Sebagai remaja tanggung yang selama hidup merasa makan
indomie dengan cabe rawit 5 biji sebagai pengalaman paling ekstrem, saya
langsung merasa semua itu bukan apa-apa ketika mengikuti agenda STAR 24-26
Desember lalu.
Sebagai penjelasan singkat, STAR adalah kegiatan
kegamaan dari lembaga dakwah di fakultas saya yang isinya adalah studi atau
belajar di alam terbuka. Kegiatan ini, dengan segala agendanya, berhasil
menggeser aktivitas makan indomie dengan cabe rawit tadi sebagai hal paling
greget pada hidup saya.
Awalnya, sebagai mahkluk yang percaya bahwa
malas-malasan adalah sebaik-baiknya aktivitas, saya jelas menolak untuk
bergabung menjadi peserta STAR. Terlebih ketika mendengar isi-isi kegiatannya
dari berbagai mulut, membuat saya yakin kalau kegiatan itu tidak akan saya ikuti
bagaimana pun caranya.
Tapi sebagaimana hidup, takdir selalu berkata lain.
Menjelang penutupan pendaftaran peserta, saya akhirnya mendaftar dengan alasan
solidaritas antar kawan angkatan dan karena
sedikit masukan dari senior.
Karena sudah terlanjur ambil bagian, perasaan
ogah-ogahan pun saya usahakan buang jauh-jauh. Hari demi hari saya saya gunakan
untuk menyesal memantapkan ikhtiar agar semuanya terasa mudah. Karena jika
tidak begitu, pastilah kegiatan tersebut akan saya lalui dengan berat. Apalagi
kegiatan dilakukan di luar kota dan selama 3 hari.
Akhirnya setelah beberapa waktu, hari H kegiatan pun
tiba. Semua sudah saya siapkan. Niat pun IsnyaAllah sudah bukan lillahi paksaan
lagi. Saya berusaha menjalani 3 hari ke depan dengan semangat ala-ala pejuang
jihad yang ingin merebut kembali tanah impiannya. Sebuah perjalanan serupa
ziarah ke tempat yang telah lama dirindukan. Sembari terus memompa nyali agar
diam-diam tidak ciut.
Dan ketika kegiatan dilakukan, saya merasa perasaan
malas yang saya miliki di awal sungguh hilang seketika. Setelah dilalui, acara
ini ternyata tidak buruk-buruk amat. Kami berkemah di sisi pantai, dan tidur di
tenda berisi 70an orang. Yang lebih mengasyikkan tentu ketika hiking ke atas
bukit tepat jam 12 malam dan di malam jum’at melalui medan yang bisa dibilang
lumayan bahaya. Sungguh greget sekali. Tapi semua terbayarkan ketika sampai di
puncak. Hamparan laut serta pendar kemerahan lampu kota Singkawang pada subuh hari ternyata serupa melihat adegan JAV secara lansgung. Benar-benar bikin
orgasme di tempat. Diam-diam, saya mulai menikmati kegiatan ini. Berbagai
agenda lain pun sangat baik. Semisal simulasi masuk neraka yang meski agak aneh,
tapi seru juga.
Setelah mengikuti kegiatan ini, jelas saya belajar
banyak hal. Bahwa sesungguhnya saya masih perlu belajar lebih banyak untuk bisa
menerima semuanya dari berbagai sisi. Apalagi acara ini sangat bagus untuk
membunuh sikap-sikap egois pada diri saya yang mungkin sangat banyak. Dan tanpa disadari, saya belajar menjadi manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar