Minggu, 08 Maret 2015

Dukung Kak Nazar dan Bang Ipul Sebagai Bapak Rekonsiliasi Nasional

Saya tak henti-hentinya menitikkan air mata ketika di tengah-tengah kekacauan bangsa, ada dua nama yang entah sengaja atau tidak, meski saling berselisih pada banyak kesempatan, tetap bisa bersahabat dengan baik. Dua orang ini ialah Kak Nazar dan Bang Syaiful Jamil.

Jika anda termasuk orang yang masih optimistis dengan geliat dangdut nasional, anda pasti sering menonton Dangdut Academy. Acara pencarian biduan teranyar ini sekaligus menjadi tempat dua kubu beda ideologi bertemu; Kak Nazar dan Bang Ipul. 

Hal itu bukan tuduhan tanpa alasan. Pasalnya, dalam tiap kesempatan, Kak Nazar dan Bang Ipul selalu beda pendapat. Dalam hal sekecil apapun, mereka berdua selalu menolak sama. Tak jarang situasi memanas jika keduanya sudah beradu argumen. Namun tahukah anda, di acara lain, dengan talkshow bernama Duo Pedang, Kak Nazar dan Bang Ipul tampil bersama sebagai pembawa acara dengan sangat kompak, syahdu, dan aduhai. Seolah-olah diantara mereka tak pernah terjadi perselihan. 

Ya, acara Duo Pedang tak bisa hanya dihikmati sebagai acara murahan, melainkan tempat sakral di mana dua orang yang terlampau sering saling sangkal, bisa dipertemukan layaknya sahabat karib. Hal yang agaknya mustahil dilakukan pada mereka yang bertikai saat ini.

Perselisihan yang ada sekarang sudah bukan lagi untuk mencari jalan keluar, melainkan sebagai ajang saling keras kepala. Merasa diri paling benar. Paling baik. Paling bersih dan paling-paling yang lain. Sebuah sikap yang sungguh jauh dari kepribadian Kak Nazar dan Bang Ipul. SubhanAllah.

Ambil contoh Pak Ahok dan Haji Lulung. Perdebatan mereka semakin ke sini semakin sulit menuju kata rekonsiliasi. Bahkan mediasi yang sudah direncanakan pun gagal. Argumen-argumen saling serang malah terus bermunculan dari Pak Ahok dan Pak Haji Lulung. Memang, dalam sebuah perselisihan, perbedaan pandangan itu wajar. Tapi ya gak harus beda melulu sampai sekarang. Kalau sudah begini, jalan tengahnya gak ketemu-ketemu.

Sebagai pejabat publik, harusnya kedua tokoh ini malu. Padahal jika dua orang ini punya kesucian hati layaknya Kak Nazar dan Bang Ipul, bukan tidak mungkin keduanya akan saling rangkul untuk duduk bersama lalu menyelesaikan masalah yang ada.

Selain Ahok dan Haji Lulung, sungguh masih banyak lagi contoh-contoh lain dari mereka yang bertikai tapi sangat sulit untuk bermaafan pada saat ini. KPK vs Polri, warga vs begal, jomblo vs mantan pacarnya adalah segelintir dari banyak masalah yang hanya berakhir pada ego masing-masing.

Maka dari itu, sebagai manusia yang miskin ilmu dan cacat logika, kita harus banyak-banyak belajar dari agen-agen perubahan bangsa semacam Kak Nazar dan Bang Ipul. Alih-alih berkelahi satu lawan satu setelah berselisih paham, keduanya malah duduk bersama sebagai host yang kompak dalam sebuah acara televisi. Melupakan segala permasalahan yang ada meski keesokan harinya harus berdebat lagi.

Dalam hal ini, Kak Nazar dan Bang Ipul telah mengajarkan kita cara hidup yang bijak lewat petuah umum yaitu show don’t tell. Keduanya tak banyak bicara tentang apa itu rekonsiliasi seperti aktivis socmed yang kebanyakan nulis berat-berat-kayak-ada-yang-mau-baca-aja, melainkan secara sadar memperlihatkan dengan jelas kepada khalayak ramai bagaimana cara saling memaafkan lewat acara Duo Pedang.

Kebesaran hati, pikiran yang terbuka, serta otak yang waras memang harus jadi kewajiban jika ingin meniru Kak Nazar dan Bang Ipul. Sikap dewasa mereka sungguh melampaui zamannya dan harus menjadi pedoman hidup bagi generasi muda saat ini.

Kemampuan Kak Nazar dan Bang Ipul dalam memaafkan adalah bukti nyata, bahwa sebagai manusia, keduanya tak hanya layak kita kenal sebagai pedangdut kondang yang rajin caper sana-sini. Melainkan juga sebagai Bapak Rekonsiliasi Nasional.

 (((Teladan umat)))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar