetasi saya. Awalnya saya pikir kehidupan kampus itu santai dan elegan. Datang, dengerin dosen, ngopi, pulang. Eh setelah lihat fakta di lapangan, kok rasanya semua itu cuma mimpi. Tugas yang menumpuk serta rasa gegas yang terus mengikuti dari belakang benar-benar membuat semuanya jadi tidak santai dan tidak lagi elegan.

Selain tugas yang susah-susah, kegiatan kampus juga ternyata ikut-ikutan bikin pusing. Banyak sekali kegiatan yang sebenarnya maksdunya baik, tapi karena dilakukan ketika sibuk-sibuknya, malah bikin saya pengen tidur aja di rumah.

Tapi kalau menurut senior-senior yang berbagi pengalaman, 1 tahun pertama ini katanya memang sedang berat-beratnya. Tugas kuliah, kegiatan untuk maba, dan sekelumit hal-hal lain akan selalu hadir sampai tahun depan.

Karena berbagai kegiatan ini juga, 1 hari rasanya cepat sekali. Bahkan waktu-waktu buat buka media sosial ataupun update berita-berita terbaru baru bisa pas udah malam. Sungguh ini berlawanan dengan semangat netizen zaman sekarang yang harus selalu up to date biar bisa selalu berkomentar terkait isu-isu terkini.

Selain tugas yang banyak, materi perkuliahan semester-semester awal pun ternyata kurang menyenangkan. Untuk jurusan saya (Sistem Informasi) bahkan harus belajar lagi pelajaran dasar Sains seperti kimia, fisika, dan biologi. Jujur saya tidak tau motivasi dibalik mata kuliah ini. Mungkin pihak universitas pengen saya nulis kode sambil pakai jas lab. Biar lebih kaffah.

Sialnya lagi, pelajaran yang kurang berguna bagi saya itu selalu ada praktikum tiap minggu. Dan jadilah saya seperti bodoh setiap minggu masuk lab buat buang-buang NaCl atau nungguin logam silinder bolak-balik sampai sepuluh kali.

Jujur, saya ngak tahu kapan penderitaan jadi mahasiswa baru ini berakhir. Mungkin masa-masa ini juga dialami semua MABA seluruh dunia. Amerika, India, Tumbuktu, semua mungkin merasakan kesibukan seperti saya. Jenis kesibukan yang menjengkelkan, tapi akan dikenang pada suatu waktu. Semoga