Kamis, 22 Januari 2015

Banjir

Banjir barangkali punya ikatan emosional khusus dengan kota saya. Hampir setiap tahun banjir datang dan kadar ketinggiannya pun cendrung terus  meningkat. Ketika SD rumah saya jarang kena banjir. Paling tinggi hanya selutut. Namun perlahan-lahan setiap banjir datang saya dapat merasakan ada kenaikan yang cukup signifikan. Puncaknya ketika saya SMP. Dimasa-masa ini, banjir besar kerap terjadi dan yang ketika SD hanya selutut, saat SMP banjir naik jadi sepinggang. Tapi sepinggangnya di dalam rumah. Ya, anda bisa bayangkan sendiri apa yang menjadi penyebab bisa sejauh itu perbedaannya.

Namun sekarang, semenjak saya SMA, banjir hampir tak pernah terjadi di kota saya. Kalaupun ada, itu hanya disebagian wilayah yang memang datarannya rendah, bahkan itu pun tak lama, paling lama mungkin 1 setengah hari.

Hal ini cukup aneh memang, sudah hampir 3 tahun belakangan ini genangan air sungai yang kerap dianggap kolam renang raksasa itu sudah tak muncul lagi. Padahal kota saya masih tetap diapit dua sungai yang cukup besar, yang juga punya nilai historis nan magis bagi warga kota ini.

Sungai-sungai ini sering jadi tempat mandi anak-anak SD. Termasuk saya dulu, namun sayangnya, jika teman-teman berenang bolak-balik menyebrangi sungai sampai ujung, saya hanya berdiam goblok di samping. Ya, saya tidak bisa berenang. Barangkali lebih tepat dikatakan takut air atau sejenisnya, sebab ketika turun ke sungai, saya merasa ada binatang seperti buaya atau ular siap menyambar. Memang sebagai anak Kalimantan asli, saya merasa gagal.

Saya juga sering berasumsi barangkali penyebab banjir sudah jarang muncul ini karena penanaman pohon yang gencar dilakukan itu berkerja dengan baik. Ya, memang ada banyak acara-acara penanaman pohon yang saya dengar dilakukan di kota saya. Tapi mustahil juga pohon-pohon yang baru berapa tahun atau bahkan bulan itu sudah punya kontribusi yang nyata, lah saya sudah 17 tahun hidup saja belum pernah menyumbangkan satu saja kebahagiaan buat orang lain.

Skenario lain juga seringkali terpikirkan oleh saya. Barangkali ini bentuk kemuakkan yang diam-diam. Bisa jadi hutan di kota saya sedang menumpuk amarahnya dengan cara menyimpan semua pasokan air lalu menumpahkannya pada waktu yang tepat, yaitu saat-saat di mana kami-kami ini sudah terlalu jahat untuk jadi manusia. 

Ya, yang pernah saya baca di Mongabay, hutan Kalimantan kini semakin memprihatinkan. Penebangan hutan di mana-mana katanya terjadi di Kalimatan. Memang tak terlalu terlihat karena hutan di sini begitu luas, bahkan hutan yang katanya telah hilang berjuta-juta hektar itu tetap saja membuat kota saya tidak menjadi modis. Di mana-mana masih banyak hutan di sisi-sisi jalan kota kami. Kadang saya ingin bilang ke pelaku ilegal logging kalau mau nebang pohon yang di samping jalan saja. Muak juga lama-lama liat kayu.

Memang banyak yang bilang hutan-hutan ini cantik dan dapat menambah nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Tapi jujur saja itu tidak seberapa. Kita saja yang terlalu munafik untuk mengakui hal-hal modern itu jauh lebih menyenangkan. Kalau memang banyak yang suka hal-hal tradisional, itu juga tak banyak. Saya pernah neliti ke rumah betang untuk perlombaan Karya Ilmiah, saya liat buku tamunya dan banyak sih bule-bule dan artis datang, tapi anda tau tahunnya kapan? 2008! Paling baru 2009 atau 2010, itu pun artis KDI yang barangkali bisa ditebak tak punya banyak efek untuk menjangkau wisatawan. Kan susah kalau sudah begitu.

Ke banjir tadi, dengan situasi begini barangkali kami-kami ini sudah rindu banjir. Gatal juga sudah 3 tahun tidak main air, ya, meski (saya yang tidak bisa berenang) hanya bisa sebatas main. Banjir juga membuat saya merasa jadi laki-laki yang tangguh. Kalau sudah banjir jiwa survival seringkali muncul. Menerobos arus untuk beli indomie ke minimarket saja rasa-rasanya adalah perjalanan penuh rintangan seolah-olah setelahnya akan mendapat pengalaman spiritual.

Kini banjir pelan-pelan datang lagi. Hari ini intensitas naiknya juga cukup kencang. Saya senang sekaligus was-was. Juga sambil-sambil berdoa semoga rumor hutan Kalimantan yang katanya rusak itu cuma tulisan iseng Mongabay, atau kalau tidak, skenario jahanam nomer dua itu bisa jadi ancaman. 

Tabik!

3 Bulan Menjelang UN dan Selfie Felix Siauw



Kurang lebih 3 bulan lagi saya akan menjalankan cobaan terbesar semasa remaja, yaitu UN. Namun sampai sekarang, niat untuk belajar pun belum ada. Asu betul memang saya ini. Teman-teman yang lain juga sama. Barangkali kami ditakdirkan untuk goblok berjamaah.

UN seringkali diidentikkan dengan ketakutan. Setahun yang lalu saya merasa kekhawatiran kakak kelas menjelang UN hanya dilebih-lebihkan. Namun tahun ini saya merasakan sendiri bahwa sedikit banyak hal itu memang benar. UN memang menyeramkan, tentu bagi mereka yang kualitas otaknya agak memprihatinkan seperti saya.

Dari hasil survey lembaga manapun pasti akan ditemukan bahwa berubah untuk ingin belajar hanya sebatas niat saja.  Tak pernah lebih. 1 tahun yang lalu saya pernah berjanji akan belajar sungguh-sungguh beberapa bulan sebelum UN. Namun sekarang jangankan belajar, buku catatan penting hilang saja saya biarkan.

Memang tahun ini untuk lulus UN tidak susah-susah amat. Sekolah punya hak untuk meluluskan siswanya, tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Namun tetap saja itu tak menghilangkan sisi bangsat dari UN. Ketakutan sekarang sudah bukan lagi lulus atau tidak, melainkan masuk PTN atau ngak. Konon berhembus kabar nilai UN akan jadi syarat penentu masuk ke universitas. Tapi ini masih konon. Belum ada kepastian. Masih rentan kena PHP.

Menjelang UN begini juga banyak cara yang dilakukan semesta untuk mengingatkan remaja-remaja agar berhenti melakukan hal tak penting. Misalnya beberapa hari lalu, melalui Pak Ustad Felix Siauw para remaja diingatkan agar tak usah sering-sering selfie. Tentu Pak Felix berargumen bahwa itu bisa mendekati Ujub dan sebagainya. Namun lebih dari itu, peringatan itu menyimpan misi penting; agar remaja yang akan UN berhenti selfie. Ya, Pak Felix Siauw rela dibully netizen agar kita menjadi sadar bahwa belajar jauh lebih baik. Syukur-syukur bisa lulus dengan nilai memuaskan. Makasih, Pak Ustad.

Lagi pula menurut saya yang jika selfie selalu cepat-cepat menekan tombol delete, perbuatan memfoto diri sendiri itu memang tidak baik. Selfie sungguh dekat dengan kepalsuan, sebagaimana pesan para filsuf terdahulu “Di mana ada selfie, di situ ada Camera 360.”

Ya, selfie mengajarkan kita untuk tak jujur pada diri sendiri dan kurang bersyukur. Jangan anggap remeh hal itu. Dengan menambah kontras agar lebih terang saja sebenarnya sudah termasuk sikap kita yang tak bersyukur terhadap cahaya yang telah ada. Seharusnya jika ingin selfie, lakukanlah dengan semestinya. Sekali klik langsung save. Jangan diedit-edit lagi. Karena selain membuat foto lebih orisinil, hal itu juga menghidari kekecewaan pasangan anda yang di luar kota ketika kalian bertemu.

Wah jadi ngelantur ke selfie begini. Kembali ke UN tadi, semoga saya bisa menemukan kembali motivasi belajar saya yang telah lama hilang ditelan buku-buku bacaan. Kadang saya bertanya lebih baik belajar atau baca buku?

Bangsat... Felix Siauw saja pasti tau jawabannya apa..

Jumat, 16 Januari 2015

Kakak-kakak JKT 48 Terjangkit Sindrom Mojokismelysis

Tulisan ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterbitkan di situs mojok.co

 ***

 
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman menghampiri saya dengan gaya yang sangat tidak biasa. Wajahnya muram, kusut, dan lebih jelek dari biasanya. Sepertinya ia baru patah hati atau sejenisnya. Saya membiarkan ia duduk dengan tenang terlebih dahulu. Baru kemudian saya menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Ia mengambil napas panjang, wajahnya menatap kosong ke arah lain, dan tiba-tiba berkata, “JKT 48 sudah tidak seperti yang dulu lagi, Ham.” Asu! Saya terkejut bukan main. Lalu saya ikut tertunduk lesu. Gebetan saya juga tidak seperti yang dulu. Eh, tapi nanti saja curhatnya. Sekarang ada orang yang lebih patah hati daripada saya.

“Memangnya sekarang kenapa?” tanya saya penuh selidik. Teman saya, yang WOTA sejak dalam kandungan itu, masih menghadap ke arah lain sambil menatap nanar. Wajahnya putus asa, seakan sadar dua ujung bumi sedang bergerak menyatu.

“Personilnya sekarang kurang aktif di twitter,” jawabnya lemas. Saya pritahin juga saat itu. Bagi dia, juga saya, yang jarak tempat tinggalnya dengan JKT 48 sejauh Zimbabwe ke Jepang, tentu twitter adalah satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan kakak-kakak lucu itu.

Sebenarnya, saya sudah melihat gelagat yang sama sejak beberapa bulan lalu. Entah kenapa, personil JKT 48 yang dahulu begitu aktif, sekarang mulai menurunkan intensitas ngetwit-nya. Kalau dulu belasan twit per hari, sekarang selalu dibawah 10. Kalaupun di atas 10, itu pasti ada event besar atau sedang ngebuzz iklan kondom libur latihan. Kegiatan tanya-jawab bersama follower pun jarang dilakukan. Barangkali akan punah beberapa waktu ke depan.

Performa mereka yang sintal dan bergairah di atas panggung seolah tak lagi sebanding dengan kehidupan mereka di dunia maya. Padahal, sebagai public figure, mereka harus bisa membagi waktu karena tak semua fans dapat bertatap langsung dan seringkali harus menggunakan gajet untuk melihat sang idola. Seperti teman saya yang satu ini.

Lantas, tertekan kepedihan batin untuk menolong sahabat karib, saya membuat analisis tajam mengapa personil JKT 48 bertindak demikian jauh sampai-sampai melupakan kehidupan twitter yang banyak diisi para jomblo ngenes yang diisi banyak WOTA dari luar Jakarta.

Pertama, saya kira ini hanya perang urat saraf atau psy war. Bisa jadi, ini hanya akal-akalan personil JKT 48 untuk membangun citra mereka telah lelah bermain twitter, sambil menjalankan strategi lain yang jauh lebih penting: muncul pada waktunya. Ya, saya yakin dalam masa senyap ini, personil JKT 48 tengah mempersiapkan amunisi yang pada akhirnya akan mereka limpahkan di waktu yang tepat hingga membuat jagat timeline penuh dengan twitpic-twitpic bidadari duniawi.

Kedua, tak ingin terbawa arus. Tahun 2014 adalah tahun politik, orang yang sehari-hari hanya membuka twitter sebelum tidur bisa berubah jadi maniak twitter karena keasikan menonton twitwar yang tak kunjung usai. Dengan situasi konflik seperti ini, personil JKT 48 pastinya tak ingin terbawa arus yang kian deras. Mereka sepertinya tak mau menjadi Jonru-jonru selanjutnya–meski menjadi Jonru adalah impian semua umat.

Saya tidak bisa membayangkan jika JKT 48 tetap aktif bermediasosial di tahun politik. Mungkin jika itu terjadi,  Nabilah tak lagi mengingatkan kita untuk salat Maghrib, melainkan kultwit mengenai Kebijakan Jokowi Menaikkan Harga BBM serta Pengaruhnya terhadap Harga Tiket Teater JKT 48.

Ketiga, mereka terkena mojokismelysis syndrome. JKT 48 adalah idol group terkenal, punya jutaan, dan itu artinya; mereka tak punya banyak waktu luang. Biasanya, sebagai public figure, mereka menggunakan waktu senggangnya untuk melakukan hal lain seperti misalnya menyapa jagat sosial media sambil melampirkan twitpic terbaik. Namun, dengan adanya situs kekinian lintas benua seperti Mojok.co yang penuh daya tarik, mereka pasti keasikan membaca artikel-artikel yang ada di sana. Tak pelak lagi, media sosial yang awalnya adalah tujuan utama untuk mengisi waktu senggang jadi tersingkirkan karena terbius oleh Mojok.co. Dan menurut perhitungan saya, ada 496 juta manusia lain yang juga terjangkit sindrom mojokismelysis.

Teman saya mengganguk paham mendengar penjelasan saya. Ia kemudian pulang dengan hati yang lebih tenang dan ikhlas.

Keesokan harinya, ia datang kembali. Wajahnya ceria, tak lagi muram, tapi tetap jelek. Ia melambai-lambaikan tangan kepada saya, dan saya tentu tidak membalas karena takut muncul kecurigaan dari masyarakat bahwa kami pasangan haram di mata Tuhan.

Tak perlu saya tanya mengapa, ia bercerita sendiri penyebab ia bisa menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mengatakan telah menemukan idola baru. Wanita liberal, cantik dan menawan, artis internasyenel, punya channel dengan produser kelas neraka dunia dan kabarnya tak lama lagi akan segera bermain film. Kabarnya pula, artis ini pernah menggelar konser di lautan Atlantik, ditemani malam berbintang serta dimanjakan dengan kemunculan Paus Biru. Lebih dari itu, yang membuat teman saya terbius; ia aktif di twitter dan sering twitpic.

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Saya terpaku, penuh tanda tanya, siapakah wanita menggairahkan nan sensaional itu. Lantas, karena ini bersifat rahasia negara tingkat tinggi, teman saya menulis di kertas dan memberikan username twitter-nya secara diam-diam.

Subhanallah, wanita itu @dijahyellow.

Tiga Argumentasi Paling Sahih Mengapa Ucapan Selamat Natal itu Haram



Tulisan ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterbitkan di situs mojok.co

***


Liburan ini saya kembali bingung, mengapa setiap menjelang 25 Desember selalu muncul perdebatan-perdebatan sengit tentang hukum mengucapkan selamat natal? Ternyata hal ini seperti musim yang selalu ada dari tahun ke tahun. Mungkin musim di Indonesia ada tiga: musim kemarau, musim hujan, musim ributin ucapan selamat natal.

Padahal, jika dilihat dari segi pengucapannya, selamat natal adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Anda hanya perlu menjabat tangan kerabat yang beragama nasrani, lantas mengucapkan “Selamat natal, Pren!” sambil tersenyum agar manis sedikit. Atau jika dia mantan Anda, kalimatnya bisa diubah jadi “Selamat natal, ya. Kapan balikan?”

Namun, setelah perdebatan sengit di dunia maya, hal itu jadi terasa berat sekali. Tidak lebih mudah daripada kisah percintaan para jomblo.

Dalil-dalil dimunculkan. Sialnya, omong kosong  tulisan dari kubu yang pro mengucapkan selamat natal dan kubu yang tidak mengizinkan ucapan selamat natal sama-sama punya kekuatan untuk membius pembacanya masing-masing. Sehingga jika kita hanya membaca salah satu darinya saja, kita pasti akan cepat-cepat menganggukkan kepala. Jika membaca keduanya? Jadi pucing pala barbie.

Saya sendiri bersepakat untuk mengucapkan selamat natal. Bukan karena tulisan-tulisan keren dari penulis lepas di situs terkenal, yang banyak memasukkan hadits, cerita, atau fakta-fakta terbaru mengenai toleransi beragama di Palestina. Melainkan dari salah satu kutipan yang saya baca di buku Teror atas Nama Tuhan karya Mark Juergensmeyer. Buku ini sudah lama, tapi baru-baru  ini saya pinjam di perpustakaan dekat SMA saya.

Begini bunyinya: “Islam tidak dapat menggunakan kekerasan untuk cinta, ampunan, dan toleransi. Kecuali tanah kita diserang.” Di buku itu disebutkan bahwa kalimat tadi berasal dari Syekh Omar Abdul Rahman.
Kadang, saya berpikir lebih baik agama jadi hal yang paling intim dan sakral pada kita. Ia tak perlu dibesar-besarkan. Biarkan kita mengimani kepercayaan masing-masing tanpa harus takut dengan omongan orang lain. Karena barangkali mereka yang paling sibuk mengurusi agama lain, bisa jadi adalah orang yang paling ragu dengan agama yang ia anut.

Kembali ke ucapan selamat natal. Meski saya akan mengucapkannya kepada teman-teman nasrani, tapi saya tetap punya beberapa kondisi di mana saya tak ingin melakukannya. Sebaiknya Anda pun tidak usah melakukannya, sebab jelas haram hukumnya. Kondisi seperti apa?

Pertama, saat idul Fitri. Saya tidak akan mengucapkan selamat natal ketika idul fitri. Karena tentu selain waktunya kurang pas, tidak menyenangkan juga ketika khatib salat ied turun dari mimbar langsung kita salamin, terus bilang “Met natal, Ustadz”

Kedua, belum natalan. Saya tidak akan mengucapkan selamat natal ketika belum natalan. Misalkan natal pada tanggal 25 Desember, saya tidak akan mengucapkan selamat natal pada 25 Maret. Karena momennya tidak tepat. Juga untuk menghindari tuduhan bahwa saya tak punya kalender di rumah.

Ketiga, kepada teman-teman yang bukan nasrani. Saya tidak akan mengucapkan selamat natal kepada teman-teman yang bukan nasrani karena tentu agama mereka punya hari rayanya sendiri.

Demikian tiga kondisi yang bagi saya sangat tidak tepat untuk mengucapkan selamat natal.

Terakhir, jauhilah perdebatan mengenai hal-hal pribadi seperti agama. Karena selain tidak menguntungkan, hal itu juga belum pasti bisa membuat Anda masuk surga. Saya sendiri kurang suka berdebat soal agama, karena ngaji pun saya masih nyendat-nyendat, mirip hati para penulis mojok yang belum bisa move on.

Selamat natal!