Minggu, 26 April 2015

Perpisahan SMA

Hari Sabtu minggu lalu, sekolah saya menyelenggarakan acara perpisahan anak kelas 3. Dan beberapa hari sebelum acara dilaksanakan, saya berfikir untuk memposting tulisan tentang itu setelah acaranya selesai. Tentu saja di blog ini. Tapi sampai berhari-hari kemudian, saya tak mendapatkan alasan mengapa saya harus menuliskannya. Barangkali acara itu kurang emosional bagi saya, atau mungkin terlalu biasa saja, atau barangkali juga saya lagi malas ngetik waktu itu.

Sebenarnya saya tidak tahu apa makna dibalik sebuah perpisahan. Yang saya tahu, semua dari kami tidak pernah benar-benar pergi. Karena kota kami kecil, terlampau mudah untuk menemukan teman-teman seangkatan tanpa harus terjebak dalam drama melankoli yang bikin nangis bermalam-malam. Tapi saya lupa, ada satu yang pasti terjadi dalam sebuah perpisahan: akan ada kenangan yang selalu diingat hingga berhari-hari berikutnya. Dan akan muncul ketika sepi datang, lalu menumbuhkan perasaan nostalgia di malam-malam yang pasti akan sangat kita benci.

Ternyata perpisahan yang saya (dan mungkin semua anak lelaki angkatan kami) anggap biasa, berbeda dengan teman-teman wanita. Anak laki-laki cenderung woles-woles saja. Santai bahkan masih sempat mengeluarkan caci-maki ketika salam-salaman. Berbeda dengan wanita yang harus nangis sekaligus menahan kesal karena make up diwajah mereka jadi tidak karuan (maklum pakai kebaya).

Tapi disinlah konon bahayanya laki-laki. Menurut pengamat percintaan twitter, ketika sebuah hubungan berakhir, sang wanita akan menangis semalaman dan si lelaki hanya biasa-biasa saja. Namun berbeda di bulan-bulan kemudian; ketika si wanita telah move on dengan tangan lelaki lain mengelus pundaknya, sang mantan yang kemarin biasa saja itu bisa jadi sedang sedih-sedihnya karena baru sadar ada sebuah kebiasaan indah yang hilang.

Hal ini barangkali sejalan dengan perpisahan anak SMA. Ketika murid wanita lebih ekspresif dengan tangis yang berdarah-darah di hari H, murid lelaki mungkin baru akan terserang perasaan nostalgik itu setelah berminggu-minggu lamanya. Sesuatu yang datang secara tiba-tiba dan tak dapat ditawar-tawar. Sesuatu yang konon membuat pikiran kita remuk redam karena kenapa semua jadi cepat berlalu. Dan yang paling penting; kenapa kemarin gak ikutan nangis.

Tapi tentu saya berharap itu tidak terjadi kepada saya. Karena mengingat kenangan itu gak enak dan menyebalkan. Lebih menyebalkan dari tobat sebentar waktu dengar ceramah pak ustad, tapi maksiat lagi berjam-jam setelahnya.

Sekarang yang harus saya lakukan hanya memikirkan masa depan sambil terus begadang di malam harinya karena udah gak sekolah. Juga saya harus rajin-rajin ke kantor polisi untuk mengurus surat menyurat yang diperlukan buat kuliah (ini bagian yang paling saya benci). Dan ya, saya juga harus lebih banyak waktu buat baca karena ini waktu yang tepat untuk menghabiskan stok buku yang belum disentuh dari dulu-dulu.


Terakhir, ini ada foto saya saat perpisahan bersama calon finalis Dangdut Academy. Teman baik yang juga korban bully saya di kelas ini punya skill dangdut di atas rata-rata remaja seusianya. Sebenarnya tidak hanya dangdut karena ia juga jago dalam berbagai genre. Bahkan ketika hari terakhir kami belajar di kelas, dengan gagah berani ia menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Sungguh tiada banding...

mantabzzz

Rabu, 15 April 2015

Selesai UN

Alhamdullilah, hari ini saya berhasil menyelesaikan Ujian Nasional dengan keadaan sehat dan baik-baik saja,  tanpa ada gangguan sedikit pun pada bagian otak. Setelah 3 hari bertempur dengan soal buatan orang-orang yang penuh dosa itu, saya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena saya tidak perlu repot-repot sekolah lagi. Sedih karena kenapa gak dari kelas satu saja saya ujian nasionalnya.

Jujur saja, saya tidak mempersiapkan apa-apa pada ujian nasional kali ini selain pensil dan penghapus. Saya tidak banyak belajar karena saya memegang teguh sikap tawakal. Berserah diri sepenuhnya pada keadaan ( ini tawakal versi saya sendiri). Hasilnya sungguh bisa ditebak. Setengah dari waktu UN saya habiskan untuk menghayal bagaimana jika saya menjadi pemain bola sejago Eden Hazard, dan membawa Chelsea menjadi juara Liga Champions lewat gol keren seperti yang dilakukan maradona ketika melawan Inggris di piala dunia 1986.

Untuk pelajaran bahasa memang masih bisa ditoleransi. Namun ketika pelajaran-pelajaran IPA, saya benar-benar tidak paham. Untungnya, beberapa teman ada yang sama seperti saya, sehingga sedikit banyak menumbuhkan motivasi bahwa yang susah memang soal, bukan otak saya. (((setuju bang)))

Sebenarnya untuk pelajaran IPA, saya menerapkan strategi “culik satu per satu”. Stretegi ini saya dapatkan ketika masih aktif menjadi atlet Point Blank semasa SMP. Caranya, ketika situasi terdesak, jangan serang kerumunan lawan, tapi usahakan untuk one by one, tentu saja dengan asumsi kita akan memenangkannya. Namun apa di kata, strategi one by one saya melawan soal benar-benar gagal. Untuk menyelesaikan pertandingan melawan satu soal, tidak kurang dari 20 menit waktu yang saya habiskan. Tentu dengan nafas yang terengah-engah dan lecet dimana-mana. Alhasil, ketika waktu hampir selesai, yang terisi baru beberapa soal.

Strategi lain adalah mencatat semua rumus. Tapi ya gimana. Tak kenal maka mati aja. Jika tidak tahu caranya ya percuma bawa rumus. Sampai payudara mbak Pamela Safitri mengecil ya tetap gak akan ketemu.

Namun dibalik kesulitan itu, tentu ada jalan keluar. Manuver-manuver ringan pasti dilakukan agar setidaknya bisa dapat nilai diatas 3. Mulai dari latihan menebak soal, menghitung akurasi jawaban lewat suhu cuaca, sampai ritual menerawang kunci jawaban dengan bantuan angin yang berhembus telah saya pelajari sebelum UN. Harapan saya semoga cara itu berhasil. Tapi kalau tidak ya tidak apa-apa, yang penting Chelsea juara liga Inggris.


Minggu, 08 Maret 2015

Dukung Kak Nazar dan Bang Ipul Sebagai Bapak Rekonsiliasi Nasional

Saya tak henti-hentinya menitikkan air mata ketika di tengah-tengah kekacauan bangsa, ada dua nama yang entah sengaja atau tidak, meski saling berselisih pada banyak kesempatan, tetap bisa bersahabat dengan baik. Dua orang ini ialah Kak Nazar dan Bang Syaiful Jamil.

Jika anda termasuk orang yang masih optimistis dengan geliat dangdut nasional, anda pasti sering menonton Dangdut Academy. Acara pencarian biduan teranyar ini sekaligus menjadi tempat dua kubu beda ideologi bertemu; Kak Nazar dan Bang Ipul. 

Hal itu bukan tuduhan tanpa alasan. Pasalnya, dalam tiap kesempatan, Kak Nazar dan Bang Ipul selalu beda pendapat. Dalam hal sekecil apapun, mereka berdua selalu menolak sama. Tak jarang situasi memanas jika keduanya sudah beradu argumen. Namun tahukah anda, di acara lain, dengan talkshow bernama Duo Pedang, Kak Nazar dan Bang Ipul tampil bersama sebagai pembawa acara dengan sangat kompak, syahdu, dan aduhai. Seolah-olah diantara mereka tak pernah terjadi perselihan. 

Ya, acara Duo Pedang tak bisa hanya dihikmati sebagai acara murahan, melainkan tempat sakral di mana dua orang yang terlampau sering saling sangkal, bisa dipertemukan layaknya sahabat karib. Hal yang agaknya mustahil dilakukan pada mereka yang bertikai saat ini.

Perselisihan yang ada sekarang sudah bukan lagi untuk mencari jalan keluar, melainkan sebagai ajang saling keras kepala. Merasa diri paling benar. Paling baik. Paling bersih dan paling-paling yang lain. Sebuah sikap yang sungguh jauh dari kepribadian Kak Nazar dan Bang Ipul. SubhanAllah.

Ambil contoh Pak Ahok dan Haji Lulung. Perdebatan mereka semakin ke sini semakin sulit menuju kata rekonsiliasi. Bahkan mediasi yang sudah direncanakan pun gagal. Argumen-argumen saling serang malah terus bermunculan dari Pak Ahok dan Pak Haji Lulung. Memang, dalam sebuah perselisihan, perbedaan pandangan itu wajar. Tapi ya gak harus beda melulu sampai sekarang. Kalau sudah begini, jalan tengahnya gak ketemu-ketemu.

Sebagai pejabat publik, harusnya kedua tokoh ini malu. Padahal jika dua orang ini punya kesucian hati layaknya Kak Nazar dan Bang Ipul, bukan tidak mungkin keduanya akan saling rangkul untuk duduk bersama lalu menyelesaikan masalah yang ada.

Selain Ahok dan Haji Lulung, sungguh masih banyak lagi contoh-contoh lain dari mereka yang bertikai tapi sangat sulit untuk bermaafan pada saat ini. KPK vs Polri, warga vs begal, jomblo vs mantan pacarnya adalah segelintir dari banyak masalah yang hanya berakhir pada ego masing-masing.

Maka dari itu, sebagai manusia yang miskin ilmu dan cacat logika, kita harus banyak-banyak belajar dari agen-agen perubahan bangsa semacam Kak Nazar dan Bang Ipul. Alih-alih berkelahi satu lawan satu setelah berselisih paham, keduanya malah duduk bersama sebagai host yang kompak dalam sebuah acara televisi. Melupakan segala permasalahan yang ada meski keesokan harinya harus berdebat lagi.

Dalam hal ini, Kak Nazar dan Bang Ipul telah mengajarkan kita cara hidup yang bijak lewat petuah umum yaitu show don’t tell. Keduanya tak banyak bicara tentang apa itu rekonsiliasi seperti aktivis socmed yang kebanyakan nulis berat-berat-kayak-ada-yang-mau-baca-aja, melainkan secara sadar memperlihatkan dengan jelas kepada khalayak ramai bagaimana cara saling memaafkan lewat acara Duo Pedang.

Kebesaran hati, pikiran yang terbuka, serta otak yang waras memang harus jadi kewajiban jika ingin meniru Kak Nazar dan Bang Ipul. Sikap dewasa mereka sungguh melampaui zamannya dan harus menjadi pedoman hidup bagi generasi muda saat ini.

Kemampuan Kak Nazar dan Bang Ipul dalam memaafkan adalah bukti nyata, bahwa sebagai manusia, keduanya tak hanya layak kita kenal sebagai pedangdut kondang yang rajin caper sana-sini. Melainkan juga sebagai Bapak Rekonsiliasi Nasional.

 (((Teladan umat)))

Kamis, 05 Maret 2015

Nonton Bola ala Jomblo

Tulisan ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterbitkan di situs jombloo.co
 
 ***

Jomblo dan Sepakbola adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Layaknya sendok dan garpu, keduanya saling bersatu agar kehidupan ini terasa seimbang. Sepakbola sungguh membantu jomblo untuk melupakan sejenak pertanyaan-pertanyaan intimidatif seperti “malam minggu ini pergi ke mana?”, sebaliknya, Jomblo memberi sumbangsih besar terhadap rating laga-laga sepakbola. Sungguh perpaduan yang harmonis dan bersahaja.

Namun taukah anda, dalam menonton tayangan sepakbola, Jomblo seringkali punya ciri-ciri yang unik dari yang lain. Ciri-ciri ini sungguh identik, dan sulit ditemukan pada mereka yang berpasangan. Seperti apa? Silahkan simak sendiri.
  1. Lebih Menghambur-hamburkan Uang
Bagi jomblo, nonton paling aman adalah di rumah sendiri. dan seperti yang kita tau, nonton bola sendirian sungguh dekat dengan kebosanan. maka untuk menghilangkan rasa kikuk yang berkepanjangan, sore sebelum laga harus jadi ajang borong makanan ringan ke minimarket. saat-saat inilah uang terasa lebih cepat keluar. namun seorang jomblo tak mudah menyesal setelahnya. untuk siapa lagi kekayaan ini jika hidup hanya seorang diri?
  1. Sering cuci muka
masalah terbesar kaum jomblo saat menonton bola adalah perihal waktu. laga-laga yang disiarkan terlalu kemalaman sangat rentan membuat jiwa-jiwa sepi ini lekas mengantuk. hal ini berbeda dengan mereka yang pacaran, yang tetap terjaga karena bisa BBM-an sama pacar yang juga ikut nonton. kalau jomblo sih sulit, jangankan BBM dari manusia, dari operator handphone pun jarang-jarang. Maka dengan situasi seperti ini, ngantuk tentu lebih cepat datang, dan si jomblo harus bolak-bali kamar  mandi untuk cuci muka agar tetap kuat melanjutkan hingga 90 menit akhir. namun jika ia fans tim semenjana seperti Liverpool, ajang cuci muka ini adalah kedok untuk menghapus air mata. akibat terlalu sedih melihat permainan tim kesukaan yang begitu semenjana.
  1. Lebih sering ngetwit
bila pertandingan dirasa terlalu sumpek dan menyedihkan untuk dinikmati, jomblo biasanya punya trik lain untuk menghibur diri; menjadi komentator linimasa. berbagai komentar pedas pun dilayangkan lewat 140 karakter. kadang bernas, kadang menggigit, kadang juga tidak nyambung. namun untuk upaya penghiburan diri, hal ini tetap mereka lakukan. bahkan tak jarang komentar mereka terlalu pedas, dengan harapan akan membuat sang geberan terbuka mata bahwa mereka sungguh sudah khatam dengan dunia sepakbola. namun sayang, kode itu lebih sering jadi twit belaka. jarang berbuat lebih.

Demikian ciri unik nan identik pada seorang jomblo ketika menonton sepakbola. masih banyak ciri-ciri lain tentu saja, sebab para jomblo konon punya ritual masing-masing dalam menatap dunia. dan tentu saja, semuanya dilihat dengan ratapan merana sambil bertanya-tanya “kapan bisa nonton sama dia?”