Minggu, 17 Mei 2015

Agar Pejuang Twitter Tetap Sehat dan Bahagia

Tulisan ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterbitkan di situs Mojok.co

***

Indonesia terlampau riuh hari ini. Berbagai masalah membuat setiap jengkal linimasa kita tak lepas dari perdebatan. Baik yang hanya sekadar iseng-iseng, sampai ke tahap panas-panasan.

Hal itu tentu tidak baik dan tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Apalagi untuk membahas masalah yang itu-itu saja. Padahal ada banyak sekali masalah lain yang perlu diperdebatkan (atau harusnya diselesaikan, karena tukang twitwar ini sebenarnya tidak pernah menyelesaikan masalah). Semisal masalah pemerataan pendidikan, pasokan air bersih, atau hati fakir asmara yang kian lama kian menyedihkan.

Tapi ya memang dasarnya orang Indonesia ini pintar-pintar. Sampai dunia kiamat pun perdebatan-perdebatan itu tak akan pernah habis. Apalagi hari-hari belakangan, muncul banyak topik yang aduhai sekali untuk dieksekusi sebagai twit-twit debat. Sebut saja kasus hukuman mati, rencana lokalisasi PSK, PSSI vs Menpora, serta sekian ratus masalah lain yang tak kunjung selesai.

Berbekal itu, tentu kurang afdol bila Mojok Institute tak berbuat sesuatu. Sesuatu dalam arti sebagai pengingat. Karena kita sudah tahu sejak dalam pikiran, 20 dari 25 akun yang berdebat di twitter, bisa dipastikan adalah jomblo-jomblo intelektual. Jika Pak Ustad Felix Siauw adalah pejuang Khilafah, maka teman-teman kita ini adalah pejuang hak-hak hidup orang banyak. Tapi di sinilah bahaya latennya; ketika mereka sibuk memperjuangkan kesejahteraan umat, tanpa mereka sadari perut mereka sendiri kadang sudah sekarat. Hal itu bisa dimaklumi, karena tak ada yang mengingatkan mereka tentang cara hidup yang sehat. Lha iya, kan jomblo…

Maka, perkenankanlah Mojok Institute untuk mengambil alih tugas mulia guna mengingatkan para pejuang kita ini agar tidak kelewat batas. Sebab jika orang-orang ini sakit, siapa lagi yang akan kita banggakan? Dan langsung saja, inilah hal-hal yang perlu diperhatikan pejuang twitter kita agar tetap sehat dan bahagia.

1. Makan Makanan yang Bergizi

Perkara gizi ini harus di urutan pertama. Keseringan marah-marah kadang membuat kita lupa makan. Bahkan mau minum saja bisa enggak mood. Maka dari itu, teman-teman pejuang kesejahteraan jangan lupa untuk makan-makanan yang masuk kategori 4 sehat 5 sempurna. Juga janganlah karena lagi asik berdebat di timeline, lalu maunya yang instan-instan. Sangat bahaya jika hari-hari para pejuang kesejahteraan kita dihabiskan dengan bermangkuk-mangkuk indomie yang memang tidak butuh waktu lama untuk dimasak. Pokoknya harus sehat.

2. Jangan Lupa Piknik

Alhamdullilah, pemerintah sekarang sudah paham betapa pentingnya taman kota. Ini hal yang bagus karena memang kebanyakan rakyat Indonesia mudah terserang penyakit stres. Dan taman adalah salah satu sarana yang tepat bagi teman-teman kita di atas untuk rehat sejenak dari desas-desus media sosial. Hal ini tentu akan mengurangi perasaan gelisah dan wagu, lalu dari piknik akan lahir pikiran-pikiran positif. Saran saya, agar piknik lebih khidmat, bawalah anak-anak kecil semisal ponakan, anak tetangga, atau balita-balita gemes yang gak sengaja nemu di jalan. Bawa mereka main apa saja di taman, lalu setelah mereka merasa lelah dan ingin tidur, ada baiknya Anda ucapkan kata-kata ini di telinganya: “Kalau udah gede jangan main Twitter ya…”

3. Bersosialisasi dengan Masyarakat

Ini tak kalah penting. Kebanyakan memegang gajet beresiko membuat kita melupakan dunia sekitar. Media sosial dapat membuat beberapa orang jadi kurang bergaul di lingkungan nyata. Akhirnya, ketika ia dalam masalah, akan sulit minta bantuan. Tentu gak mungkin minta tolong sama teman-teman di twitter karena selain mungkin beda kota, mereka pun bisa jadi hanya peduli sebatas dunia Twitter. Tidak lebih dari itu. Maka ada baiknya para ahli twitwar kita memperhatikan masalah pergaulan sosial. Sesekali sapalah Pak RT, juga jangan lupa melempar senyum kepada ibu-ibu di samping rumah. Ini langkah yang baik untuk membuka persahabatan. Syukur-syukur bisa dapat jodoh.

4. Baca Mojok.co

Jika ketiga langkah di atas dianggap terlalu berat, Anda hanya perlu melakukan langkah keempat ini. Lho, jangan kaget. Mojok sepertinya memang didesain untuk memenuhi semua kriteria diatas. Kalau Anda lapar, tinggal buka tulisan-tulisan kuliner, niscaya kenyang sampai seminggu. Kalau kurang piknir, tinggal baca tulisan-tulisan Gus Mul. Kalau merasa kurang bersosialisasi, tinggal melipir ke kolom komentar. Konon interaksi di sana terasa lebih nyata daripada tempat manapun di dunia. Ntap, kan?

Itulah kiat-kiat untuk teman-teman yang sering berdebat di twitter agar bisa tetap sehat dan bahagia. Ingat, Presiden belum setahun memimpin. Itu artinya, sekian banyak masalah baru akan terus bermunculan. Teman-teman harus mempersiapkan itu semua. Belilah makanan yang sehat untuk menemani hari-hari yang panjang dan penuh amarah. Telepon ibu Anda jika merasa lawan twitwar dianggap terlalu menyiksa, dan jangan lupa salat.

Tapi saya yakin teman-teman kita ini pada suatu hari pasti lelah. Mungkin itu adalah saat di mana mereka sadar bahwa perdebatan-perdebatan sengit itu tak membawa kita ke mana-mana. Sebab siapalah kita ini, hanya pengguna Twitter yang 10 dari 9 followernya adalah akun bot online shop. :(

Masih Beruntung


Saya kurang percaya dengan yang namanya kebetulan, tapi masih yakin dengan sesuatu bernama keberuntungan. Entah keduanya sama atau tidak, saya tidak tahu. Yang pasti akhir-akhir ini saya merasa agak beruntung. 

Keberuntungan pertama saya lulus SNMPTN. Sebenarnya saya tidak mau bilang ini beruntung, tapi setelah kaget melihat tidak terlalu banyak yang lulus, ya saya harus merasa demikian. Beberapa teman yang kualitas intelektualnya jauh diatas saya ada yang sial karena tidak lulus, sedang saya, yang 3 tahun pelajaran tetap tidak mengerti 1 bagianpun dari pelajaran Kimia, bisa lulus. Tentu ini yang namanya keberuntungan. Untuk tidak menjadi curiga jangan-jangan panitia SNMPTN masih ada yang keluarga dekat saya.

Jelas saya tidak bisa bangga dengan hal ini. Merasa bahagia pun saya tidak meski tetap bersyukur. Berbeda dengan kedua orang tua yang cukup senang. Ya andai anda ikut orang tua anda berburu dan menembak seekor kijang yang mabuk daun ganja hingga tidak mampu berjalan pun mereka pasti tetap bangga. Membahagiakan orang tua memang mudah yah hehe

Keberuntungan kedua saya lulus UN dengan nilai yang di atas prediksi saya. Awalnya karena sadar otak yang cekak, saya menargetkan mendapat nilai rata-rata di sekitaran 5. Karena tahun ini kelulusan ditentukan sekolah, tentu nilai itu cukup realistis bagi saya. Tapi Alhamdullilah hasilnya lebih tinggi 1 angka dari target saya. Juga lebih tinggi dari beberapa teman dekat saya sehingga saya tidak jadi korban bully ketika ngumpul. Saya tentu merasa bersyukur untuk hal ini meski bagi anak-anak yang IQ nya 4 digit, nilai saya tetap saja hina.

Tidak ada yang bisa membanggakan memang dari kedua hal yang saya anggap beruntung itu. Setidaknya menurut saya sendiri. Apalagi ditambah situasinya yang begini; saya sadar tidak melakukan apa-apa. Hanya menjalani sesuatu yang sudah menjadi kewajiban. Mendaftar SNMPTN lalu mengikuti UN. Dan hasilnya ternyata diluar ekspetasi saya. Selesai dan jelas itu beruntung.

Berbeda dengan jika saya belajar sungguh-sungguh. Menghapal rumus dari pagi sampai malam. Mengerjakan UN dengan khusyuk dan sebaik-baiknya. Lalu lulus dengan hasil yang memuaskan. Mungkin jika situsinya begini saya akan bahagia. Bahkan bisa jadi sujud syukur 3 hari 3 malam. Yang membedakan keduanya cuma satu; usaha.

Di situasi pertama saya tidak ada usaha. Hanya mengikuti yang semestinya dan ketika mendapatkan hasil yang cukup baik, langsung saja sadar itu keberuntungan. Tentu dungu jika saya menganggap itu hasil kerja keras. Berbeda dengan situasi kedua yang ada usaha. Setidaknya melakukan sesuatu yang menunjukkan ada kesungguhan. Sialnya, saya jelas ada pada situasi pertama.

Lagipula yang menyedihkan dari situasi pertama adalah sampai kapan saya harus dilindungi keberuntungan. Bayangkan jika keberuntungan saya habis dan yang tersisa hanya kesadaran hal itu tidakk dapat diulangi kembali. Tentu tidak akan mengenakkan.

Behubung saya merasa keberuntungan ada batasnya dan mungkin ini yang terakhir, saya pun merasa sudah seharusnya serius sedikit. Ya paling tidak menunjukkan usaha yang belakangan ini saya sudah lupa bagaimana rasanya.

Tapi tentu yang paling penting adalah hasil dari keberuntungan ataupun hasil dari kerja keras, keduanya harus kita disyukuri. Karena bersyukur adalah koentji!

 iya, dapat segini aja udah bilang beruntung. hina memang..

Minggu, 26 April 2015

Perpisahan SMA

Hari Sabtu minggu lalu, sekolah saya menyelenggarakan acara perpisahan anak kelas 3. Dan beberapa hari sebelum acara dilaksanakan, saya berfikir untuk memposting tulisan tentang itu setelah acaranya selesai. Tentu saja di blog ini. Tapi sampai berhari-hari kemudian, saya tak mendapatkan alasan mengapa saya harus menuliskannya. Barangkali acara itu kurang emosional bagi saya, atau mungkin terlalu biasa saja, atau barangkali juga saya lagi malas ngetik waktu itu.

Sebenarnya saya tidak tahu apa makna dibalik sebuah perpisahan. Yang saya tahu, semua dari kami tidak pernah benar-benar pergi. Karena kota kami kecil, terlampau mudah untuk menemukan teman-teman seangkatan tanpa harus terjebak dalam drama melankoli yang bikin nangis bermalam-malam. Tapi saya lupa, ada satu yang pasti terjadi dalam sebuah perpisahan: akan ada kenangan yang selalu diingat hingga berhari-hari berikutnya. Dan akan muncul ketika sepi datang, lalu menumbuhkan perasaan nostalgia di malam-malam yang pasti akan sangat kita benci.

Ternyata perpisahan yang saya (dan mungkin semua anak lelaki angkatan kami) anggap biasa, berbeda dengan teman-teman wanita. Anak laki-laki cenderung woles-woles saja. Santai bahkan masih sempat mengeluarkan caci-maki ketika salam-salaman. Berbeda dengan wanita yang harus nangis sekaligus menahan kesal karena make up diwajah mereka jadi tidak karuan (maklum pakai kebaya).

Tapi disinlah konon bahayanya laki-laki. Menurut pengamat percintaan twitter, ketika sebuah hubungan berakhir, sang wanita akan menangis semalaman dan si lelaki hanya biasa-biasa saja. Namun berbeda di bulan-bulan kemudian; ketika si wanita telah move on dengan tangan lelaki lain mengelus pundaknya, sang mantan yang kemarin biasa saja itu bisa jadi sedang sedih-sedihnya karena baru sadar ada sebuah kebiasaan indah yang hilang.

Hal ini barangkali sejalan dengan perpisahan anak SMA. Ketika murid wanita lebih ekspresif dengan tangis yang berdarah-darah di hari H, murid lelaki mungkin baru akan terserang perasaan nostalgik itu setelah berminggu-minggu lamanya. Sesuatu yang datang secara tiba-tiba dan tak dapat ditawar-tawar. Sesuatu yang konon membuat pikiran kita remuk redam karena kenapa semua jadi cepat berlalu. Dan yang paling penting; kenapa kemarin gak ikutan nangis.

