Kurang lebih 3 bulan
lagi saya akan menjalankan cobaan terbesar semasa remaja, yaitu UN. Namun
sampai sekarang, niat untuk belajar pun belum ada. Asu betul memang saya ini.
Teman-teman yang lain juga sama. Barangkali kami ditakdirkan untuk goblok
berjamaah.
UN seringkali
diidentikkan dengan ketakutan. Setahun yang lalu saya merasa kekhawatiran kakak
kelas menjelang UN hanya dilebih-lebihkan. Namun tahun ini saya merasakan
sendiri bahwa sedikit banyak hal itu memang benar. UN memang menyeramkan, tentu
bagi mereka yang kualitas otaknya agak memprihatinkan seperti saya.
Dari hasil survey
lembaga manapun pasti akan ditemukan bahwa berubah untuk ingin belajar hanya
sebatas niat saja. Tak pernah lebih. 1
tahun yang lalu saya pernah berjanji akan belajar sungguh-sungguh beberapa
bulan sebelum UN. Namun sekarang jangankan belajar, buku catatan penting hilang
saja saya biarkan.
Memang tahun ini untuk
lulus UN tidak susah-susah amat. Sekolah punya hak untuk meluluskan siswanya,
tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Namun tetap saja itu tak menghilangkan
sisi bangsat dari UN. Ketakutan sekarang sudah bukan lagi lulus atau tidak,
melainkan masuk PTN atau ngak. Konon berhembus kabar nilai UN akan jadi syarat
penentu masuk ke universitas. Tapi ini masih konon. Belum ada kepastian. Masih
rentan kena PHP.
Menjelang UN begini
juga banyak cara yang dilakukan semesta untuk mengingatkan remaja-remaja agar
berhenti melakukan hal tak penting. Misalnya beberapa hari lalu, melalui Pak
Ustad Felix Siauw para remaja diingatkan agar tak usah sering-sering selfie.
Tentu Pak Felix berargumen bahwa itu bisa mendekati Ujub dan sebagainya. Namun
lebih dari itu, peringatan itu menyimpan misi penting; agar remaja yang akan UN
berhenti selfie. Ya, Pak Felix Siauw rela dibully netizen agar kita menjadi
sadar bahwa belajar jauh lebih baik. Syukur-syukur bisa lulus dengan nilai
memuaskan. Makasih, Pak Ustad.
Lagi pula menurut saya
yang jika selfie selalu cepat-cepat menekan tombol delete, perbuatan memfoto
diri sendiri itu memang tidak baik. Selfie sungguh dekat dengan kepalsuan,
sebagaimana pesan para filsuf terdahulu “Di mana ada selfie, di situ ada Camera
360.”
Ya, selfie mengajarkan
kita untuk tak jujur pada diri sendiri dan kurang bersyukur. Jangan anggap
remeh hal itu. Dengan menambah kontras agar lebih terang saja sebenarnya sudah
termasuk sikap kita yang tak bersyukur terhadap cahaya yang telah ada. Seharusnya
jika ingin selfie, lakukanlah dengan semestinya. Sekali klik langsung save.
Jangan diedit-edit lagi. Karena selain membuat foto lebih orisinil, hal itu
juga menghidari kekecewaan pasangan anda yang di luar kota ketika kalian
bertemu.
Wah jadi ngelantur ke
selfie begini. Kembali ke UN tadi, semoga saya bisa menemukan kembali motivasi
belajar saya yang telah lama hilang ditelan buku-buku bacaan. Kadang saya
bertanya lebih baik belajar atau baca buku?
Bangsat... Felix Siauw
saja pasti tau jawabannya apa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar