Hari Sabtu minggu lalu, sekolah saya
menyelenggarakan acara perpisahan anak kelas 3. Dan beberapa hari sebelum acara
dilaksanakan, saya berfikir untuk memposting tulisan tentang itu setelah
acaranya selesai. Tentu saja di blog ini. Tapi sampai berhari-hari kemudian,
saya tak mendapatkan alasan mengapa saya harus menuliskannya. Barangkali acara
itu kurang emosional bagi saya, atau mungkin terlalu biasa saja, atau
barangkali juga saya lagi malas ngetik waktu itu.
Sebenarnya saya tidak tahu apa makna dibalik sebuah
perpisahan. Yang saya tahu, semua dari kami tidak pernah benar-benar pergi.
Karena kota kami kecil, terlampau mudah untuk menemukan teman-teman seangkatan
tanpa harus terjebak dalam drama melankoli yang bikin nangis bermalam-malam.
Tapi saya lupa, ada satu yang pasti terjadi dalam sebuah perpisahan: akan
ada kenangan yang selalu diingat hingga berhari-hari berikutnya. Dan akan
muncul ketika sepi datang, lalu menumbuhkan perasaan nostalgia di malam-malam
yang pasti akan sangat kita benci.
Ternyata perpisahan yang saya (dan mungkin semua anak lelaki
angkatan kami) anggap biasa, berbeda dengan teman-teman wanita. Anak laki-laki
cenderung woles-woles saja. Santai bahkan masih sempat mengeluarkan caci-maki
ketika salam-salaman. Berbeda dengan wanita yang harus nangis sekaligus menahan
kesal karena make up diwajah mereka jadi tidak karuan (maklum pakai kebaya).
Tapi disinlah konon bahayanya laki-laki. Menurut
pengamat percintaan twitter, ketika sebuah hubungan berakhir, sang wanita akan
menangis semalaman dan si lelaki hanya biasa-biasa saja. Namun berbeda di
bulan-bulan kemudian; ketika si wanita telah move on dengan tangan lelaki lain
mengelus pundaknya, sang mantan yang kemarin biasa saja itu bisa jadi sedang
sedih-sedihnya karena baru sadar ada sebuah kebiasaan indah yang hilang.
Hal ini barangkali sejalan dengan perpisahan anak
SMA. Ketika murid wanita lebih ekspresif dengan tangis yang berdarah-darah di
hari H, murid lelaki mungkin baru akan terserang perasaan nostalgik itu setelah
berminggu-minggu lamanya. Sesuatu yang datang secara tiba-tiba dan tak dapat
ditawar-tawar. Sesuatu yang konon membuat pikiran kita remuk redam karena
kenapa semua jadi cepat berlalu. Dan yang paling penting; kenapa kemarin gak
ikutan nangis.
Tapi tentu saya berharap itu tidak terjadi kepada
saya. Karena mengingat kenangan itu gak enak dan menyebalkan. Lebih menyebalkan
dari tobat sebentar waktu dengar ceramah pak ustad, tapi maksiat lagi berjam-jam
setelahnya.
Sekarang yang harus saya lakukan hanya memikirkan
masa depan sambil terus begadang di malam harinya karena udah gak sekolah. Juga
saya harus rajin-rajin ke kantor polisi untuk mengurus surat menyurat yang
diperlukan buat kuliah (ini bagian yang paling saya benci). Dan ya, saya juga
harus lebih banyak waktu buat baca karena ini waktu yang tepat untuk
menghabiskan stok buku yang belum disentuh dari dulu-dulu.
Terakhir, ini ada foto saya saat perpisahan bersama calon finalis
Dangdut Academy. Teman baik yang juga korban bully saya di kelas ini punya
skill dangdut di atas rata-rata remaja seusianya. Sebenarnya tidak hanya
dangdut karena ia juga jago dalam berbagai genre. Bahkan ketika hari terakhir
kami belajar di kelas, dengan gagah berani ia menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.
Sungguh tiada banding...
mantabzzz

Tidak ada komentar:
Posting Komentar