Senin 20 Oktober menjadi hari yang
bermakna bagi Rakyat Indonesia karna telah mendapat pemimpin baru yang didapatkan
secara sah, adil dan menyenangkan. Dan seperti sudah selayaknya, di tangan
pemimpin baru kita pun harus menyimpan satu harapan, cita-cita, dan keinginan
yang sekiranya dapat ia lakukan.
Seperti anda, saya juga menyimpan
harapan yang syukur-syukur bisa dilaksanakan Pak Jokowi. Harapan saya
sebenarnya tidak terlalu berat karna sangat sederhana bahkan cenderung tidak
penting mengingat kesempatan dikabulkan begitu kecil. Harapan saya hanya satu;
saya ingin UN dihapuskan.
Loh. Jangan marah atau ketawa dulu.
Setidaknya ada beberapa alasan yang dapat mendorong Pak Jokowi untuk merealisasikan
harapan saya ini.
Yang pertama, seperti yang menjadi jargon
Pak Jokowi selama ini; Revolusi Mental. Entah ya atau tidak, Pak Jokowi seperti
ingin menanamkan mentalitas baru kepada rakyatnya lewat jargon ini. seperti ada
yang ingin ia ubah segera dan menurut saya Revolusi Mental yang baik dari segi pendidikan adalah dengan cara menghapuskan UN. Kenapa harus dihapus? Karna
UN tidak penting. Revolusi berarti mengubah apa yang salah atau tidak berguna
untuk menjadi lebih baik, dan UN menurut saya tidak berguna. UN hanya kegiatan
mengisi soal selama 120 menit dan setelah itu pulang. Bertahun-tahun UN kita
tidak mendapatkan hasil yang positif dari pada hanya sekadar bisnis jual beli
kunci jawaban. Seharusnya UN dapat digantikan dengan sesuatu yang jelas dan
tidak merusak otak siswa seperti saya. Misalnya dengan lomba balap karung, lomba memasak dan lain-lain. Pokoknya jangan UN.
Alasan kedua, ini terkait dengan masalah
pak Jokowi yang ingin menghidupkan kembali
industri kreatif. Dan industri kreatif biasanya lahir dari anak-anak
muda, tapi, bagaimana hal itu akan terjadi jika mereka sibuk mempersiapkan diri
untuk UN? Mungkin waktu yang dihabiskan untuk belajar bisa mereka lakukan untuk
berkarya seperti menghasilkan lagu, buku, atau bercocok-tanam. Namun ketika
mempersiapkan UN (yang telah saya katakan tidak berguna), waktu mereka pasti
menjadi habis dan mereka tidak menjadi kreatif.
Alasan ketiga, bagus untuk pertumbuhan
remaja. Pak Jokowi pasti tidak ingin jika anak-anak mudanya mengalami
keterpurukan gizi dan keterbelakangan mental karna sibuk memikirikan UN. Maka
dari itu, pak Jokowi harus menghapuskan UN, karna jika itu dilakukan, anak-anak
remaja Indonesia akan kembali sehat sejahtera.
Itulah alasan saya untuk menolak UN.
Mungkin alasan di atas terdengar tidak berguna karna memang demikian. Saya
yakin masih banyak alasan lain yang juga terlalu tidak penting.
Saya tau sepertinya Pak Jokowi sulit
untuk melaksanakan permintaan saya, karna belum genap memimpin setahun, sudah
berani menghapus UN. Tapi tak apa, Pak. Saya jamin akan aman-aman saja. Bapak
juga demikian. Baru berapa tahun menjadi Gubenur sudah jadi Presiden. Yang
perlu dilakukan sangat sederhana dan seperti yang pernah bapak lakukan; buatlah
pencitraan untuk menggiring opini publik. Undang pakar-pakar pendidikan ke
Metro TV dan suruh semuanya berkata jika UN harus dihapus. Tentu saja dengan
argumen-argumen yang kuat seperti jika UN tidak dihapus, akan ada kematian
massal siswa SMA atau jika UN tetap dilanjutkan maka harga tanah di Zimbabwe
akan naik dan berbagai alasan lainnya.
Jika bapak masih berat untuk mewujudkan,
sebut saja ini investasi untuk bapak. Menjadi Presiden tentu akan lebih sah
jika 2 kali masa jabatan dan untuk melakukan itu bapak harus tetap terkenal
hinggal 2019. Maka, jika bapak menghapuskan UN, saya yakin belasan juta Siswa
seperti saya dan teman-teman yang lain akan memilih kembali Pak Jokowi pada
2019, tentu saja ini semacam balas budi atas kebaikan dan belas kasih yang
bapak lakukan sehingga menyelamatkan masa muda kami. Impas kan pak?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar