Malam itu saya berbincang-bincang
dengan seorang teman disebuah tempat yang mempunyai akses wifi. Sambil download
bokep berselancar di dunia maya, kami juga bercerita tentang
kemungkinan-kemungkinan jurusan kuliah yang akan kami ambil selepas SMA.
Saya sendiri bilang
padanya ingin mengambil jurusan tekhnik informatika kalau bisa. Dan entah
bagaimana kisahnya, tiba-tiba saya bercerita juga padanya bahwa saya ingin
menjadi penulis lepas. Ia mengernyitkan dahi, mungkin bertanya penulis lepas
itu apa.
Saya cepat-cepat
menjelaskan apa itu penulis lepas. Dia mengangguk paham dan pembicaraan
berganti ke topik lain yang lebih penting.
***
Sebenarnya, saat
berkata saya ingin jadi penulis lepas, saya punya keraguan tersendiri.
Pasalnya, saya telah mengirimkan tulisan 1 hari yang lalu kepada sebuah webiste
yang membahas perilaku politik, sosial dan budaya sekaligus dengan analisis
tajam namun menggunakan bahasa yang benar-benar seperti ditulis sambil menunggu
indomie selesai dimasak.
Singkat kata, 1 hari
setelah mengirim tulisan, paginya saya menunggu. Apakah tulisan saya akan naik
ke website tersebut atau tidak. Saya tidak berharap banyak memang, tapi
semangat saya cenderung mudah dipatahkan. Tak lama berselang, admin twitter
website tersebut lantas men-twit artikel yang naik pada hari itu. Dan ya, mudah
ditebak, tentu itu bukan tulisan saya.
Saya tidak kecewa tentu
saja, juga tak pernah terpikir untuk mengira tulisan saya akan naik pada hari
berikutnya, mengingat momentum tulisan saya, setidaknya menurut saya sendiri,
adalah hari itu.
Saya membaca tulisan
yang naik saat itu. Penulisnya memang sering sekali menulis untuk website
tersebut. Tulisannya juga bagus sekali. Jika dibandingkan dengan tulisan saya,
mungkin sejauh jarak antara perdebatan diskusi di negara maju dan di Indonesia.
Malamnya, ketika
nyantai di tempat wifi dan lama berbincang tentang hal tak penting, saya
menyempatkan buka twitter sebentar. Ternyata di laman interaksi saya, saya
difollow pemred website tersebut. Saat itu saya masih mengira tulisan
saya tak akan naik, jadi saya pikir orang itu mungkin hanya iseng follow saya
atau mungkin ingin melihat siswa bahlul
yang berani-beraninya ngirim tulisan ke website yang diisi penulis nomer wahid.
Tentu pas difollow
beliau, saya membalas dengan folbek. Dan secara sengaja, saya membuka laman
twitter dia. Saya melihat twit-twit dia, eh dia memberi kode “besok bakal ada
tulisan anak SMA di @mojokdotco, ngomongin... Hhe”
Memang tidak ada
penjelasan spesifik dan khusus di kalimat itu yang merujuk pada saya. tapi
tanpa tau malu, saya pede menanyakan. “bang naik ya bang wk ~?”
Tidak jelas juga di
balasan saya yang naik itu apa. Pokoknya
masih abu-abu saat itu.
Eh tidak lama
berselang, bang Bana membalas “yoi. Ntap!”
Saya bahagia campur
takut. Bahagia karna tentu kebanggan bisa menulis di website yang biasa diisi
tulisan-tulisan Puthut EA, Arman Dhani, Agus Magelangan dan sederet penulis
beken lain. Tapi saya takut apakah tulisan saya akan bekerja dengan
baik, atau sebaliknya; membuat muka saya malu dengan komentar pedas mereka yang
tak puas. Terlebih tulisan itu dimuat pada hari natal. Pada hari bersejarah
biasanya tulisan di Mojok pasti diisi dengan kata-kata yang penuh makna. Tapi kali
ini malah akan diisi oleh tulisan saya, yang tak jauh beda dengan otak si
itu...
Tapi tidak apa-apa,
saya telah mengikhlaskan tulisan saya untuk berbicara sendiri. Biar ia yang
menentukan mau dibawa ke mana muka saya. Sekarang saya ingin browsing dulu,
kali-kali ada website lain yang juga sering khilaf...
Ps: kalau anda sedang tak sibuk, silahkan buka mojok.co dan cari tulisan saya berjudul Tiga Argumentasi Paling Sahih Mengapa Ucapan Selamat Natal itu Haram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar