Senin, 28 Desember 2015

Cerita Dari STAR 2015

Sebagai remaja tanggung yang selama hidup merasa makan indomie dengan cabe rawit 5 biji sebagai pengalaman paling ekstrem, saya langsung merasa semua itu bukan apa-apa ketika mengikuti agenda STAR 24-26 Desember lalu.

Sebagai penjelasan singkat, STAR adalah kegiatan kegamaan dari lembaga dakwah di fakultas saya yang isinya adalah studi atau belajar di alam terbuka. Kegiatan ini, dengan segala agendanya, berhasil menggeser aktivitas makan indomie dengan cabe rawit tadi sebagai hal paling greget pada hidup saya.

Awalnya, sebagai mahkluk yang percaya bahwa malas-malasan adalah sebaik-baiknya aktivitas, saya jelas menolak untuk bergabung menjadi peserta STAR. Terlebih ketika mendengar isi-isi kegiatannya dari berbagai mulut, membuat saya yakin kalau kegiatan itu tidak akan saya ikuti bagaimana pun caranya.

Tapi sebagaimana hidup, takdir selalu berkata lain. Menjelang penutupan pendaftaran peserta, saya akhirnya mendaftar dengan alasan solidaritas antar kawan angkatan dan karena sedikit masukan dari senior.

Karena sudah terlanjur ambil bagian, perasaan ogah-ogahan pun saya usahakan buang jauh-jauh. Hari demi hari saya saya gunakan untuk menyesal memantapkan ikhtiar agar semuanya terasa mudah. Karena jika tidak begitu, pastilah kegiatan tersebut akan saya lalui dengan berat. Apalagi kegiatan dilakukan di luar kota dan selama 3 hari.

Akhirnya setelah beberapa waktu, hari H kegiatan pun tiba. Semua sudah saya siapkan. Niat pun IsnyaAllah sudah bukan lillahi paksaan lagi. Saya berusaha menjalani 3 hari ke depan dengan semangat ala-ala pejuang jihad yang ingin merebut kembali tanah impiannya. Sebuah perjalanan serupa ziarah ke tempat yang telah lama dirindukan. Sembari terus memompa nyali agar diam-diam tidak ciut.

Dan ketika kegiatan dilakukan, saya merasa perasaan malas yang saya miliki di awal sungguh hilang seketika. Setelah dilalui, acara ini ternyata tidak buruk-buruk amat. Kami berkemah di sisi pantai, dan tidur di tenda berisi 70an orang. Yang lebih mengasyikkan tentu ketika hiking ke atas bukit tepat jam 12 malam dan di malam jum’at melalui medan yang bisa dibilang lumayan bahaya. Sungguh greget sekali. Tapi semua terbayarkan ketika sampai di puncak. Hamparan laut serta pendar kemerahan lampu kota Singkawang pada subuh hari ternyata serupa melihat adegan JAV secara lansgung. Benar-benar bikin orgasme di tempat. Diam-diam, saya mulai menikmati kegiatan ini. Berbagai agenda lain pun sangat baik. Semisal simulasi masuk neraka yang meski agak aneh, tapi seru juga.

Setelah mengikuti kegiatan ini, jelas saya belajar banyak hal. Bahwa sesungguhnya saya masih perlu belajar lebih banyak untuk bisa menerima semuanya dari berbagai sisi. Apalagi acara ini sangat bagus untuk membunuh sikap-sikap egois pada diri saya yang mungkin sangat banyak. Dan tanpa disadari, saya belajar menjadi manusia.

Rabu, 09 Desember 2015

Belajar Jadi MABA

Ketika menulis postingan ini, saya tengah dibebani setumpuk laporan dan jurnal yang belum selesai serta berbagai macam tugas-tugas lain yang bikin kepala cenat-cenut.

Beberapa bulan menjadi mahasiswa benar-benar di luar ekspetasi saya. Awalnya saya pikir kehidupan kampus itu santai dan elegan. Datang, dengerin dosen, ngopi, pulang. Eh setelah lihat fakta di lapangan, kok rasanya semua itu cuma mimpi. Tugas yang menumpuk serta rasa gegas yang terus mengikuti dari belakang benar-benar membuat semuanya jadi tidak santai dan tidak lagi elegan.

Selain tugas yang susah-susah, kegiatan kampus juga ternyata ikut-ikutan bikin pusing. Banyak sekali kegiatan yang sebenarnya maksdunya baik, tapi karena dilakukan ketika sibuk-sibuknya, malah bikin saya pengen tidur aja di rumah.

Tapi kalau menurut senior-senior yang berbagi pengalaman, 1 tahun pertama ini katanya memang sedang berat-beratnya. Tugas kuliah, kegiatan untuk maba, dan sekelumit hal-hal lain akan selalu hadir sampai tahun depan.

Karena berbagai kegiatan ini juga, 1 hari rasanya cepat sekali. Bahkan waktu-waktu buat buka media sosial ataupun update berita-berita terbaru baru bisa pas udah malam. Sungguh ini berlawanan dengan semangat netizen zaman sekarang yang harus selalu up to date biar bisa selalu berkomentar terkait isu-isu terkini.

Selain tugas yang banyak, materi perkuliahan semester-semester awal pun ternyata kurang menyenangkan. Untuk jurusan saya (Sistem Informasi) bahkan harus belajar lagi pelajaran dasar Sains seperti kimia, fisika, dan biologi. Jujur saya tidak tau motivasi dibalik mata kuliah ini. Mungkin pihak universitas pengen saya nulis kode sambil pakai jas lab. Biar lebih kaffah.

Sialnya lagi, pelajaran yang kurang berguna bagi saya itu selalu ada praktikum tiap minggu. Dan jadilah saya seperti bodoh setiap minggu masuk lab buat buang-buang NaCl atau nungguin logam silinder bolak-balik sampai sepuluh kali.

Jujur, saya ngak tahu kapan penderitaan jadi mahasiswa baru ini berakhir. Mungkin masa-masa ini juga dialami semua MABA seluruh dunia. Amerika, India, Tumbuktu, semua mungkin merasakan kesibukan seperti saya. Jenis kesibukan yang menjengkelkan, tapi akan dikenang pada suatu waktu. Semoga


Kamis, 08 Oktober 2015

#ReviewPelem: The Martian



Akhir-akhir saya merasa goblok setengah mampus. Sejak masuk kuliah, kebiasaan saya semasa SMA benar-benar hilang. Jika waktu SMA saya tahan membaca berlembar-lembar cerita dari penulis latin atau mengikuti kisah reportase di timur tengah hingga bermalam-malam, sekarang, untuk sekadar membaca blurb buku pun saya malas. Begitu pun dengan kebiasaan nonton film yang sudah jauh berkurang. 

Hari-hari saya kini lebih banyak dihabiskan dengan main laptop atau nyantai sama kawan kuliah sambil ngomongin gerakan yang gak penting-penting amat. Aktivitas yang paling dekat dengan penyegaran otak paling-paling ngikutin berita StartUp atau iseng belajar bahasa pemograman di website-website e-learning. Itu pun karena saya kuliah jurusan begituan jadi ya gitu...

Karena itu, saya berusaha menggali lagi (((menggali lagi))) kecintaan saya pada dua ilmu paling penting sejagad raya: Sastra dan Film. 

Saya pun mulai cari-cari buku di toko buku, dan nonton film yang sedang diputar. Setelah gagal menemukan buku yang menarik dan hanya membeli buku Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia (itupun karena ada tulisan saya hheee), saya akhirnya menonton film yang lagi hits; The Martian.

Film garapan Ridley Scott ini pas saya baca reviewnya memang lumayan bagus. Kisah yang menceritakan perjalanan Mark Watney (Matt Damon) yang hidup sendirian di MARS karena suatu insiden.

Awal mulanya, saya cukup tertarik dengan film ini. Di scene-scene awal, The Martians bagi saya, cukup berhasil melawan arus klise film dengan tema luar angkasa dengan menceritakan bagaimana Watney bertahan hidup di Mars. Mulai dari cara ia menanam kentang sampai proses menghasilkan air di planet antah berantah. Semua dijelaskan dengan sederhana dan sangat menarik.

Tapi saya tau pembuka semacam itu tidak akan bertahan lama karena ini bukan kisah tutorial cara bertahan hidup di MARS, melainkan film luar angkasa yang sudah barang tentu ujung-ujungnya menguras emosi dan penuh tentangan.

Dalam sekejap, The Martian, seperti kisah luar angkasa lain yang sudah saya tonton, mulai menceritakan tentang perhitungan-perhitungan yang salah, lalu para tokohnya yang mulai putus asa, hingga kemudian melakukan titik balik yang begitu heroik.

Dalam taraf tertentu, meski bagus, The Martian tidak terlalu menarik perhatian saya (saya nguap beberapa kali). Saya bahkan ingin bilang The Martian tidak lebih bagus dari Intersellar. Sebagai penonton yang malas membedah hitung-hitungan sebuah film secara serius, saya masih menjagokan karya Nolan itu sebagai sesuatu yang lebih menguras emosi dan menimbulkan banyak pertanyaan setelahnya. Dua hal yang kurang saya dapatkan di The Martian.

Seperti yang saya bilang di atas, The Martian cukup mengesankan di awal, tapi gagal menarik perhatian saya hingga akhir. Saya sebetulnya berharap Michael Pena ikut terjebak di Mars. Sebagai penonton yang selalu nyari-nyari scene lucu, saya berfikir mungkin kehadiran dia bakal bikin film ini jauh lebih menghibur.

Kalaupun ada yang paling menarik perhatian saya dalam The Martian adalah bagaimana sains dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana oleh film ini. Gak banyak pernyataan-pernyataan yang bikin kening berkerut. Masih banyak lagi sih sebenernya seperti misalnya mbak Mackenzie Davis yang cantiknya MasyaAllah. 

Tapi untuk keseluruhan, The Martian bagi saya biasa aja. Sama biasanya seperti review saya yang gak jelas dan gak layak dianggap review ini. Terakhir, kalaupun anda ingin pesan di tulisan ini, saya cuma bisa bilang; jangan pernah punya cita-cita jadi astronout.

Senin, 10 Agustus 2015

Sekotak Susu, di Dalam Gudang



Anak kami, Rosie, telah berumur 2 tahun dan ia tidak lagi menyusui lewat puting ibunya. Ia tidak mau lagi minum ASI maka dari itu, setiap malam jum'at, sepulang dari kantor, aku harus pergi ke minimarket untuk membeli susu kotak milik Rosie.

Saat pertama kali membeli susu Rosie, aku tidak tahu susu yang mana yang cocok untuknya. Umurnya hampir 1 tahun, dan ia belum bisa berbicara untuk mengatakan ia ingin susu seperti apa. Aku lalu bertanya kepada penjaga di supermarket itu, yang rambutnya diikat karena meski ruangan itu ber-AC, ia tetap kepanasan. Ia lalu membawaku ke arah lorong tempat susu-susu kotak disimpan.

Ternyata, pada jam pulang kantor seperti ini, hanya aku yang mencari susu bayi. Kami berdua penjaga itu yang belakangan kuketahui namanya Nana, mulai melihat merk demi merk. Nana, dengan rambut panjang yang diikat hingga memperlihatkan telinganya yang putih dan halus, menjelaskan padaku merk setiap susu yang ada lengkap dengan penjelasan soal rasa, jangkauan umur, harga hingga promo-promo murahan di merk-merk tertentu.

Setelah selesai mendengar penjelasan Nana -yang tidak terlalu aku perhatikan-, aku memilih susu yang kotaknya berwarna biru. Aku memilihnya karena warna kotak itu persis seperti warna baju seragam yang dikenakan Nana. Aku lalu memilih rasa vanilla, dan ternyata anakku cocok-cocok saja. Hingga saat ini, anakku masih meminum susu itu.

Pada suatu petang sepulang kantor, di malam jum'at, aku menuju supermarket itu seperti biasa. Aku menuju lorong tempat susu-susu dijajarkan. Lorong yang jika dari pintu depan, aku hanya perlu belok kanan,dan lurus hingga ujung paling belakang tepat setelah lorong pembalut wanita -yang kujadikan patokan- dijajarkan. Tapi setelah lama berkeliling, aku tidak menemukan susu yang biasa aku beli. Aku berjalan untuk mencari para penjaga, dan melihat Nana sedang duduk di kursi plastik dengan tubuh tegapnya yang siap membantu para pelanggan kesusahan.

"Nana?" Panggilku sambil melambaikan tangan. Ia langsung berdiri dan dengan kaki rampingnya, ia bergegas menuju arahku.

Aku bertanya padanya apakah susu yang biasa kubeli stoknya habis. Dan sambil mengikat rambut, ia bilang tidak. Susu itu belum dikeluarkan dari gudang. Ia akan segera mengambilnya.

Aku menunggu Nana di tempat itu. Dan saat menunggu, untuk pertama kalinya pada jam-jam seperti ini, aku melihat Ibu-ibu yang juga sedang membeli susu untuk anaknya. Ia lantas menuju ke arahku, dan berhenti di deretan susu yang juga kucari.

"Sedang mencari susu yang biasa disimpan di sini?" tanyaku kepada Ibu yang kebingungan itu.

"Ya. Apakah sudah habis?" balasnya.

"Belum." kataku. "Anda perlu berapa?"

"3 kotak." jawab ibu itu.

"Tunggu di sini sebentar."

Aku lalu berjalan ke arah gudang tempat Nana mengambil susu kotak Rosie. Aku tahu ia telah bekerja seharian. Pasti lelah baginya jika harus kembali lagi ke gudang itu untuk mengambil susu yang sama. Maka aku berbaik hati untuk memberitahunya jika ada Ibu lain yang juga mencari susu dengan merk itu.

Lama aku menelusuri gudang yang sepi dan penuh dengan kardus-kardus besar. Aku lalu mendengar suara-suara gaduh dan suara itu berasal dari tempat Nana. Ia terlihat sedang kesusahan menjangkau susu yang kucari karena berada di atas sebuah lemari.

Aku berjalan menghampirinya. Kulihat, ia berusaha meraih susu itu dengan berjinjit sehingga membuat baju seragam dan celana jeans-nya memberikan ruang yang cukup bagiku untuk melihat perutnya yang halus. Karena menatap pinggulnya yang menawan, dan buah dada yang ikut terik karena berusaha menjangkau ketinggian, aku hampir lupa untuk memberitahu pesanan ibu itu kepada Nana.

Aku semakin dekat ke arahnya dan ketika ia melihatku, ia hampir ambruk ke lantai karena kaget. Aku cepat memegang pundaknya yang meski kokoh, tetap saja lembut. Di lehernya, dapat kulihat tetesan keringat meluncur masuk ke baju dalamnya. Ia bernafas dengan cepat, dan semakin cepat ketika aku belum juga melepaskan tanganku dari pundaknya.

"Hmmm... di sana ada Ibu yang mencari susu yang sama." Kataku setelah jeda cukup lama. "Jadi, agar kamu tidak bolak-balik, aku ingin bilang padamu untuk membawa beberapa kotak lagi."

"Terima kasih." balas Nana dengan mata yang melihat ke langit-langit seakan artis idolanya sedang bergantung di atas sana.

Selanjutnya, setelah agak terkendali, Nana kembali berusaha meraih susu yang belum juga dapat ia ambil sejak tadi. Karena melihatnya masih kesusahan, aku -yang lebih tinggi- lantas membantunya dan mengambil 5 kotak susu. 2 untukku dan 3 untuk ibu tadi. Ia menyambut dengan agak canggung. Tangan halusnya menunjukkan kesan kaku yang membuatku ingin cepat keluar dari ruangan itu.

Aku tahu ia masih gugup. Dan aku, meski bisa menenangkan diri, juga masih terpana oleh kesadaran bahwa Nana jauh lebih cantik dari yang kukira. Dan sekonyong-konyong, saat hendak memberikan kotak susu terakhir, aku mencium bibirnya dengan lembut dan tanpa perasaan malu.

***

Sejak hari itu, aku tak pernah membeli susu di supermarket itu lagi. Tapi bukan berarti aku tidak pernah bertemu Nana. Bahkan lebih parah; aku kini bertemu dengannya setiap hari.

Pada saat kami berciuman -atau lebih tepat saat aku menciumnya-, ternyata ada CCTV di gudang yang merekam. Dan manajer Nana, yang kumisnya tebal seperti kuas cat, melihatnya dan langsung memecat Nana saat itu juga. Aku sempat berbohong pada manajer itu dengan mengatakan bahwa Nana mirip pacarku yang hilang kontak sejak 11 tahun lalu dan ciuman itu adalah semacam refleks alami karena rindu dan tidak pernah lebih. Tapi tentu ia tidak akan menjadi manajer sebuah minimarket jika percaya bualan murahan semacam itu. Ia malah menceramahiku dengan beberapa potong hadist tentang perzinahan dan aku tetap mendengarkannya dengan antusias meski aku bukan Islam.

Pada akhirnya Nana tetap dipecat dengan tidak hormat. Dan untuk menembus perasaan bersalah, aku menyuruh Nana untuk menjadi pembantu di rumahku saja.

Lagi pula, Rosie, anak kami, sedang dalam masa-masa pertumbuhan. Dan istriku -yang tidak tahu kejadian itu-, dengan segala kesibukannya, berfikir bahwa lebih baik jika kami menyewa jasa babysitter. Nana setuju menerima tawaranku karena ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menghidupi kedua orang tuanya yang mulai sakit-sakitan.

Dan begitulah ceritanya, setiap pagi, aku menyaksikan Nana bermain dengan anak kami di halaman rumah.

Suati hari, saat istriku sedang tidak ada di rumah, Nana, dengan tatapan gugup, berkata padaku jika susu anak kami telah habis. Aku diam kebingungan. Sudah beberapa bulan ini aku tidak membeli susu Rosie karena aku takut kejadian seperti itu akan terulang lagi. Sebagai gantinya, aku menyuruh tukang kebun kami untuk membelikannya karena ia bisa memakai motor. Tapi hari ini, tukang kebun kami tidak ada di rumah. Istriku pun sedang sibuk berkerja. Aku sendiri juga sudah lupa merk susu itu.

"Kalau begitu, kamu ikut aku membelinya. Aku sudah lupa merk susu itu." kataku kepada Nana. Ia yang sedari tadi menatap langit-langit (belakangan aku sadar itu memang hobinya), lekas berbalik dan berganti baju. Aku mengambil kunci mobil dan sesaat kemudian kami berdua berangkat.

Kami berkeliling ke semua minimarket dan supermarket, tapi susu itu tetap tidak kami temukan. Menurut penjaga di sana, susu merk itu akhir-akhir ini sulit dicari. Hanya satu supermarket yang belum kami temui; supermarket tempat Nana bekerja dulu.

Aku mengatakan apakah ia mau pergi ke sana. Nana hanya mengangguk meski aku tahu ia malu jika harus bertemu mantan manajer dan teman penjaganya sewaktu ia masih bekerja. Apalagi sekarang ia pergi denganku (yang akan semakin mendramatisir hubungan kami dalam gosip harian mereka.)

Akhirnya kami pun berangkat dan ketika sampai, tanpa basa-basi, aku dan Nana lekas menuju lorong tempat deretan susu berjejer. Namun setelah cukup lama mencari, susu itu juga tidak ada di sana. Tapi Nana bilang, di gudang, di antara tumpukan-tumpukan kardus, susu itu pasti ada.

"Mereka selalu punya stok yang banyak." Kata Nana. Aku hanya mengangguk meski tak paham apa susahnya buat mereka untuk menjajarkan susu itu di sini dan tidak menyembunyikannya di dalam gudang.

Kami melihat ke sekeliling, dan tidak ada penjaga yang bisa dimintai pertolongan. Kami hampir memutuskan pulang tapi beberapa saat kemudian, istriku yang telah pulang ke rumah menelepon jika anak kami menangis tak henti-henti karena belum minum susu.

Aku bilang kepada Nana bagaimana. Ia mengatakan bahwa ia akan masuk diam-diam ke dalam gudang lalu mengambil susu itu.

"Kamu masih ingat letak susu itu?" Tanyaku pada Nana. Ia mengangguk.

Aku lalu mengiyakan namun beberapa saat. Setelah ia masuk, aku teringat Nana tidak akan bisa mengambil susu itu karena letaknya cukup tinggi.


Setelah menunggu cukup lama kalau-kalau Nana berhasil, aku tak kuasa untuk ikut masuk agar pekerjaan ini lebih cepat selesai. Namun, ketika akan masuk ke dalam pintu gudang, aku teringat susu dengan kotak biru yang kupilih sama dengan baju Nana waktu itu. Susu yang stoknya selalu habis. Susu yang membuat situasi menjadi canggung. Ah, andai saat itu aku memilih susu dengan warna lain yang stoknya selalu ada, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.