Setelah kemarin
nge-review Gone Girl yang agak Gloomy dan
misterius, kali ini, saya akan membahas tentang salah satu film terasik
tahun ini, The Grand Budapest Hotel. Film ini sebenarnya tayang di awal tahun
2014, yang membuat saya ingin membahasnya adalah karena film ini termasuk yang
dijagokan dalam piala Oscar tahun ini.
Grand Budapest Hotel
Film yang ditulis dan
didirect langsung oleh Was Anderson ini bercerita tentang kisah sebuah hotel bernama The Grand Budapest Hotel pada
sebuah kota imajiner Zubrowka di pegunungan Alpen.
Awalnya, ini semacam
kisah dari sebuah kisah yang dikisahkan lalu dikisahkan lagi. Iya, emang ribet.
Scene awal film ini adalah seorang wanita sedang membaca buku The Grand
Budapest Hotel yang ditulis oleh The Author (Tom Wilkinson).
Tom Wilkinson lewat The
Author ingin berusaha mencyampaikan kembali cerita yang ia dapat dari pemilik
Grand Budapest Hotel saat ia berkunjung ke sana beberapa waktu silam. The
Author muda (Jude Law), saaat itu tengah berbicara dengan Zero Mousafa (F.
Murray Abraham) yang ternyata punya kisah menarik tentang asal muasal bagaimana
akhirnya ia dapat hotel ini. Di sinilah segala kekerenan terjadi.
The Author ketika Tua dan The Author saat muda
Zero Moustafa muda
(Toni Revolori) awalnya adalah seorang lobby boy biasa di Grand Budapest Hotel,
sebelum perkenalannya dengan kepala Concierge saat itu, Monsieur Gustave (Ralph
Fiennes) membawanya ke petualangan seru dan mengubah jalan hidup dia.
Pertemanan Zero dan M.
Gustave menjadi erat ketika mereka sama-sama harus menghadapi suatu masalah,
yaitu ketika Madame D. (Tilda Wilton), seorang pengunjung Budapest Hotel yang
menjadi kesayangan M. Gustave meniggal dunia. Ketika datang ke acara pembacaan
wasiat, secara mengejutkan Madame D. ngasi warisan yang begitu berharga kepada
M. Gustave yang membuat anaknya, Dmitri (Adrien Brody), pun gak terima.
Monsieur Gustave (yang tua) dan Zero (yang mukanya kayak bego)
Masalah jadi panjang
ketika M. Gustave, yang tau warisan berupa lukisan terkenal zaman Renainsance
berjudul “Boy With Apple” itu gak akan rela dilepasin Dmitri begitu aja,
ngambil jalan pintas dengan mencuri lukisan tersebut bersama Zero dan
menggantinya dengan lukisan 2 orang manusia tengah berhubungan seks. Bangsat
emang.
Monsieur Gustave pun
akhirnya dicari bahkan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan membunuh Madame D.
Tapi lukisan tetap aman karna dibawa Zero yang kemudian ia simpan di sebuah
tempat yang hanya diketahui oleh Zero, Monsieur Gustave, dan kekasihnya, Agatha
(Saoirse Ronan). Pencarian lukisan pun terus belanjut sampai akhir film.
Menonton Grand Budapest
Hotel adalah keasikan tersendiri karna selain ide cerita yang unik, latar yang
ditampilkan juga indah. Detail-detail kecil yang kadang kita anggap remeh
seperti perabotan, ternyata punya nuansa tersendiri pada hotel di film ini.
Ditambah ke-apik-an arahan musik dari Alexandre Desplat membuat film ini punya
nyawa yang ngajak kita kembali ke zaman-zaman perang dunia II.
ntappppp!
Sebenarnya saya belum
pernah menonton film lain dari Wes Anderson selain Grand Budapest Hotel, tapi
sudah lama saya mendengar dia punya kekhasan tersendiri dalam mengolah musik
dan eksekusi film yang punya keunikan dari yang lain.
Dari segi cast, film
ini termasuk yang numpukin banyak pemeran baik yang baru maupun nama-nama yang
sudah tua dan kita kenal. Toni Revolori dan Saoirse Ronan adalah muka-muka yang
baru saya lihat. Tapi, akting keduanya cukup bagus kalau menurut saya. meski
banyak yang memuji akting Ralph Fiennes di film ini yang memang sukses tampil
flamboyan, puitis dan berkelas sekaligus, saya tetap menyimpan rasa kagum pada
Toni Revolori. Sebagai bintang baru, kesuksesan ia berakting dengan begitu
polos sukses membuat saya ingin membunuh Zero hidup-hidup.
Dalam dialog, saya
merasa Grand Budapest memberikan dialog yang lumayan cepat, sehingga beberapa
waktu saja ketinggalan akan cukup berpengaruh dalam memahami cerita. Memang seperti
tak banyak humor yang diselipkan pada setiap ucapan pemerannya, namun yang
membuat saya tak berhenti tertawa justru gestur para pemainnya. Gerak-gerik
kaku ditambah muka seperti manusia yang tak pernah berdosa adalah salah satu
hal yang membuat film ini, setidaknya menurut saya, tampak lebih “pecah.”
Scene terlucu tentu
adegan tembak-tembakan di lantai atas pada penghujung film. Jika anda
menontonnya, pasti anda tak berhenti tertawa. Meski begitu, film ini juga
dibuat menegangkan dengan kehadiran sang pembunuh bayaran, Jopling (Willem
Dafoe) yang dari segi muka memang seperti tukang parkir maksa dibayar 5ribu.
Jopling si pembunuh bayaran
Akhirnya, menonton
Grand Budapest seperti membuka kotak yang didalamnya terdapat kotak lain dan
demikian seterusnya. Meski tidak punya ending yang membuat saya merenung
sepanjang malam, film ini tetap wajib tonton untuk menjaga kewarasan dan selera
humor.
- Rating kelayakan tonton: R (ada bahasa yang tidak sopan, sedikit konten seksual dan kekerasan)
- Genre: Drama, Komedi
- Sutradara: Was Anderson
- Screenplay: Was Anderson
- Lama film: 1jam 39menit





Tidak ada komentar:
Posting Komentar