Selasa, 28 Mei 2013

Pulang



Saya sudah ada di dunia ini dari 25tahun 3bulan dan 19hari yang lalu, meskipun begitu tubuh saya dari dulu sampai sekarang masih sekurus ini. Teman-teman saya mengejek saya dengan julukan ceking. Hari ini saya akan kembali ke kota dimana saya SMA dahulu, tepat 10tahun yang lalu, saya pernah diam disitu selama 3tahun dan malam ini saya akan kembali untuk bertemu teman perempuan saya, dia teman saya semasa SMA dan dia pula yang menemukan julukan ceking untuk saya.

Saat itu musim penghujan sehingga saat akan bertemu dengannya saya harus memakai jaket, udara dingin menemani saya menghampiri kafe tempat wanita itu telah menunggu. “Jln. Ahmad Yani, Cafe Calista dekat pom bensin.” Begitu alamat yang diberikan oleh teman saya melalui pesan singkat, tetapi sampai sekarang saya belum juga menemukan cafe atau pun pom bensin di jalan tersebut. Hari sudah semakin sore, matahari sudah mulai pergi ke belahan dunia lain dan para muslim sudah mulai berlalu-lalang mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat maghrib. Saya belum juga menemui tempat yang teman saya maksud itu, saya langsung menelponnya, setelah saya menelpon, dia baru mengatakan bahwa alamat yang dia beri salah. Dia sengaja mengganti tempat pertemuan hanya untuk mengerjai saya. Sialan, ternyata saya telah dibodoh-bodohi oleh perempuan.

Setelah sampai ditempat yang ditentukan, saya langsung mencari meja nomor 14, meja dimana wanita itu sudah menunggu. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk mencari meja tersebut. Saya menghampiri dia dan seperti yang saya duga sebelumnya. Ia masih cantik. Meskipun dia sering menganggu saya, harus saya sadari bahwa dia memiliki wajah yang tak biasa. Mungkin perpaduan antara malaikat dan bidadari.

Belum saya duduk, ia sudah mengejek saya dengan kalimat “ternyata kamu masih ceking, ya” sambil tertawa. Saya hanya diam dan langsung duduk. Saya tidak melepas jaket karna cuaca luar menyeruak ke dalam sehingga hampir semua pengunjung saat itu melakukan hal yang sama seperti saya. Sedangkan wanita di depan saya ini juga memakai jaket bahan rajut warna pink yang sangat-sangat cocok dengan sytle ruangan Cafe tempat kami bertemu malam itu.

“jadi kita sudah tidak bertemu hampir 4tahun dan kamu masih ceking?”. Ejeknya lagi.

“kamu ya, dari dulu ngak berubah” balas saya sedikit kesal. Hanya sedikit karna saya tidak tega memarahi gadis secantik Dia.

Dia menepuk tangannya kearah seorang pelayan yang tandanya kami akan memesan makanan. Saat itu saya hanya memesan minuman karna kebetulan saya masih kenyang.
 
“memang ya, orang ceking emang jarang makan” ejeknya lagi sambil melirik arah saya. Mbak-mbak pelayan kampret juga ikut tertawa.

“jadi kamu gak mau pesan makan nih?”tanya-nya untuk meyakinkan.

“enggak”

“aku yang traktir lo”

“kamu yang traktir? Aku masih belum tertarik”

“it’s ok”katanya sambil memberi tahu pelayan bahwa tidak ada lagi yang akan kami pesan.

“eh renata, kamu pas kuliah kemarin ngambil jurusan apa?” tanya saya membuka pembicaraan.

“aku? Aku ngambil jurusan kebidanan, king. Kalo kamu?’

“kalo aku ngambil jurusan jurnalis”
 
“oh bearti kamu jago dokumentasi sesuatu gitu dong”

“ngak juga, tapi bisalah kalo ada pasien kamu yang melahirkan terus saya jadi bagian dokumentasi. hehe”

“hus sembarangan, bisa sih, tapi setelah itu aku bisa-bisa gak punya pasien lagi” balasnya sambil tertawa.

Mbak-mbak pelayan datang membawa makanan yang kami pesan. Saya langsung meminum cappuccino yang sedang panas itu untuk menghangatkan tubuh sedangkan Renata langsung menyantap makanan yang ia pesan. Entah makanan apa itu, tapi dari namanya sudah bisa dipastikan itu makanan luar negri. Saat itu jam sudah jam 7malam, hujan gerimis mulai membahasahi jalanan diluar. Udara dingin semakin menggila dan masuk kedalam pori-pori saya. Saya langsung mengancing jaket saya erat-erat sambil menggepalkan tangan diatas meja persis seperti pengunjung lain.

‘kamu sekarang semester berapa”tanyaku kepada Renata

“semester? kamu ngejek aku? Kita udah kuliah 6 tahun lo, ya pasti aku udah lulus lah”

“kamu sih enak, aku dari dulu belum lulus-lulus sampai sekarang”

“serius?”

“iya, dosennya kayaknya ilfeel sama aku”

“mungkin karna kamu terlalu kurus”. balansya  tertawa sambil memakan makanan dimejanya.

Wajah Renata malam itu semakin cantik, ditambah angin berhembus yang membuat rambutnya sedikit berterbangan. Benar-benar pemadangan yang eksotis. Tak perlu waktu yang lama bagi saya untuk jatuh cinta padanya. Persis seperti yang saya rasakan kepadanya beberapa tahun lalu saat kami masih duduk dibangku SMA.

“kamu sekerang udah kerja?” 

“udah, aku kerjanya di salah satu rumah sakit besar dikota ini”

“rumah sakit besar? Gajinya juga besar dong?” jawab saya becanda.

“ya gak besar lah. Tapi cukup lah untuk traktir kamu selama beberapa hari disini. hahaha” Renata kembali tersenyum. Saya juga melakukan hal yang sama sepertinya.

Hujan diluar semakin kencang, jendela-jendela Cafe sudah mulai ditutup agar percikan air hujan tidak masuk kedalam. Angin berhembus semakin kuat, masuk kedalam tebalnya jaket saya. Saya kembali meminum Capucinno untuk menghangatkan badan. Renata juga tampak kedinginan, wanita cantik ini mulai mengencangkan jaketnya dan memasang sarung jari  lucu untuk menghangatkan jari-jari  indahnya. Saya merasa bersalah telah membiarkan wanita secantik itu kedinginan, tapi apa boleh buat, saya tak bisa memeluknya agar dia hangat karna jika saya melakukan itu, sudah dipastikan ujung high hills nya menempel di pipi saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar