Saya jadi malas buka twitter di siang hari beberapa
waktu belakangan karena timeline lagi sibuk-sibuknya berdebat tentang LGBT.
Saya tidak punya urusan dengan gay dan melihat orang lain berdebat tentang
mereka, saya malah jadi geli. Saya jadi geli karena mau tidak mau bukan
perdebatan yang saya dengarkan, tapi malah bayangan tentang bagaimana menjadi
seorang gay (semoga ini alamiah).
Kita memang menjadi sensitif sekaligus takut dengan
percintaan sesama jenis karena ia menabrak setidaknya 2 norma; agama dan
sosial. Jahanamnya, bila ia benar terjadi secara natural, barangkali juga
menabrak keinginan manusia itu sendiri.
Tapi lebih dari tabrak-tabrakan di atas, yang
membuat kita (atau setidaknya saya) menjadi geli adalah tidak ada yang
menyenangkan dari mengadu "barang" anda dengan manusia sesama jenis.
Tapi meski begitu, jangan juga anda berkelakar "lebih baik sama pantat
sapi."
Walaupun demikian, anda tak perlu menghujat saya
yang merasa geli karena urusan jijik atau tidak lagi-lagi perkara persektif.
Tidak ada bedanya dengan disuruh memilih mana yang lebih nikmat antara susu sapi
dan susu kambing. Ia adalah hal yang tidak bisa kita rasakan nikmatnya dari
persektif kita, tapi membuat mereka di seberang sana terus berteriak "Sekali
gesek bisa kale bang!!!"
Memang masalah LGBT bukan cuma perkara seksual dan
nafsu saja. Entah ada berapa juta sesuatu lain yang konslet di sana sehingga di
zaman semaju ini, kita masih harus dibingungkan dengan yang aneh-aneh begitu.
Kalau saya jujur malas menentukan sikap atas LGBT
ini. Sama seperti saya tidak menentukan sikap atas masalah rokok, miras, atau
hukuman mati. Kalaupun saya punya sikap atas masalah semacam ini, saya memilih
diam. Pengecut memang tapi lebih baik dari pada menghabiskan energi untuk
berdebat tanpa jelas ujungnya. Tentu dari sekian banyak argumen, pilihan untuk
menggunakan argumen agama yang membuat saya berfikir lebih baik banyak-banyak
ngaji dari pada ngurusin LGBT. Tapi seperti yang saya bilang, memilih diam bisa
jadi pengecut meski kebanyakan bicara juga tak membuat kita menjadi terlihat lebih
baik.
Jika ketika Paus dari Vatikan mengatakan, tidak
perlu membernarkan LGBT namun boleh mentoleransi mereka dalam kehidupan
masyarakat atas sumbangsihnya terhadap dunia, banyak didukung berbagai pihak,
itu wajar. Selain pernyataannya yang teduh, tidak menghakimini, dan tidak
dangkal seperti aktivis socmed, memang banyak para penganut LGBT yang punya
dampak besar di dunia yang dihuni oleh kita yang geli dengan pernikahan sesama
jenis. Sebut saja Alan Turing, bapak jenius si pemecah kode enigma yang tahun
lalu kisahnya telah difilmkan dalam The Imitation Game. Meski pada akhirnya ia
bunuh diri karena urusan batang dengan batang, ia tetap harus kita sejajarkan
pengaruhnya dengan pencipta lampu, penemu pesawat, bahkan sampai level paling
atas seperti orang yang pertama kali membuat kerupuk.
Adapun yang membuat saya benci mungkin dengan
lambang LGBT yang kenapa harus pelangi. Karena kita tahu sesama jenis itu satu
arah, maka ada baiknya ia dirayakan dengan satu warna. Dan usul saya, warna
yang digunakan adalah warna hitam. Sehingga ketika saya melihat pelangi, saya
tak perlu lagi merasa geli seperti saya melihat timeline twitter akhir-akhir
ini.



