Jumat, 26 Desember 2014

Mojok di Mojok.co



Malam itu saya berbincang-bincang dengan seorang teman disebuah tempat yang mempunyai akses wifi. Sambil download bokep berselancar di dunia maya, kami juga bercerita tentang kemungkinan-kemungkinan jurusan kuliah yang akan kami ambil selepas SMA.

Saya sendiri bilang padanya ingin mengambil jurusan tekhnik informatika kalau bisa. Dan entah bagaimana kisahnya, tiba-tiba saya bercerita juga padanya bahwa saya ingin menjadi penulis lepas. Ia mengernyitkan dahi, mungkin bertanya penulis lepas itu apa.

Saya cepat-cepat menjelaskan apa itu penulis lepas. Dia mengangguk paham dan pembicaraan berganti ke topik lain yang lebih penting.

***

Sebenarnya, saat berkata saya ingin jadi penulis lepas, saya punya keraguan tersendiri. Pasalnya, saya telah mengirimkan tulisan 1 hari yang lalu kepada sebuah webiste yang membahas perilaku politik, sosial dan budaya sekaligus dengan analisis tajam namun menggunakan bahasa yang benar-benar seperti ditulis sambil menunggu indomie selesai dimasak.

Singkat kata, 1 hari setelah mengirim tulisan, paginya saya menunggu. Apakah tulisan saya akan naik ke website tersebut atau tidak. Saya tidak berharap banyak memang, tapi semangat saya cenderung mudah dipatahkan. Tak lama berselang, admin twitter website tersebut lantas men-twit artikel yang naik pada hari itu. Dan ya, mudah ditebak, tentu itu bukan tulisan saya.

Saya tidak kecewa tentu saja, juga tak pernah terpikir untuk mengira tulisan saya akan naik pada hari berikutnya, mengingat momentum tulisan saya, setidaknya menurut saya sendiri, adalah hari itu.

Saya membaca tulisan yang naik saat itu. Penulisnya memang sering sekali menulis untuk website tersebut. Tulisannya juga bagus sekali. Jika dibandingkan dengan tulisan saya, mungkin sejauh jarak antara perdebatan diskusi di negara maju dan di Indonesia.

Malamnya, ketika nyantai di tempat wifi dan lama berbincang tentang hal tak penting, saya menyempatkan buka twitter sebentar. Ternyata di laman interaksi saya, saya difollow pemred website tersebut. Saat itu saya masih mengira tulisan saya tak akan naik, jadi saya pikir orang itu mungkin hanya iseng follow saya atau mungkin ingin melihat siswa bahlul yang berani-beraninya ngirim tulisan ke website yang diisi penulis nomer wahid.

Tentu pas difollow beliau, saya membalas dengan folbek. Dan secara sengaja, saya membuka laman twitter dia. Saya melihat twit-twit dia, eh dia memberi kode “besok bakal ada tulisan anak SMA di @mojokdotco, ngomongin... Hhe” 

Memang tidak ada penjelasan spesifik dan khusus di kalimat itu yang merujuk pada saya. tapi tanpa tau malu, saya pede menanyakan. “bang naik ya bang wk ~?” 

Tidak jelas juga di balasan saya yang naik itu apa. Pokoknya  masih abu-abu saat itu.

Eh tidak lama berselang, bang Bana membalas “yoi. Ntap!”

Saya bahagia campur takut. Bahagia karna tentu kebanggan bisa menulis di website yang biasa diisi tulisan-tulisan Puthut EA, Arman Dhani, Agus Magelangan dan sederet penulis beken lain. Tapi saya takut apakah tulisan saya akan bekerja dengan baik, atau sebaliknya; membuat muka saya malu dengan komentar pedas mereka yang tak puas. Terlebih tulisan itu dimuat pada hari natal. Pada hari bersejarah biasanya tulisan di Mojok pasti diisi dengan kata-kata yang penuh makna. Tapi kali ini malah akan diisi oleh tulisan saya, yang tak jauh beda dengan otak si itu...

Tapi tidak apa-apa, saya telah mengikhlaskan tulisan saya untuk berbicara sendiri. Biar ia yang menentukan mau dibawa ke mana muka saya. Sekarang saya ingin browsing dulu, kali-kali ada website lain yang juga sering khilaf...


Ps: kalau anda sedang tak sibuk, silahkan buka mojok.co dan cari tulisan saya berjudul Tiga Argumentasi Paling Sahih Mengapa Ucapan Selamat Natal itu Haram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar