Kamis, 22 Januari 2015

3 Bulan Menjelang UN dan Selfie Felix Siauw



Kurang lebih 3 bulan lagi saya akan menjalankan cobaan terbesar semasa remaja, yaitu UN. Namun sampai sekarang, niat untuk belajar pun belum ada. Asu betul memang saya ini. Teman-teman yang lain juga sama. Barangkali kami ditakdirkan untuk goblok berjamaah.

UN seringkali diidentikkan dengan ketakutan. Setahun yang lalu saya merasa kekhawatiran kakak kelas menjelang UN hanya dilebih-lebihkan. Namun tahun ini saya merasakan sendiri bahwa sedikit banyak hal itu memang benar. UN memang menyeramkan, tentu bagi mereka yang kualitas otaknya agak memprihatinkan seperti saya.

Dari hasil survey lembaga manapun pasti akan ditemukan bahwa berubah untuk ingin belajar hanya sebatas niat saja.  Tak pernah lebih. 1 tahun yang lalu saya pernah berjanji akan belajar sungguh-sungguh beberapa bulan sebelum UN. Namun sekarang jangankan belajar, buku catatan penting hilang saja saya biarkan.

Memang tahun ini untuk lulus UN tidak susah-susah amat. Sekolah punya hak untuk meluluskan siswanya, tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Namun tetap saja itu tak menghilangkan sisi bangsat dari UN. Ketakutan sekarang sudah bukan lagi lulus atau tidak, melainkan masuk PTN atau ngak. Konon berhembus kabar nilai UN akan jadi syarat penentu masuk ke universitas. Tapi ini masih konon. Belum ada kepastian. Masih rentan kena PHP.

Menjelang UN begini juga banyak cara yang dilakukan semesta untuk mengingatkan remaja-remaja agar berhenti melakukan hal tak penting. Misalnya beberapa hari lalu, melalui Pak Ustad Felix Siauw para remaja diingatkan agar tak usah sering-sering selfie. Tentu Pak Felix berargumen bahwa itu bisa mendekati Ujub dan sebagainya. Namun lebih dari itu, peringatan itu menyimpan misi penting; agar remaja yang akan UN berhenti selfie. Ya, Pak Felix Siauw rela dibully netizen agar kita menjadi sadar bahwa belajar jauh lebih baik. Syukur-syukur bisa lulus dengan nilai memuaskan. Makasih, Pak Ustad.

Lagi pula menurut saya yang jika selfie selalu cepat-cepat menekan tombol delete, perbuatan memfoto diri sendiri itu memang tidak baik. Selfie sungguh dekat dengan kepalsuan, sebagaimana pesan para filsuf terdahulu “Di mana ada selfie, di situ ada Camera 360.”

Ya, selfie mengajarkan kita untuk tak jujur pada diri sendiri dan kurang bersyukur. Jangan anggap remeh hal itu. Dengan menambah kontras agar lebih terang saja sebenarnya sudah termasuk sikap kita yang tak bersyukur terhadap cahaya yang telah ada. Seharusnya jika ingin selfie, lakukanlah dengan semestinya. Sekali klik langsung save. Jangan diedit-edit lagi. Karena selain membuat foto lebih orisinil, hal itu juga menghidari kekecewaan pasangan anda yang di luar kota ketika kalian bertemu.

Wah jadi ngelantur ke selfie begini. Kembali ke UN tadi, semoga saya bisa menemukan kembali motivasi belajar saya yang telah lama hilang ditelan buku-buku bacaan. Kadang saya bertanya lebih baik belajar atau baca buku?

Bangsat... Felix Siauw saja pasti tau jawabannya apa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar