Saya kurang percaya dengan yang namanya kebetulan,
tapi masih yakin dengan sesuatu bernama keberuntungan. Entah keduanya sama atau
tidak, saya tidak tahu. Yang pasti akhir-akhir ini saya merasa agak
beruntung.
Keberuntungan pertama saya lulus SNMPTN. Sebenarnya
saya tidak mau bilang ini beruntung, tapi setelah kaget melihat tidak terlalu
banyak yang lulus, ya saya harus merasa demikian. Beberapa teman yang kualitas
intelektualnya jauh diatas saya ada yang sial karena tidak lulus, sedang saya,
yang 3 tahun pelajaran tetap tidak mengerti 1 bagianpun dari pelajaran Kimia,
bisa lulus. Tentu ini yang namanya keberuntungan. Untuk tidak menjadi curiga
jangan-jangan panitia SNMPTN masih ada yang keluarga dekat saya.
Jelas saya tidak bisa bangga dengan hal ini. Merasa
bahagia pun saya tidak meski tetap bersyukur. Berbeda dengan kedua orang tua
yang cukup senang. Ya andai anda ikut orang tua anda berburu dan menembak
seekor kijang yang mabuk daun ganja hingga tidak mampu berjalan pun mereka
pasti tetap bangga. Membahagiakan orang tua memang mudah yah hehe
Keberuntungan kedua saya lulus UN dengan nilai yang
di atas prediksi saya. Awalnya karena sadar otak yang cekak, saya menargetkan mendapat
nilai rata-rata di sekitaran 5. Karena tahun ini kelulusan ditentukan sekolah,
tentu nilai itu cukup realistis bagi saya. Tapi Alhamdullilah hasilnya lebih
tinggi 1 angka dari target saya. Juga lebih tinggi dari beberapa teman dekat
saya sehingga saya tidak jadi korban bully ketika ngumpul. Saya tentu merasa
bersyukur untuk hal ini meski bagi anak-anak yang IQ nya 4 digit, nilai saya
tetap saja hina.
Tidak ada yang bisa membanggakan memang dari kedua
hal yang saya anggap beruntung itu. Setidaknya menurut saya sendiri. Apalagi
ditambah situasinya yang begini; saya sadar tidak melakukan apa-apa. Hanya
menjalani sesuatu yang sudah menjadi kewajiban. Mendaftar SNMPTN lalu mengikuti
UN. Dan hasilnya ternyata diluar ekspetasi saya. Selesai dan jelas itu
beruntung.
Berbeda dengan jika saya belajar sungguh-sungguh.
Menghapal rumus dari pagi sampai malam. Mengerjakan UN dengan khusyuk dan
sebaik-baiknya. Lalu lulus dengan hasil yang memuaskan. Mungkin jika situsinya
begini saya akan bahagia. Bahkan bisa jadi sujud syukur 3 hari 3 malam. Yang membedakan
keduanya cuma satu; usaha.
Di situasi pertama saya tidak ada usaha. Hanya
mengikuti yang semestinya dan ketika mendapatkan hasil yang cukup baik,
langsung saja sadar itu keberuntungan. Tentu dungu jika saya menganggap itu
hasil kerja keras. Berbeda dengan situasi kedua yang ada usaha. Setidaknya
melakukan sesuatu yang menunjukkan ada kesungguhan. Sialnya, saya jelas ada
pada situasi pertama.
Lagipula yang menyedihkan dari situasi pertama
adalah sampai kapan saya harus dilindungi keberuntungan. Bayangkan jika
keberuntungan saya habis dan yang tersisa hanya kesadaran hal itu tidakk dapat
diulangi kembali. Tentu tidak akan mengenakkan.
Behubung saya merasa keberuntungan ada batasnya dan
mungkin ini yang terakhir, saya pun merasa sudah seharusnya serius sedikit. Ya
paling tidak menunjukkan usaha yang belakangan ini saya sudah lupa bagaimana
rasanya.
Tapi tentu yang paling penting adalah hasil dari
keberuntungan ataupun hasil dari kerja keras, keduanya harus kita disyukuri.
Karena bersyukur adalah koentji!
iya, dapat segini aja udah bilang beruntung. hina memang..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar