Rabu, 24 Desember 2014

#ReviewPelem: The Grand Budapest Hotel

Setelah kemarin nge-review Gone Girl yang agak Gloomy dan  misterius, kali ini, saya akan membahas tentang salah satu film terasik tahun ini, The Grand Budapest Hotel. Film ini sebenarnya tayang di awal tahun 2014, yang membuat saya ingin membahasnya adalah karena film ini termasuk yang dijagokan dalam piala Oscar tahun ini.

Grand Budapest Hotel

Film yang ditulis dan didirect langsung oleh Was Anderson ini bercerita tentang  kisah  sebuah hotel bernama The Grand Budapest Hotel pada sebuah kota imajiner Zubrowka di pegunungan Alpen.

Awalnya, ini semacam kisah dari sebuah kisah yang dikisahkan lalu dikisahkan lagi. Iya, emang ribet. Scene awal film ini adalah seorang wanita sedang membaca buku The Grand Budapest Hotel yang ditulis oleh The Author (Tom Wilkinson).

Tom Wilkinson lewat The Author ingin berusaha mencyampaikan kembali cerita yang ia dapat dari pemilik Grand Budapest Hotel saat ia berkunjung ke sana beberapa waktu silam. The Author muda (Jude Law), saaat itu tengah berbicara dengan Zero Mousafa (F. Murray Abraham) yang ternyata punya kisah menarik tentang asal muasal bagaimana akhirnya ia dapat hotel ini. Di sinilah segala kekerenan terjadi.

The Author ketika Tua dan The Author saat muda

Zero Moustafa muda (Toni Revolori) awalnya adalah seorang lobby boy biasa di Grand Budapest Hotel, sebelum perkenalannya dengan kepala Concierge saat itu, Monsieur Gustave (Ralph Fiennes) membawanya ke petualangan seru dan mengubah jalan hidup dia.

Pertemanan Zero dan M. Gustave menjadi erat ketika mereka sama-sama harus menghadapi suatu masalah, yaitu ketika Madame D. (Tilda Wilton), seorang pengunjung Budapest Hotel yang menjadi kesayangan M. Gustave meniggal dunia. Ketika datang ke acara pembacaan wasiat, secara mengejutkan Madame D. ngasi warisan yang begitu berharga kepada M. Gustave yang membuat anaknya, Dmitri (Adrien Brody), pun gak terima.

Monsieur Gustave (yang tua) dan Zero (yang mukanya kayak bego)


Masalah jadi panjang ketika M. Gustave, yang tau warisan berupa lukisan terkenal zaman Renainsance berjudul “Boy With Apple” itu gak akan rela dilepasin Dmitri begitu aja, ngambil jalan pintas dengan mencuri lukisan tersebut bersama Zero dan menggantinya dengan lukisan 2 orang manusia tengah berhubungan seks. Bangsat emang.

Monsieur Gustave pun akhirnya dicari bahkan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan membunuh Madame D. Tapi lukisan tetap aman karna dibawa Zero yang kemudian ia simpan di sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Zero, Monsieur Gustave, dan kekasihnya, Agatha (Saoirse Ronan). Pencarian lukisan pun terus belanjut sampai akhir film.

Menonton Grand Budapest Hotel adalah keasikan tersendiri karna selain ide cerita yang unik, latar yang ditampilkan juga indah. Detail-detail kecil yang kadang kita anggap remeh seperti perabotan, ternyata punya nuansa tersendiri pada hotel di film ini. Ditambah ke-apik-an arahan musik dari Alexandre Desplat membuat film ini punya nyawa yang ngajak kita kembali ke zaman-zaman perang dunia II.

ntappppp!


Sebenarnya saya belum pernah menonton film lain dari Wes Anderson selain Grand Budapest Hotel, tapi sudah lama saya mendengar dia punya kekhasan tersendiri dalam mengolah musik dan eksekusi film yang punya keunikan dari yang lain.

Dari segi cast, film ini termasuk yang numpukin banyak pemeran baik yang baru maupun nama-nama yang sudah tua dan kita kenal. Toni Revolori dan Saoirse Ronan adalah muka-muka yang baru saya lihat. Tapi, akting keduanya cukup bagus kalau menurut saya. meski banyak yang memuji akting Ralph Fiennes di film ini yang memang sukses tampil flamboyan, puitis dan berkelas sekaligus, saya tetap menyimpan rasa kagum pada Toni Revolori. Sebagai bintang baru, kesuksesan ia berakting dengan begitu polos sukses membuat saya ingin membunuh Zero hidup-hidup.

Dalam dialog, saya merasa Grand Budapest memberikan dialog yang lumayan cepat, sehingga beberapa waktu saja ketinggalan akan cukup berpengaruh dalam memahami cerita. Memang seperti tak banyak humor yang diselipkan pada setiap ucapan pemerannya, namun yang membuat saya tak berhenti tertawa justru gestur para pemainnya. Gerak-gerik kaku ditambah muka seperti manusia yang tak pernah berdosa adalah salah satu hal yang membuat film ini, setidaknya menurut saya, tampak lebih “pecah.”

Scene terlucu tentu adegan tembak-tembakan di lantai atas pada penghujung film. Jika anda menontonnya, pasti anda tak berhenti tertawa. Meski begitu, film ini juga dibuat menegangkan dengan kehadiran sang pembunuh bayaran, Jopling (Willem Dafoe) yang dari segi muka memang seperti tukang parkir maksa dibayar 5ribu.

Jopling si pembunuh bayaran



Akhirnya, menonton Grand Budapest seperti membuka kotak yang didalamnya terdapat kotak lain dan demikian seterusnya. Meski tidak punya ending yang membuat saya merenung sepanjang malam, film ini tetap wajib tonton untuk menjaga kewarasan dan selera humor. 

Rating kelayakan tonton: R (ada bahasa yang tidak sopan, sedikit konten seksual dan kekerasan)
Genre: Drama, Komedi
Sutradara: Was Anderson
Screenplay: Was Anderson
Lama film: 1jam 39menit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar