Saya tak henti-hentinya menitikkan air mata ketika
di tengah-tengah kekacauan bangsa, ada dua nama yang entah sengaja atau tidak, meski
saling berselisih pada banyak kesempatan, tetap bisa bersahabat dengan baik.
Dua orang ini ialah Kak Nazar dan Bang Syaiful Jamil.
Jika anda termasuk orang yang masih optimistis
dengan geliat dangdut nasional, anda pasti sering menonton Dangdut Academy.
Acara pencarian biduan teranyar ini sekaligus menjadi tempat dua kubu beda
ideologi bertemu; Kak Nazar dan Bang Ipul.
Hal itu bukan tuduhan tanpa alasan. Pasalnya, dalam
tiap kesempatan, Kak Nazar dan Bang Ipul selalu beda pendapat. Dalam hal
sekecil apapun, mereka berdua selalu menolak sama. Tak jarang situasi memanas
jika keduanya sudah beradu argumen. Namun tahukah anda, di acara lain, dengan
talkshow bernama Duo Pedang, Kak Nazar dan Bang Ipul tampil bersama sebagai
pembawa acara dengan sangat kompak, syahdu, dan aduhai. Seolah-olah diantara
mereka tak pernah terjadi perselihan.
Ya, acara Duo Pedang tak bisa hanya dihikmati
sebagai acara murahan, melainkan tempat sakral di mana dua orang yang terlampau
sering saling sangkal, bisa dipertemukan layaknya sahabat karib. Hal yang
agaknya mustahil dilakukan pada mereka yang bertikai saat ini.
Perselisihan yang ada sekarang sudah bukan lagi
untuk mencari jalan keluar, melainkan sebagai ajang saling keras kepala. Merasa
diri paling benar. Paling baik. Paling bersih dan paling-paling yang lain.
Sebuah sikap yang sungguh jauh dari kepribadian Kak Nazar dan Bang Ipul.
SubhanAllah.
Ambil contoh Pak Ahok dan Haji Lulung. Perdebatan
mereka semakin ke sini semakin sulit menuju kata rekonsiliasi. Bahkan mediasi
yang sudah direncanakan pun gagal. Argumen-argumen saling serang malah terus
bermunculan dari Pak Ahok dan Pak Haji Lulung. Memang, dalam sebuah
perselisihan, perbedaan pandangan itu wajar. Tapi ya gak harus beda melulu
sampai sekarang. Kalau sudah begini, jalan tengahnya gak ketemu-ketemu.
Sebagai pejabat publik, harusnya kedua tokoh ini
malu. Padahal jika dua orang ini punya kesucian hati layaknya Kak Nazar dan
Bang Ipul, bukan tidak mungkin keduanya akan saling rangkul untuk duduk bersama lalu menyelesaikan masalah yang ada.
Selain Ahok dan Haji Lulung, sungguh masih banyak
lagi contoh-contoh lain dari mereka yang bertikai tapi sangat sulit untuk
bermaafan pada saat ini. KPK vs Polri, warga vs begal, jomblo vs mantan pacarnya adalah segelintir dari banyak masalah yang hanya berakhir pada ego
masing-masing.
Maka dari itu, sebagai manusia yang miskin ilmu dan
cacat logika, kita harus banyak-banyak belajar dari agen-agen perubahan bangsa
semacam Kak Nazar dan Bang Ipul. Alih-alih berkelahi satu lawan satu setelah
berselisih paham, keduanya malah duduk bersama sebagai host yang kompak dalam sebuah
acara televisi. Melupakan segala permasalahan yang ada meski keesokan harinya
harus berdebat lagi.
Dalam hal ini, Kak Nazar dan Bang Ipul telah mengajarkan
kita cara hidup yang bijak lewat petuah umum yaitu show don’t tell. Keduanya tak banyak bicara tentang apa itu
rekonsiliasi seperti aktivis socmed yang kebanyakan nulis
berat-berat-kayak-ada-yang-mau-baca-aja, melainkan secara sadar memperlihatkan
dengan jelas kepada khalayak ramai bagaimana cara saling memaafkan lewat acara
Duo Pedang.
Kebesaran hati, pikiran yang terbuka, serta otak
yang waras memang harus jadi kewajiban jika ingin meniru Kak Nazar dan Bang
Ipul. Sikap dewasa mereka sungguh melampaui zamannya dan harus menjadi pedoman hidup
bagi generasi muda saat ini.
Kemampuan Kak Nazar dan Bang Ipul dalam memaafkan
adalah bukti nyata, bahwa sebagai manusia, keduanya tak hanya layak kita kenal
sebagai pedangdut kondang yang rajin caper sana-sini. Melainkan juga sebagai Bapak
Rekonsiliasi Nasional.
(((Teladan umat)))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar