Kecuali kita pekerja buku atau orang yang gemar menyakiti
diri sendiri, rasanya pasti berat untuk menyelesaikan buku yang ketika dibaca
tidak menimbulkan rasa menyenangkan. Rasa menyenangkan ini, bagi saya pribadi, bisa
hadir lewat gaya bahasa yang unik, humor berlimpah atau jalan cerita yang
membuat penasaran. Sedangkan cerita tidak menyenangkan kurang lebih seperti
ini: Ia ditulis terlalu puitis tapi murahan dan setiap kalimatnya seperti tak
pernah mengajak kita untuk sampai ke halaman terakhir.
Sebetulnya, menyenangkan atau tidak ini lebih ke bagaimana
saya ingin membaca sebuah buku. Pada situasi di mana buku bagus tidak mempunyai
pengaruh yang luar biasa amat ketimbang ustad digital, membaca buku yang menghabiskan 3 halaman untuk mendeskripsikan seekor anjing jelas tidak menyenangkan. Apalagi
kalimat yang membuat kening berkerut sampai-sampai kita malas membaca kata
selanjutnya.
Sekarang, saya lebih suka dengan buku-buku yang ditulis
dengan ringkas, punya rasa humor, dan setiap kalimatnya mampu dijelaskan dengan
sederhana. Di Indonesia, baru-baru ini, saya menemukannya lewat Novel Raden
Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom.
Buku ini adalah karya pertamanya yang saya baca. Sebelumnya,
saya hanya membaca cerpen-cerpennya di internet. Selama membaca Mandasia, saya
seperti didongengkan oleh tukang cerita yang jago melawak dan sedikit banyak tahu
ilmu silat serta kuliner.
Raden Mandasia dalam otak saya adalah cerita tentang dendam
yang sebenarnya murahan. Dendam yang lahir akibat kematian orang tersayang bisa
dengan mudah ditemui di setiap desa di negeri ini. Jenis perkara yang barangkali bisa diselesaikan dengan rasa ikhlas. Tapi, dendam yang biasa itu disokong oleh
kejadian-kejadian lain yang membuat semuanya memang harus dibayar secara lunas.
Orang yang dendam itu, yang bernama Sungu Lembu, adalah
narator dari kisah ini. Ia adalah Pangeran Banjaran Waru yang ingin membalaskan
dendam kepada kerajaan Giliwengsi dengan cara membunuh Watugunung, pemilik
kekuasaan di sana. Pembalasan dendam itu jelas tidak memakan waktu satu dua hari
melainkan harus dibayar dengan kisah-kisah bertualang ke negeri jauh yang
sangat menarik untuk diikuti.
Jika anda membaca kata Giliwengsi atau Banjaran Waru di atas
dan berfikir kalau ini adalah kisah kerajaan, bisa jadi anda benar. Tapi jika
anda berfikir ia dikisahkan lewat pilihan kata semacam “apa gerangan saudaraku”
atau “apakah boleh hamba pergi membeli sekarung goni beras wahai paduka raja”
atau kalimat sebangsanya, anda jelas salah. Novel ini ditulis dengan pilihan
kata yang jauh dari rasa bikin ngantuk nan lamban seperti itu. Novel ini ditulis
cepat sekaligus penuh umpatan di sana-sini. Jenis novel tebal yang apabila
dibaca sambil menyelesaikan bom nuklir dengan deadline minggu depan pun tetap
bisa diselesaikan kurang dari 3 hari.
Raden Mandasia, bagi saya, hadir ketika sebagian besar dari buku-buku kita tak pernah menarik perhatian yang kuat. Ia diciptakan dengan nuansa seru dan ditulis secara efektif. Penulisannya juga diperhatikan secara cermat. Di buku ini, diksi digunakan sesuai dengan konteks waktu pada zamannya. Pengambarannya yang sederhana juga tak lantas membuat buku ini minim imajinasi. Kita tetap bisa menciptakan gambaran tentang dongeng ini di kepala tanpa harus membaca deskripsi yang kelewat panjang hingga kadang-kadang menjadi tak efektif sama sekali.
Tapi, di antara kelebihan itu, yang sedikit menggangu bagi
saya adalah cerita ini diselesaikan terlalu cepat dan beberapa makian datang
secara tak perlu. Selain kedua hal itu, buku ini penuh dengan kabar-kabar menyenangkan yang akan membuat kita merasa tak sia-sia telah mengenal sesuatu bernama buku dalam hidup. Hadirnya buku ini juga mau tak mau membuat saya tak
sabar menunggu kisah-kisah menyenangkan seperti ini untuk diciptakan lebih
banyak lagi.
