Saya sudah ada
di dunia ini dari 25tahun 3bulan dan 19hari yang lalu, meskipun begitu tubuh
saya dari dulu sampai sekarang masih sekurus ini. Teman-teman saya mengejek
saya dengan julukan ceking. Hari ini saya akan kembali ke kota dimana saya SMA
dahulu, tepat 10tahun yang lalu, saya pernah diam disitu selama 3tahun dan
malam ini saya akan kembali untuk bertemu teman perempuan saya, dia teman saya
semasa SMA dan dia pula yang menemukan julukan ceking untuk saya.
Saat itu musim
penghujan sehingga saat akan bertemu dengannya saya harus memakai jaket, udara
dingin menemani saya menghampiri kafe tempat wanita itu telah menunggu. “Jln.
Ahmad Yani, Cafe Calista dekat pom bensin.” Begitu alamat yang diberikan oleh
teman saya melalui pesan singkat, tetapi sampai sekarang saya belum juga
menemukan cafe atau pun pom bensin di jalan tersebut. Hari sudah semakin sore, matahari
sudah mulai pergi ke belahan dunia lain dan para muslim sudah mulai berlalu-lalang
mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat maghrib. Saya belum juga
menemui tempat yang teman saya maksud itu, saya langsung menelponnya, setelah saya menelpon, dia baru mengatakan bahwa alamat yang dia beri salah. Dia
sengaja mengganti tempat pertemuan hanya untuk mengerjai saya. Sialan, ternyata
saya telah dibodoh-bodohi oleh perempuan.
Setelah sampai
ditempat yang ditentukan, saya langsung mencari meja nomor 14, meja dimana
wanita itu sudah menunggu. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk mencari meja
tersebut. Saya menghampiri dia dan seperti yang saya duga sebelumnya. Ia masih
cantik. Meskipun dia sering menganggu saya, harus saya sadari bahwa dia
memiliki wajah yang tak biasa. Mungkin perpaduan antara malaikat dan bidadari.
Belum saya
duduk, ia sudah mengejek saya dengan kalimat “ternyata kamu masih ceking, ya”
sambil tertawa. Saya hanya diam dan langsung duduk. Saya tidak melepas jaket
karna cuaca luar menyeruak ke dalam sehingga hampir semua pengunjung saat itu
melakukan hal yang sama seperti saya. Sedangkan wanita di depan saya ini juga
memakai jaket bahan rajut warna pink yang sangat-sangat cocok dengan sytle
ruangan Cafe tempat kami bertemu malam itu.
“jadi kita sudah
tidak bertemu hampir 4tahun dan kamu masih ceking?”. Ejeknya lagi.
“kamu ya, dari
dulu ngak berubah” balas saya sedikit kesal. Hanya sedikit karna saya tidak tega memarahi gadis secantik Dia.
Dia menepuk
tangannya kearah seorang pelayan yang tandanya kami akan memesan makanan. Saat
itu saya hanya memesan minuman karna kebetulan saya masih kenyang.
“memang ya,
orang ceking emang jarang makan” ejeknya lagi sambil melirik arah saya.
Mbak-mbak pelayan kampret juga ikut tertawa.
“jadi kamu gak
mau pesan makan nih?”tanya-nya untuk meyakinkan.
“enggak”
“aku yang
traktir lo”
“kamu yang
traktir? Aku masih belum tertarik”
“it’s ok”katanya
sambil memberi tahu pelayan bahwa tidak ada lagi yang akan kami pesan.
“eh renata, kamu
pas kuliah kemarin ngambil jurusan apa?” tanya saya membuka pembicaraan.
“aku? Aku
ngambil jurusan kebidanan, king. Kalo kamu?’
“kalo aku
ngambil jurusan jurnalis”
“oh bearti kamu
jago dokumentasi sesuatu gitu dong”
“ngak juga, tapi
bisalah kalo ada pasien kamu yang melahirkan terus saya jadi bagian
dokumentasi. hehe”
“hus
sembarangan, bisa sih, tapi setelah itu aku bisa-bisa gak punya pasien lagi”
balasnya sambil tertawa.
Mbak-mbak
pelayan datang membawa makanan yang kami pesan. Saya langsung meminum cappuccino
yang sedang panas itu untuk menghangatkan tubuh sedangkan Renata langsung
menyantap makanan yang ia pesan. Entah makanan apa itu, tapi dari namanya sudah
bisa dipastikan itu makanan luar negri. Saat itu jam sudah jam 7malam, hujan
gerimis mulai membahasahi jalanan diluar. Udara dingin semakin menggila dan
masuk kedalam pori-pori saya. Saya langsung mengancing jaket saya erat-erat
sambil menggepalkan tangan diatas meja persis seperti pengunjung lain.
‘kamu sekarang
semester berapa”tanyaku kepada Renata
“semester? kamu
ngejek aku? Kita udah kuliah 6 tahun lo, ya pasti aku udah lulus lah”
“kamu sih enak,
aku dari dulu belum lulus-lulus sampai sekarang”
“serius?”
“iya, dosennya
kayaknya ilfeel sama aku”
“mungkin karna
kamu terlalu kurus”. balansya tertawa
sambil memakan makanan dimejanya.
Wajah Renata
malam itu semakin cantik, ditambah angin berhembus yang membuat rambutnya
sedikit berterbangan. Benar-benar pemadangan yang eksotis. Tak perlu waktu yang lama
bagi saya untuk jatuh cinta padanya. Persis seperti yang saya rasakan kepadanya
beberapa tahun lalu saat kami masih duduk dibangku SMA.
“kamu sekerang
udah kerja?”
“udah, aku
kerjanya di salah satu rumah sakit besar dikota ini”
“rumah sakit
besar? Gajinya juga besar dong?” jawab saya becanda.
“ya gak besar
lah. Tapi cukup lah untuk traktir kamu selama beberapa hari disini. hahaha”
Renata kembali tersenyum. Saya juga melakukan hal yang sama sepertinya.
Hujan diluar
semakin kencang, jendela-jendela Cafe sudah mulai ditutup agar percikan air
hujan tidak masuk kedalam. Angin berhembus semakin kuat, masuk kedalam tebalnya
jaket saya. Saya kembali meminum Capucinno untuk menghangatkan badan. Renata
juga tampak kedinginan, wanita cantik ini mulai mengencangkan jaketnya dan
memasang sarung jari lucu untuk menghangatkan
jari-jari indahnya. Saya merasa bersalah
telah membiarkan wanita secantik itu kedinginan, tapi apa boleh buat, saya tak
bisa memeluknya agar dia hangat karna jika saya melakukan itu, sudah dipastikan
ujung high hills nya menempel di pipi saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar