***
Beberapa waktu yang lalu, seorang
teman menghampiri saya dengan gaya yang sangat tidak biasa. Wajahnya
muram, kusut, dan lebih jelek dari biasanya. Sepertinya ia baru patah
hati atau sejenisnya. Saya membiarkan ia duduk dengan tenang terlebih
dahulu. Baru kemudian saya menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ia
mengambil napas panjang, wajahnya menatap kosong ke arah lain, dan
tiba-tiba berkata, “JKT 48 sudah tidak seperti yang dulu lagi, Ham.”
Asu! Saya terkejut bukan main. Lalu saya ikut tertunduk lesu. Gebetan
saya juga tidak seperti yang dulu. Eh, tapi nanti saja curhatnya.
Sekarang ada orang yang lebih patah hati daripada saya.
“Memangnya sekarang kenapa?” tanya saya penuh selidik. Teman saya, yang WOTA sejak dalam kandungan
itu, masih menghadap ke arah lain sambil menatap nanar. Wajahnya putus
asa, seakan sadar dua ujung bumi sedang bergerak menyatu.
“Personilnya
sekarang kurang aktif di twitter,” jawabnya lemas. Saya pritahin juga
saat itu. Bagi dia, juga saya, yang jarak tempat tinggalnya dengan JKT
48 sejauh Zimbabwe ke Jepang, tentu twitter adalah satu-satunya cara
untuk berinteraksi dengan kakak-kakak lucu itu.
Sebenarnya,
saya sudah melihat gelagat yang sama sejak beberapa bulan lalu. Entah
kenapa, personil JKT 48 yang dahulu begitu aktif, sekarang mulai
menurunkan intensitas ngetwit-nya. Kalau dulu belasan twit per hari,
sekarang selalu dibawah 10. Kalaupun di atas 10, itu pasti ada event
besar atau sedang ngebuzz iklan kondom libur latihan. Kegiatan tanya-jawab bersama follower pun jarang dilakukan. Barangkali akan punah beberapa waktu ke depan.
Performa
mereka yang sintal dan bergairah di atas panggung seolah tak lagi
sebanding dengan kehidupan mereka di dunia maya. Padahal, sebagai public
figure, mereka harus bisa membagi waktu karena tak semua fans dapat
bertatap langsung dan seringkali harus menggunakan gajet untuk melihat
sang idola. Seperti teman saya yang satu ini.
Lantas,
tertekan kepedihan batin untuk menolong sahabat karib, saya membuat
analisis tajam mengapa personil JKT 48 bertindak demikian jauh
sampai-sampai melupakan kehidupan twitter yang banyak diisi para jomblo ngenes yang diisi banyak WOTA dari luar Jakarta.
Pertama, saya kira ini hanya perang urat saraf atau psy war. Bisa
jadi, ini hanya akal-akalan personil JKT 48 untuk membangun citra
mereka telah lelah bermain twitter, sambil menjalankan strategi lain
yang jauh lebih penting: muncul pada waktunya. Ya, saya yakin dalam masa
senyap ini, personil JKT 48 tengah mempersiapkan amunisi yang pada
akhirnya akan mereka limpahkan di waktu yang tepat hingga membuat jagat
timeline penuh dengan twitpic-twitpic bidadari duniawi.
Kedua,
tak ingin terbawa arus. Tahun 2014 adalah tahun politik, orang yang
sehari-hari hanya membuka twitter sebelum tidur bisa berubah jadi maniak
twitter karena keasikan menonton twitwar yang tak kunjung usai. Dengan
situasi konflik seperti ini, personil JKT 48 pastinya tak ingin terbawa
arus yang kian deras. Mereka sepertinya tak mau menjadi Jonru-jonru selanjutnya–meski menjadi Jonru adalah impian semua umat.
Saya
tidak bisa membayangkan jika JKT 48 tetap aktif bermediasosial di tahun
politik. Mungkin jika itu terjadi, Nabilah tak lagi mengingatkan kita
untuk salat Maghrib, melainkan kultwit mengenai Kebijakan Jokowi Menaikkan Harga BBM serta Pengaruhnya terhadap Harga Tiket Teater JKT 48.
Ketiga, mereka terkena mojokismelysis syndrome. JKT
48 adalah idol group terkenal, punya jutaan, dan itu artinya; mereka
tak punya banyak waktu luang. Biasanya, sebagai public figure, mereka
menggunakan waktu senggangnya untuk melakukan hal lain seperti misalnya
menyapa jagat sosial media sambil melampirkan twitpic terbaik. Namun,
dengan adanya situs kekinian lintas benua seperti Mojok.co yang penuh
daya tarik, mereka pasti keasikan membaca artikel-artikel yang ada di
sana. Tak pelak lagi, media sosial yang awalnya adalah tujuan utama
untuk mengisi waktu senggang jadi tersingkirkan karena terbius oleh
Mojok.co. Dan menurut perhitungan saya, ada 496 juta manusia lain yang
juga terjangkit sindrom mojokismelysis.
Teman saya mengganguk paham mendengar penjelasan saya. Ia kemudian pulang dengan hati yang lebih tenang dan ikhlas.
Keesokan
harinya, ia datang kembali. Wajahnya ceria, tak lagi muram, tapi tetap
jelek. Ia melambai-lambaikan tangan kepada saya, dan saya tentu tidak
membalas karena takut muncul kecurigaan dari masyarakat bahwa kami
pasangan haram di mata Tuhan.
Tak
perlu saya tanya mengapa, ia bercerita sendiri penyebab ia bisa
menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mengatakan telah menemukan
idola baru. Wanita liberal, cantik dan menawan, artis internasyenel,
punya channel dengan produser kelas neraka
dunia dan kabarnya tak lama lagi akan segera bermain film. Kabarnya
pula, artis ini pernah menggelar konser di lautan Atlantik, ditemani
malam berbintang serta dimanjakan dengan kemunculan Paus Biru. Lebih
dari itu, yang membuat teman saya terbius; ia aktif di twitter dan
sering twitpic.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Saya
terpaku, penuh tanda tanya, siapakah wanita menggairahkan nan
sensaional itu. Lantas, karena ini bersifat rahasia negara tingkat
tinggi, teman saya menulis di kertas dan memberikan username twitter-nya
secara diam-diam.
Subhanallah, wanita itu @dijahyellow.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar