Kamis, 08 Oktober 2015

#ReviewPelem: The Martian



Akhir-akhir saya merasa goblok setengah mampus. Sejak masuk kuliah, kebiasaan saya semasa SMA benar-benar hilang. Jika waktu SMA saya tahan membaca berlembar-lembar cerita dari penulis latin atau mengikuti kisah reportase di timur tengah hingga bermalam-malam, sekarang, untuk sekadar membaca blurb buku pun saya malas. Begitu pun dengan kebiasaan nonton film yang sudah jauh berkurang. 

Hari-hari saya kini lebih banyak dihabiskan dengan main laptop atau nyantai sama kawan kuliah sambil ngomongin gerakan yang gak penting-penting amat. Aktivitas yang paling dekat dengan penyegaran otak paling-paling ngikutin berita StartUp atau iseng belajar bahasa pemograman di website-website e-learning. Itu pun karena saya kuliah jurusan begituan jadi ya gitu...

Karena itu, saya berusaha menggali lagi (((menggali lagi))) kecintaan saya pada dua ilmu paling penting sejagad raya: Sastra dan Film. 

Saya pun mulai cari-cari buku di toko buku, dan nonton film yang sedang diputar. Setelah gagal menemukan buku yang menarik dan hanya membeli buku Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia (itupun karena ada tulisan saya hheee), saya akhirnya menonton film yang lagi hits; The Martian.

Film garapan Ridley Scott ini pas saya baca reviewnya memang lumayan bagus. Kisah yang menceritakan perjalanan Mark Watney (Matt Damon) yang hidup sendirian di MARS karena suatu insiden.

Awal mulanya, saya cukup tertarik dengan film ini. Di scene-scene awal, The Martians bagi saya, cukup berhasil melawan arus klise film dengan tema luar angkasa dengan menceritakan bagaimana Watney bertahan hidup di Mars. Mulai dari cara ia menanam kentang sampai proses menghasilkan air di planet antah berantah. Semua dijelaskan dengan sederhana dan sangat menarik.

Tapi saya tau pembuka semacam itu tidak akan bertahan lama karena ini bukan kisah tutorial cara bertahan hidup di MARS, melainkan film luar angkasa yang sudah barang tentu ujung-ujungnya menguras emosi dan penuh tentangan.

Dalam sekejap, The Martian, seperti kisah luar angkasa lain yang sudah saya tonton, mulai menceritakan tentang perhitungan-perhitungan yang salah, lalu para tokohnya yang mulai putus asa, hingga kemudian melakukan titik balik yang begitu heroik.

Dalam taraf tertentu, meski bagus, The Martian tidak terlalu menarik perhatian saya (saya nguap beberapa kali). Saya bahkan ingin bilang The Martian tidak lebih bagus dari Intersellar. Sebagai penonton yang malas membedah hitung-hitungan sebuah film secara serius, saya masih menjagokan karya Nolan itu sebagai sesuatu yang lebih menguras emosi dan menimbulkan banyak pertanyaan setelahnya. Dua hal yang kurang saya dapatkan di The Martian.

Seperti yang saya bilang di atas, The Martian cukup mengesankan di awal, tapi gagal menarik perhatian saya hingga akhir. Saya sebetulnya berharap Michael Pena ikut terjebak di Mars. Sebagai penonton yang selalu nyari-nyari scene lucu, saya berfikir mungkin kehadiran dia bakal bikin film ini jauh lebih menghibur.

Kalaupun ada yang paling menarik perhatian saya dalam The Martian adalah bagaimana sains dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana oleh film ini. Gak banyak pernyataan-pernyataan yang bikin kening berkerut. Masih banyak lagi sih sebenernya seperti misalnya mbak Mackenzie Davis yang cantiknya MasyaAllah. 

Tapi untuk keseluruhan, The Martian bagi saya biasa aja. Sama biasanya seperti review saya yang gak jelas dan gak layak dianggap review ini. Terakhir, kalaupun anda ingin pesan di tulisan ini, saya cuma bisa bilang; jangan pernah punya cita-cita jadi astronout.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar