Akhir-akhir saya merasa goblok setengah mampus.
Sejak masuk kuliah, kebiasaan saya semasa SMA benar-benar hilang. Jika waktu
SMA saya tahan membaca berlembar-lembar cerita dari penulis latin atau
mengikuti kisah reportase di timur tengah hingga bermalam-malam, sekarang,
untuk sekadar membaca blurb buku pun saya malas. Begitu pun dengan kebiasaan
nonton film yang sudah jauh berkurang.
Hari-hari saya kini lebih banyak dihabiskan dengan
main laptop atau nyantai sama kawan kuliah sambil ngomongin gerakan yang gak
penting-penting amat. Aktivitas yang paling dekat dengan penyegaran otak paling-paling
ngikutin berita StartUp atau iseng belajar bahasa pemograman di website-website
e-learning. Itu pun karena saya kuliah jurusan begituan jadi ya gitu...
Karena itu, saya berusaha menggali lagi (((menggali
lagi))) kecintaan saya pada dua ilmu paling penting sejagad raya: Sastra dan
Film.
Saya pun mulai cari-cari buku di toko buku, dan
nonton film yang sedang diputar. Setelah gagal menemukan buku yang menarik dan
hanya membeli buku Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia (itupun karena
ada tulisan saya hheee), saya akhirnya menonton film yang lagi hits; The
Martian.
Film garapan Ridley Scott ini pas saya baca
reviewnya memang lumayan bagus. Kisah yang menceritakan perjalanan Mark Watney
(Matt Damon) yang hidup sendirian di MARS karena suatu insiden.
Awal mulanya, saya cukup tertarik dengan film ini.
Di scene-scene awal, The Martians bagi saya, cukup berhasil melawan arus klise
film dengan tema luar angkasa dengan menceritakan bagaimana Watney bertahan
hidup di Mars. Mulai dari cara ia menanam kentang sampai proses menghasilkan
air di planet antah berantah. Semua dijelaskan dengan sederhana dan sangat
menarik.
Tapi saya tau pembuka semacam itu tidak akan
bertahan lama karena ini bukan kisah tutorial cara bertahan hidup di MARS,
melainkan film luar angkasa yang sudah barang tentu ujung-ujungnya menguras
emosi dan penuh tentangan.
Dalam sekejap, The Martian, seperti kisah luar
angkasa lain yang sudah saya tonton, mulai menceritakan tentang perhitungan-perhitungan
yang salah, lalu para tokohnya yang mulai putus asa, hingga kemudian melakukan titik
balik yang begitu heroik.
Dalam taraf tertentu, meski bagus, The Martian tidak
terlalu menarik perhatian saya (saya nguap beberapa kali). Saya bahkan ingin bilang The Martian tidak
lebih bagus dari Intersellar. Sebagai penonton yang malas membedah
hitung-hitungan sebuah film secara serius, saya masih menjagokan karya Nolan
itu sebagai sesuatu yang lebih menguras emosi dan menimbulkan banyak pertanyaan
setelahnya. Dua hal yang kurang saya dapatkan di The Martian.
Seperti yang saya bilang di atas, The Martian cukup
mengesankan di awal, tapi gagal menarik perhatian saya hingga akhir. Saya
sebetulnya berharap Michael Pena ikut terjebak di Mars. Sebagai penonton yang selalu
nyari-nyari scene lucu, saya berfikir mungkin kehadiran dia bakal bikin film
ini jauh lebih menghibur.
Kalaupun ada yang paling menarik perhatian saya
dalam The Martian adalah bagaimana sains dapat dijelaskan dengan cara yang
sederhana oleh film ini. Gak banyak pernyataan-pernyataan yang bikin kening
berkerut. Masih banyak lagi sih sebenernya seperti misalnya mbak Mackenzie Davis
yang cantiknya MasyaAllah.
Tapi untuk keseluruhan, The Martian bagi saya biasa
aja. Sama biasanya seperti review saya yang gak jelas dan gak layak dianggap
review ini. Terakhir, kalaupun anda ingin pesan di tulisan ini, saya cuma bisa
bilang; jangan pernah punya cita-cita jadi astronout.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar