Sabtu, 25 Oktober 2014

Pesan Untuk Pak Presiden




Senin 20 Oktober menjadi hari yang bermakna bagi Rakyat Indonesia karna telah mendapat pemimpin baru yang didapatkan secara sah, adil dan menyenangkan. Dan seperti sudah selayaknya, di tangan pemimpin baru kita pun harus menyimpan satu harapan, cita-cita, dan keinginan yang sekiranya dapat ia lakukan.

Seperti anda, saya juga menyimpan harapan yang syukur-syukur bisa dilaksanakan Pak Jokowi. Harapan saya sebenarnya tidak terlalu berat karna sangat sederhana bahkan cenderung tidak penting mengingat kesempatan dikabulkan begitu kecil. Harapan saya hanya satu; saya ingin UN dihapuskan.

Loh. Jangan marah atau ketawa dulu. Setidaknya ada beberapa alasan yang dapat mendorong Pak Jokowi untuk merealisasikan harapan saya ini.

Yang pertama, seperti yang menjadi jargon Pak Jokowi selama ini; Revolusi Mental. Entah ya atau tidak, Pak Jokowi seperti ingin menanamkan mentalitas baru kepada rakyatnya lewat jargon ini. seperti ada yang ingin ia ubah segera dan menurut saya Revolusi Mental yang baik dari segi pendidikan adalah dengan cara menghapuskan UN. Kenapa harus dihapus? Karna UN tidak penting. Revolusi berarti mengubah apa yang salah atau tidak berguna untuk menjadi lebih baik, dan UN menurut saya tidak berguna. UN hanya kegiatan mengisi soal selama 120 menit dan setelah itu pulang. Bertahun-tahun UN kita tidak mendapatkan hasil yang positif dari pada hanya sekadar bisnis jual beli kunci jawaban. Seharusnya UN dapat digantikan dengan sesuatu yang jelas dan tidak merusak otak siswa seperti saya. Misalnya dengan lomba balap karung, lomba memasak dan lain-lain. Pokoknya jangan UN.

Alasan kedua, ini terkait dengan masalah pak Jokowi yang ingin menghidupkan kembali  industri kreatif. Dan industri kreatif biasanya lahir dari anak-anak muda, tapi, bagaimana hal itu akan terjadi jika mereka sibuk mempersiapkan diri untuk UN? Mungkin waktu yang dihabiskan untuk belajar bisa mereka lakukan untuk berkarya seperti menghasilkan lagu, buku, atau bercocok-tanam. Namun ketika mempersiapkan UN (yang telah saya katakan tidak berguna), waktu mereka pasti menjadi habis dan mereka tidak menjadi kreatif.

Alasan ketiga, bagus untuk pertumbuhan remaja. Pak Jokowi pasti tidak ingin jika anak-anak mudanya mengalami keterpurukan gizi dan keterbelakangan mental karna sibuk memikirikan UN. Maka dari itu, pak Jokowi harus menghapuskan UN, karna jika itu dilakukan, anak-anak remaja Indonesia akan kembali sehat sejahtera.

Itulah alasan saya untuk menolak UN. Mungkin alasan di atas terdengar tidak berguna karna memang demikian. Saya yakin masih banyak alasan lain yang juga terlalu tidak penting.

Saya tau sepertinya Pak Jokowi sulit untuk melaksanakan permintaan saya, karna belum genap memimpin setahun, sudah berani menghapus UN. Tapi tak apa, Pak. Saya jamin akan aman-aman saja. Bapak juga demikian. Baru berapa tahun menjadi Gubenur sudah jadi Presiden. Yang perlu dilakukan sangat sederhana dan seperti yang pernah bapak lakukan; buatlah pencitraan untuk menggiring opini publik. Undang pakar-pakar pendidikan ke Metro TV dan suruh semuanya berkata jika UN harus dihapus. Tentu saja dengan argumen-argumen yang kuat seperti jika UN tidak dihapus, akan ada kematian massal siswa SMA atau jika UN tetap dilanjutkan maka harga tanah di Zimbabwe akan naik dan berbagai alasan lainnya.

Jika bapak masih berat untuk mewujudkan, sebut saja ini investasi untuk bapak. Menjadi Presiden tentu akan lebih sah jika 2 kali masa jabatan dan untuk melakukan itu bapak harus tetap terkenal hinggal 2019. Maka, jika bapak menghapuskan UN, saya yakin belasan juta Siswa seperti saya dan teman-teman yang lain akan memilih kembali Pak Jokowi pada 2019, tentu saja ini semacam balas budi atas kebaikan dan belas kasih yang bapak lakukan sehingga menyelamatkan masa muda kami. Impas kan pak?