Tapi tentu saya berharap itu tidak terjadi kepada saya. Karena mengingat kenangan itu gak enak dan menyebalkan. Lebih menyebalkan dari tobat sebentar waktu dengar ceramah pak ustad, tapi maksiat lagi berjam-jam setelahnya.

Sekarang yang harus saya lakukan hanya memikirkan masa depan sambil terus begadang di malam harinya karena udah gak sekolah. Juga saya harus rajin-rajin ke kantor polisi untuk mengurus surat menyurat yang diperlukan buat kuliah (ini bagian yang paling saya benci). Dan ya, saya juga harus lebih banyak waktu buat baca karena ini waktu yang tepat untuk menghabiskan stok buku yang belum disentuh dari dulu-dulu.


Terakhir, ini ada foto saya saat perpisahan bersama calon finalis Dangdut Academy. Teman baik yang juga korban bully saya di kelas ini punya skill dangdut di atas rata-rata remaja seusianya. Sebenarnya tidak hanya dangdut karena ia juga jago dalam berbagai genre. Bahkan ketika hari terakhir kami belajar di kelas, dengan gagah berani ia menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Sungguh tiada banding...

mantabzzz

Rabu, 15 April 2015

Selesai UN

Alhamdullilah, hari ini saya berhasil menyelesaikan Ujian Nasional dengan keadaan sehat dan baik-baik saja,  tanpa ada gangguan sedikit pun pada bagian otak. Setelah 3 hari bertempur dengan soal buatan orang-orang yang penuh dosa itu, saya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena saya tidak perlu repot-repot sekolah lagi. Sedih karena kenapa gak dari kelas satu saja saya ujian nasionalnya.

Jujur saja, saya tidak mempersiapkan apa-apa pada ujian nasional kali ini selain pensil dan penghapus. Saya tidak banyak belajar karena saya memegang teguh sikap tawakal. Berserah diri sepenuhnya pada keadaan ( ini tawakal versi saya sendiri). Hasilnya sungguh bisa ditebak. Setengah dari waktu UN saya habiskan untuk menghayal bagaimana jika saya menjadi pemain bola sejago Eden Hazard, dan membawa Chelsea menjadi juara Liga Champions lewat gol keren seperti yang dilakukan maradona ketika melawan Inggris di piala dunia 1986.

Untuk pelajaran bahasa memang masih bisa ditoleransi. Namun ketika pelajaran-pelajaran IPA, saya benar-benar tidak paham. Untungnya, beberapa teman ada yang sama seperti saya, sehingga sedikit banyak menumbuhkan motivasi bahwa yang susah memang soal, bukan otak saya. (((setuju bang)))

Sebenarnya untuk pelajaran IPA, saya menerapkan strategi “culik satu per satu”. Stretegi ini saya dapatkan ketika masih aktif menjadi atlet Point Blank semasa SMP. Caranya, ketika situasi terdesak, jangan serang kerumunan lawan, tapi usahakan untuk one by one, tentu saja dengan asumsi kita akan memenangkannya. Namun apa di kata, strategi one by one saya melawan soal benar-benar gagal. Untuk menyelesaikan pertandingan melawan satu soal, tidak kurang dari 20 menit waktu yang saya habiskan. Tentu dengan nafas yang terengah-engah dan lecet dimana-mana. Alhasil, ketika waktu hampir selesai, yang terisi baru beberapa soal.

Strategi lain adalah mencatat semua rumus. Tapi ya gimana. Tak kenal maka mati aja. Jika tidak tahu caranya ya percuma bawa rumus. Sampai payudara mbak Pamela Safitri mengecil ya tetap gak akan ketemu.

Namun dibalik kesulitan itu, tentu ada jalan keluar. Manuver-manuver ringan pasti dilakukan agar setidaknya bisa dapat nilai diatas 3. Mulai dari latihan menebak soal, menghitung akurasi jawaban lewat suhu cuaca, sampai ritual menerawang kunci jawaban dengan bantuan angin yang berhembus telah saya pelajari sebelum UN. Harapan saya semoga cara itu berhasil. Tapi kalau tidak ya tidak apa-apa, yang penting Chelsea juara liga Inggris.