Jumat, 13 Mei 2016

#ReviewBuku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Kecuali kita pekerja buku atau orang yang gemar menyakiti diri sendiri, rasanya pasti berat untuk menyelesaikan buku yang ketika dibaca tidak menimbulkan rasa menyenangkan. Rasa menyenangkan ini, bagi saya pribadi, bisa hadir lewat gaya bahasa yang unik, humor berlimpah atau jalan cerita yang membuat penasaran. Sedangkan cerita tidak menyenangkan kurang lebih seperti ini: Ia ditulis terlalu puitis tapi murahan dan setiap kalimatnya seperti tak pernah mengajak kita untuk sampai ke halaman terakhir.

Sebetulnya, menyenangkan atau tidak ini lebih ke bagaimana saya ingin membaca sebuah buku. Pada situasi di mana buku bagus tidak mempunyai pengaruh yang luar biasa amat ketimbang ustad digital, membaca buku yang menghabiskan 3 halaman untuk mendeskripsikan seekor anjing jelas tidak menyenangkan. Apalagi kalimat yang membuat kening berkerut sampai-sampai kita malas membaca kata selanjutnya.

Sekarang, saya lebih suka dengan buku-buku yang ditulis dengan ringkas, punya rasa humor, dan setiap kalimatnya mampu dijelaskan dengan sederhana. Di Indonesia, baru-baru ini, saya menemukannya lewat Novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom.

Buku ini adalah karya pertamanya yang saya baca. Sebelumnya, saya hanya membaca cerpen-cerpennya di internet. Selama membaca Mandasia, saya seperti didongengkan oleh tukang cerita yang jago melawak dan sedikit banyak tahu ilmu silat serta kuliner.

Raden Mandasia dalam otak saya adalah cerita tentang dendam yang sebenarnya murahan. Dendam yang lahir akibat kematian orang tersayang bisa dengan mudah ditemui di setiap desa di negeri ini. Jenis perkara yang barangkali bisa diselesaikan dengan rasa ikhlas. Tapi, dendam yang biasa itu disokong oleh kejadian-kejadian lain yang membuat semuanya memang harus dibayar secara lunas.

Orang yang dendam itu, yang bernama Sungu Lembu, adalah narator dari kisah ini. Ia adalah Pangeran Banjaran Waru yang ingin membalaskan dendam kepada kerajaan Giliwengsi dengan cara membunuh Watugunung, pemilik kekuasaan di sana. Pembalasan dendam itu jelas tidak memakan waktu satu dua hari melainkan harus dibayar dengan kisah-kisah bertualang ke negeri jauh yang sangat menarik untuk diikuti.
Jika anda membaca kata Giliwengsi atau Banjaran Waru di atas dan berfikir kalau ini adalah kisah kerajaan, bisa jadi anda benar. Tapi jika anda berfikir ia dikisahkan lewat pilihan kata semacam “apa gerangan saudaraku” atau “apakah boleh hamba pergi membeli sekarung goni beras wahai paduka raja” atau kalimat sebangsanya, anda jelas salah. Novel ini ditulis dengan pilihan kata yang jauh dari rasa bikin ngantuk nan lamban seperti itu. Novel ini ditulis cepat sekaligus penuh umpatan di sana-sini. Jenis novel tebal yang apabila dibaca sambil menyelesaikan bom nuklir dengan deadline minggu depan pun tetap bisa diselesaikan kurang dari 3 hari.

Raden Mandasia, bagi saya, hadir ketika sebagian besar dari buku-buku kita tak pernah menarik perhatian yang kuat. Ia diciptakan dengan nuansa seru dan ditulis secara efektif. Penulisannya juga diperhatikan secara cermat. Di buku ini, diksi digunakan sesuai dengan konteks waktu pada zamannya. Pengambarannya yang sederhana juga tak lantas membuat buku ini minim imajinasi. Kita tetap bisa menciptakan gambaran tentang dongeng ini di kepala tanpa harus membaca deskripsi yang kelewat panjang hingga kadang-kadang menjadi tak efektif sama sekali.

Tapi, di antara kelebihan itu, yang sedikit menggangu bagi saya adalah cerita ini diselesaikan terlalu cepat dan beberapa makian datang secara tak perlu. Selain kedua hal itu, buku ini penuh dengan kabar-kabar menyenangkan yang akan membuat kita merasa tak sia-sia telah mengenal sesuatu bernama buku dalam hidup. Hadirnya buku ini juga mau tak mau membuat saya tak sabar menunggu kisah-kisah menyenangkan seperti ini untuk diciptakan lebih banyak lagi.

Senin, 25 April 2016

Melihat Chelsea Musim Ini

Saya pikir, ketika Jose Mourinho kembali menangani Chelsea, tim ini akan berubah menjadi tim yang konsisten tiap musimnya. Musim pertama, hal itu mulai terlihat. Musim kedua, saya mulai merasa bahwa saya punya bakat dalam meramal. Tapi di musim ini, musim ketiga, rasa-rasanya memang betul sepakbola tak bisa ditebak.

Kegagalan Mourinho di awal-awal membuat tim ini bahkan tidak lagi seru untuk diolok-olok. Saya tentu sedih. Selain Mourinho dipecat, mengakhiri musim tanpa satu hal pun yang bisa dibanggakan jelas sangat buruk. Ada dua hal yang tidak dapat kamu lakukan karenanya. Pertama, tidak bisa mengolok-olok fans Arsenal karena kalian sama-sama tidak juara. Kedua, tidak bisa melihat Chelsea di UCL musim depan.

Sebetulnya, saya yakin perjalanan Chelsea musim ini bakal menyenangkan. Gabungan antara skuat muda dan tua semakin baik. Terlebih ditambah Pedro yang ketika awal musim, demi Tuhan, saya tidak tahu bagaimana cara dia bermain. Saya pikir awal-awal, bg Ped ilmunya gak kalah-kalah amat sama bg Messi. Tapi baru setengah musim, saya yakin dia kebanyakan bualnya.

Sebagai fans, jelas saya punya analisis pribadi. Bagi saya, hilangnya sosok bg Terry dikebanyakan laga musim ini benar-benar membuat lini belakang menangys. Bek-bek Chelsea tanpa bg Ter jadi mudah diserang. Ditambah Courtois yang musim ini tiap main kayak banyak keselnya.

Di depan lebih parah lagi. Gelandang kebanggan bg Hazard baru bisa cetak gol di BPL di laga kemarin. Padahal, beliau jelas yang paling diharap-harapkan. Satu-satunya nama yang konsisten mungkin cuma Willian dan Costa yang kebanyakan cedera.

Jelas sekarang saya sudah maklum. Sejak kalah lawan PSG di UCL, saya sudah melepaskan semua harapan buat Chelsea musim ini. Saya sudah ikhlas sebelum musim berakhir. Saya juga sudah yakin, tak ada mukjizat-mukjizat lagi.

Sekarang, satu-satunya yang bisa membuat Chelsea dikenang musim ini mungkin cuma perannya yang penting buat dua tim yang lagi dipersaingan juara: Leicester dan Spurs. Chelsea bisa buat Leicester angkat trofi pertama kali kalau menang lawan Spurs dan pura-pura begok di laga terakhir. Sebaliknya, Chelsea juga bisa bikin Spurs jadi keren kalau kalah lawan mereka dan ngalahin Leicester di akhir laga. Sebagai fans, jelas saya benci dua skenario itu. Tapi kalaupun harus memlih, saya akan mengusulkan pilihan ketiga; Chelsea imbang lawan keduanya dan membiarkan Leicester dan Spurs menentukan nasib mereka lewat laga-laga lain.

Senin, 28 Desember 2015

Cerita Dari STAR 2015

Sebagai remaja tanggung yang selama hidup merasa makan indomie dengan cabe rawit 5 biji sebagai pengalaman paling ekstrem, saya langsung merasa semua itu bukan apa-apa ketika mengikuti agenda STAR 24-26 Desember lalu.

Sebagai penjelasan singkat, STAR adalah kegiatan kegamaan dari lembaga dakwah di fakultas saya yang isinya adalah studi atau belajar di alam terbuka. Kegiatan ini, dengan segala agendanya, berhasil menggeser aktivitas makan indomie dengan cabe rawit tadi sebagai hal paling greget pada hidup saya.

Awalnya, sebagai mahkluk yang percaya bahwa malas-malasan adalah sebaik-baiknya aktivitas, saya jelas menolak untuk bergabung menjadi peserta STAR. Terlebih ketika mendengar isi-isi kegiatannya dari berbagai mulut, membuat saya yakin kalau kegiatan itu tidak akan saya ikuti bagaimana pun caranya.

Tapi sebagaimana hidup, takdir selalu berkata lain. Menjelang penutupan pendaftaran peserta, saya akhirnya mendaftar dengan alasan solidaritas antar kawan angkatan dan karena sedikit masukan dari senior.

Karena sudah terlanjur ambil bagian, perasaan ogah-ogahan pun saya usahakan buang jauh-jauh. Hari demi hari saya saya gunakan untuk menyesal memantapkan ikhtiar agar semuanya terasa mudah. Karena jika tidak begitu, pastilah kegiatan tersebut akan saya lalui dengan berat. Apalagi kegiatan dilakukan di luar kota dan selama 3 hari.

Akhirnya setelah beberapa waktu, hari H kegiatan pun tiba. Semua sudah saya siapkan. Niat pun IsnyaAllah sudah bukan lillahi paksaan lagi. Saya berusaha menjalani 3 hari ke depan dengan semangat ala-ala pejuang jihad yang ingin merebut kembali tanah impiannya. Sebuah perjalanan serupa ziarah ke tempat yang telah lama dirindukan. Sembari terus memompa nyali agar diam-diam tidak ciut.

Dan ketika kegiatan dilakukan, saya merasa perasaan malas yang saya miliki di awal sungguh hilang seketika. Setelah dilalui, acara ini ternyata tidak buruk-buruk amat. Kami berkemah di sisi pantai, dan tidur di tenda berisi 70an orang. Yang lebih mengasyikkan tentu ketika hiking ke atas bukit tepat jam 12 malam dan di malam jum’at melalui medan yang bisa dibilang lumayan bahaya. Sungguh greget sekali. Tapi semua terbayarkan ketika sampai di puncak. Hamparan laut serta pendar kemerahan lampu kota Singkawang pada subuh hari ternyata serupa melihat adegan JAV secara lansgung. Benar-benar bikin orgasme di tempat. Diam-diam, saya mulai menikmati kegiatan ini. Berbagai agenda lain pun sangat baik. Semisal simulasi masuk neraka yang meski agak aneh, tapi seru juga.

Setelah mengikuti kegiatan ini, jelas saya belajar banyak hal. Bahwa sesungguhnya saya masih perlu belajar lebih banyak untuk bisa menerima semuanya dari berbagai sisi. Apalagi acara ini sangat bagus untuk membunuh sikap-sikap egois pada diri saya yang mungkin sangat banyak. Dan tanpa disadari, saya belajar menjadi manusia.

Rabu, 09 Desember 2015

Belajar Jadi MABA

Ketika menulis postingan ini, saya tengah dibebani setumpuk laporan dan jurnal yang belum selesai serta berbagai macam tugas-tugas lain yang bikin kepala cenat-cenut.

Beberapa bulan menjadi mahasiswa benar-benar di luar ekspetasi saya. Awalnya saya pikir kehidupan kampus itu santai dan elegan. Datang, dengerin dosen, ngopi, pulang. Eh setelah lihat fakta di lapangan, kok rasanya semua itu cuma mimpi. Tugas yang menumpuk serta rasa gegas yang terus mengikuti dari belakang benar-benar membuat semuanya jadi tidak santai dan tidak lagi elegan.

Selain tugas yang susah-susah, kegiatan kampus juga ternyata ikut-ikutan bikin pusing. Banyak sekali kegiatan yang sebenarnya maksdunya baik, tapi karena dilakukan ketika sibuk-sibuknya, malah bikin saya pengen tidur aja di rumah.

Tapi kalau menurut senior-senior yang berbagi pengalaman, 1 tahun pertama ini katanya memang sedang berat-beratnya. Tugas kuliah, kegiatan untuk maba, dan sekelumit hal-hal lain akan selalu hadir sampai tahun depan.

Karena berbagai kegiatan ini juga, 1 hari rasanya cepat sekali. Bahkan waktu-waktu buat buka media sosial ataupun update berita-berita terbaru baru bisa pas udah malam. Sungguh ini berlawanan dengan semangat netizen zaman sekarang yang harus selalu up to date biar bisa selalu berkomentar terkait isu-isu terkini.

Selain tugas yang banyak, materi perkuliahan semester-semester awal pun ternyata kurang menyenangkan. Untuk jurusan saya (Sistem Informasi) bahkan harus belajar lagi pelajaran dasar Sains seperti kimia, fisika, dan biologi. Jujur saya tidak tau motivasi dibalik mata kuliah ini. Mungkin pihak universitas pengen saya nulis kode sambil pakai jas lab. Biar lebih kaffah.

Sialnya lagi, pelajaran yang kurang berguna bagi saya itu selalu ada praktikum tiap minggu. Dan jadilah saya seperti bodoh setiap minggu masuk lab buat buang-buang NaCl atau nungguin logam silinder bolak-balik sampai sepuluh kali.

Jujur, saya ngak tahu kapan penderitaan jadi mahasiswa baru ini berakhir. Mungkin masa-masa ini juga dialami semua MABA seluruh dunia. Amerika, India, Tumbuktu, semua mungkin merasakan kesibukan seperti saya. Jenis kesibukan yang menjengkelkan, tapi akan dikenang pada suatu waktu. Semoga


Kamis, 08 Oktober 2015

#ReviewPelem: The Martian



Akhir-akhir saya merasa goblok setengah mampus. Sejak masuk kuliah, kebiasaan saya semasa SMA benar-benar hilang. Jika waktu SMA saya tahan membaca berlembar-lembar cerita dari penulis latin atau mengikuti kisah reportase di timur tengah hingga bermalam-malam, sekarang, untuk sekadar membaca blurb buku pun saya malas. Begitu pun dengan kebiasaan nonton film yang sudah jauh berkurang. 

Hari-hari saya kini lebih banyak dihabiskan dengan main laptop atau nyantai sama kawan kuliah sambil ngomongin gerakan yang gak penting-penting amat. Aktivitas yang paling dekat dengan penyegaran otak paling-paling ngikutin berita StartUp atau iseng belajar bahasa pemograman di website-website e-learning. Itu pun karena saya kuliah jurusan begituan jadi ya gitu...

Karena itu, saya berusaha menggali lagi (((menggali lagi))) kecintaan saya pada dua ilmu paling penting sejagad raya: Sastra dan Film. 

Saya pun mulai cari-cari buku di toko buku, dan nonton film yang sedang diputar. Setelah gagal menemukan buku yang menarik dan hanya membeli buku Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia (itupun karena ada tulisan saya hheee), saya akhirnya menonton film yang lagi hits; The Martian.

Film garapan Ridley Scott ini pas saya baca reviewnya memang lumayan bagus. Kisah yang menceritakan perjalanan Mark Watney (Matt Damon) yang hidup sendirian di MARS karena suatu insiden.

Awal mulanya, saya cukup tertarik dengan film ini. Di scene-scene awal, The Martians bagi saya, cukup berhasil melawan arus klise film dengan tema luar angkasa dengan menceritakan bagaimana Watney bertahan hidup di Mars. Mulai dari cara ia menanam kentang sampai proses menghasilkan air di planet antah berantah. Semua dijelaskan dengan sederhana dan sangat menarik.

Tapi saya tau pembuka semacam itu tidak akan bertahan lama karena ini bukan kisah tutorial cara bertahan hidup di MARS, melainkan film luar angkasa yang sudah barang tentu ujung-ujungnya menguras emosi dan penuh tentangan.

Dalam sekejap, The Martian, seperti kisah luar angkasa lain yang sudah saya tonton, mulai menceritakan tentang perhitungan-perhitungan yang salah, lalu para tokohnya yang mulai putus asa, hingga kemudian melakukan titik balik yang begitu heroik.

Dalam taraf tertentu, meski bagus, The Martian tidak terlalu menarik perhatian saya (saya nguap beberapa kali). Saya bahkan ingin bilang The Martian tidak lebih bagus dari Intersellar. Sebagai penonton yang malas membedah hitung-hitungan sebuah film secara serius, saya masih menjagokan karya Nolan itu sebagai sesuatu yang lebih menguras emosi dan menimbulkan banyak pertanyaan setelahnya. Dua hal yang kurang saya dapatkan di The Martian.

Seperti yang saya bilang di atas, The Martian cukup mengesankan di awal, tapi gagal menarik perhatian saya hingga akhir. Saya sebetulnya berharap Michael Pena ikut terjebak di Mars. Sebagai penonton yang selalu nyari-nyari scene lucu, saya berfikir mungkin kehadiran dia bakal bikin film ini jauh lebih menghibur.

Kalaupun ada yang paling menarik perhatian saya dalam The Martian adalah bagaimana sains dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana oleh film ini. Gak banyak pernyataan-pernyataan yang bikin kening berkerut. Masih banyak lagi sih sebenernya seperti misalnya mbak Mackenzie Davis yang cantiknya MasyaAllah. 

Tapi untuk keseluruhan, The Martian bagi saya biasa aja. Sama biasanya seperti review saya yang gak jelas dan gak layak dianggap review ini. Terakhir, kalaupun anda ingin pesan di tulisan ini, saya cuma bisa bilang; jangan pernah punya cita-cita jadi astronout.

Senin, 10 Agustus 2015

Sekotak Susu, di Dalam Gudang



Anak kami, Rosie, telah berumur 2 tahun dan ia tidak lagi menyusui lewat puting ibunya. Ia tidak mau lagi minum ASI maka dari itu, setiap malam jum'at, sepulang dari kantor, aku harus pergi ke minimarket untuk membeli susu kotak milik Rosie.

Saat pertama kali membeli susu Rosie, aku tidak tahu susu yang mana yang cocok untuknya. Umurnya hampir 1 tahun, dan ia belum bisa berbicara untuk mengatakan ia ingin susu seperti apa. Aku lalu bertanya kepada penjaga di supermarket itu, yang rambutnya diikat karena meski ruangan itu ber-AC, ia tetap kepanasan. Ia lalu membawaku ke arah lorong tempat susu-susu kotak disimpan.

Ternyata, pada jam pulang kantor seperti ini, hanya aku yang mencari susu bayi. Kami berdua penjaga itu yang belakangan kuketahui namanya Nana, mulai melihat merk demi merk. Nana, dengan rambut panjang yang diikat hingga memperlihatkan telinganya yang putih dan halus, menjelaskan padaku merk setiap susu yang ada lengkap dengan penjelasan soal rasa, jangkauan umur, harga hingga promo-promo murahan di merk-merk tertentu.

Setelah selesai mendengar penjelasan Nana -yang tidak terlalu aku perhatikan-, aku memilih susu yang kotaknya berwarna biru. Aku memilihnya karena warna kotak itu persis seperti warna baju seragam yang dikenakan Nana. Aku lalu memilih rasa vanilla, dan ternyata anakku cocok-cocok saja. Hingga saat ini, anakku masih meminum susu itu.

Pada suatu petang sepulang kantor, di malam jum'at, aku menuju supermarket itu seperti biasa. Aku menuju lorong tempat susu-susu dijajarkan. Lorong yang jika dari pintu depan, aku hanya perlu belok kanan,dan lurus hingga ujung paling belakang tepat setelah lorong pembalut wanita -yang kujadikan patokan- dijajarkan. Tapi setelah lama berkeliling, aku tidak menemukan susu yang biasa aku beli. Aku berjalan untuk mencari para penjaga, dan melihat Nana sedang duduk di kursi plastik dengan tubuh tegapnya yang siap membantu para pelanggan kesusahan.

"Nana?" Panggilku sambil melambaikan tangan. Ia langsung berdiri dan dengan kaki rampingnya, ia bergegas menuju arahku.

Aku bertanya padanya apakah susu yang biasa kubeli stoknya habis. Dan sambil mengikat rambut, ia bilang tidak. Susu itu belum dikeluarkan dari gudang. Ia akan segera mengambilnya.

Aku menunggu Nana di tempat itu. Dan saat menunggu, untuk pertama kalinya pada jam-jam seperti ini, aku melihat Ibu-ibu yang juga sedang membeli susu untuk anaknya. Ia lantas menuju ke arahku, dan berhenti di deretan susu yang juga kucari.

"Sedang mencari susu yang biasa disimpan di sini?" tanyaku kepada Ibu yang kebingungan itu.

"Ya. Apakah sudah habis?" balasnya.

"Belum." kataku. "Anda perlu berapa?"

"3 kotak." jawab ibu itu.

"Tunggu di sini sebentar."

Aku lalu berjalan ke arah gudang tempat Nana mengambil susu kotak Rosie. Aku tahu ia telah bekerja seharian. Pasti lelah baginya jika harus kembali lagi ke gudang itu untuk mengambil susu yang sama. Maka aku berbaik hati untuk memberitahunya jika ada Ibu lain yang juga mencari susu dengan merk itu.

Lama aku menelusuri gudang yang sepi dan penuh dengan kardus-kardus besar. Aku lalu mendengar suara-suara gaduh dan suara itu berasal dari tempat Nana. Ia terlihat sedang kesusahan menjangkau susu yang kucari karena berada di atas sebuah lemari.

Aku berjalan menghampirinya. Kulihat, ia berusaha meraih susu itu dengan berjinjit sehingga membuat baju seragam dan celana jeans-nya memberikan ruang yang cukup bagiku untuk melihat perutnya yang halus. Karena menatap pinggulnya yang menawan, dan buah dada yang ikut terik karena berusaha menjangkau ketinggian, aku hampir lupa untuk memberitahu pesanan ibu itu kepada Nana.

Aku semakin dekat ke arahnya dan ketika ia melihatku, ia hampir ambruk ke lantai karena kaget. Aku cepat memegang pundaknya yang meski kokoh, tetap saja lembut. Di lehernya, dapat kulihat tetesan keringat meluncur masuk ke baju dalamnya. Ia bernafas dengan cepat, dan semakin cepat ketika aku belum juga melepaskan tanganku dari pundaknya.

"Hmmm... di sana ada Ibu yang mencari susu yang sama." Kataku setelah jeda cukup lama. "Jadi, agar kamu tidak bolak-balik, aku ingin bilang padamu untuk membawa beberapa kotak lagi."

"Terima kasih." balas Nana dengan mata yang melihat ke langit-langit seakan artis idolanya sedang bergantung di atas sana.

Selanjutnya, setelah agak terkendali, Nana kembali berusaha meraih susu yang belum juga dapat ia ambil sejak tadi. Karena melihatnya masih kesusahan, aku -yang lebih tinggi- lantas membantunya dan mengambil 5 kotak susu. 2 untukku dan 3 untuk ibu tadi. Ia menyambut dengan agak canggung. Tangan halusnya menunjukkan kesan kaku yang membuatku ingin cepat keluar dari ruangan itu.

Aku tahu ia masih gugup. Dan aku, meski bisa menenangkan diri, juga masih terpana oleh kesadaran bahwa Nana jauh lebih cantik dari yang kukira. Dan sekonyong-konyong, saat hendak memberikan kotak susu terakhir, aku mencium bibirnya dengan lembut dan tanpa perasaan malu.

***

Sejak hari itu, aku tak pernah membeli susu di supermarket itu lagi. Tapi bukan berarti aku tidak pernah bertemu Nana. Bahkan lebih parah; aku kini bertemu dengannya setiap hari.

Pada saat kami berciuman -atau lebih tepat saat aku menciumnya-, ternyata ada CCTV di gudang yang merekam. Dan manajer Nana, yang kumisnya tebal seperti kuas cat, melihatnya dan langsung memecat Nana saat itu juga. Aku sempat berbohong pada manajer itu dengan mengatakan bahwa Nana mirip pacarku yang hilang kontak sejak 11 tahun lalu dan ciuman itu adalah semacam refleks alami karena rindu dan tidak pernah lebih. Tapi tentu ia tidak akan menjadi manajer sebuah minimarket jika percaya bualan murahan semacam itu. Ia malah menceramahiku dengan beberapa potong hadist tentang perzinahan dan aku tetap mendengarkannya dengan antusias meski aku bukan Islam.

Pada akhirnya Nana tetap dipecat dengan tidak hormat. Dan untuk menembus perasaan bersalah, aku menyuruh Nana untuk menjadi pembantu di rumahku saja.

Lagi pula, Rosie, anak kami, sedang dalam masa-masa pertumbuhan. Dan istriku -yang tidak tahu kejadian itu-, dengan segala kesibukannya, berfikir bahwa lebih baik jika kami menyewa jasa babysitter. Nana setuju menerima tawaranku karena ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menghidupi kedua orang tuanya yang mulai sakit-sakitan.

Dan begitulah ceritanya, setiap pagi, aku menyaksikan Nana bermain dengan anak kami di halaman rumah.

Suati hari, saat istriku sedang tidak ada di rumah, Nana, dengan tatapan gugup, berkata padaku jika susu anak kami telah habis. Aku diam kebingungan. Sudah beberapa bulan ini aku tidak membeli susu Rosie karena aku takut kejadian seperti itu akan terulang lagi. Sebagai gantinya, aku menyuruh tukang kebun kami untuk membelikannya karena ia bisa memakai motor. Tapi hari ini, tukang kebun kami tidak ada di rumah. Istriku pun sedang sibuk berkerja. Aku sendiri juga sudah lupa merk susu itu.

"Kalau begitu, kamu ikut aku membelinya. Aku sudah lupa merk susu itu." kataku kepada Nana. Ia yang sedari tadi menatap langit-langit (belakangan aku sadar itu memang hobinya), lekas berbalik dan berganti baju. Aku mengambil kunci mobil dan sesaat kemudian kami berdua berangkat.

Kami berkeliling ke semua minimarket dan supermarket, tapi susu itu tetap tidak kami temukan. Menurut penjaga di sana, susu merk itu akhir-akhir ini sulit dicari. Hanya satu supermarket yang belum kami temui; supermarket tempat Nana bekerja dulu.

Aku mengatakan apakah ia mau pergi ke sana. Nana hanya mengangguk meski aku tahu ia malu jika harus bertemu mantan manajer dan teman penjaganya sewaktu ia masih bekerja. Apalagi sekarang ia pergi denganku (yang akan semakin mendramatisir hubungan kami dalam gosip harian mereka.)

Akhirnya kami pun berangkat dan ketika sampai, tanpa basa-basi, aku dan Nana lekas menuju lorong tempat deretan susu berjejer. Namun setelah cukup lama mencari, susu itu juga tidak ada di sana. Tapi Nana bilang, di gudang, di antara tumpukan-tumpukan kardus, susu itu pasti ada.

"Mereka selalu punya stok yang banyak." Kata Nana. Aku hanya mengangguk meski tak paham apa susahnya buat mereka untuk menjajarkan susu itu di sini dan tidak menyembunyikannya di dalam gudang.

Kami melihat ke sekeliling, dan tidak ada penjaga yang bisa dimintai pertolongan. Kami hampir memutuskan pulang tapi beberapa saat kemudian, istriku yang telah pulang ke rumah menelepon jika anak kami menangis tak henti-henti karena belum minum susu.

Aku bilang kepada Nana bagaimana. Ia mengatakan bahwa ia akan masuk diam-diam ke dalam gudang lalu mengambil susu itu.

"Kamu masih ingat letak susu itu?" Tanyaku pada Nana. Ia mengangguk.

Aku lalu mengiyakan namun beberapa saat. Setelah ia masuk, aku teringat Nana tidak akan bisa mengambil susu itu karena letaknya cukup tinggi.


Setelah menunggu cukup lama kalau-kalau Nana berhasil, aku tak kuasa untuk ikut masuk agar pekerjaan ini lebih cepat selesai. Namun, ketika akan masuk ke dalam pintu gudang, aku teringat susu dengan kotak biru yang kupilih sama dengan baju Nana waktu itu. Susu yang stoknya selalu habis. Susu yang membuat situasi menjadi canggung. Ah, andai saat itu aku memilih susu dengan warna lain yang stoknya selalu ada, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.

Selasa, 30 Juni 2015

LGBT


Saya jadi malas buka twitter di siang hari beberapa waktu belakangan karena timeline lagi sibuk-sibuknya berdebat tentang LGBT. Saya tidak punya urusan dengan gay dan melihat orang lain berdebat tentang mereka, saya malah jadi geli. Saya jadi geli karena mau tidak mau bukan perdebatan yang saya dengarkan, tapi malah bayangan tentang bagaimana menjadi seorang gay (semoga ini alamiah).

Kita memang menjadi sensitif sekaligus takut dengan percintaan sesama jenis karena ia menabrak setidaknya 2 norma; agama dan sosial. Jahanamnya, bila ia benar terjadi secara natural, barangkali juga menabrak keinginan manusia itu sendiri.

Tapi lebih dari tabrak-tabrakan di atas, yang membuat kita (atau setidaknya saya) menjadi geli adalah tidak ada yang menyenangkan dari mengadu "barang" anda dengan manusia sesama jenis. Tapi meski begitu, jangan juga anda berkelakar "lebih baik sama pantat sapi."

Walaupun demikian, anda tak perlu menghujat saya yang merasa geli karena urusan jijik atau tidak lagi-lagi perkara persektif. Tidak ada bedanya dengan disuruh memilih mana yang lebih nikmat antara susu sapi dan susu kambing. Ia adalah hal yang tidak bisa kita rasakan nikmatnya dari persektif kita, tapi membuat mereka di seberang sana terus berteriak "Sekali gesek bisa kale bang!!!"

Memang masalah LGBT bukan cuma perkara seksual dan nafsu saja. Entah ada berapa juta sesuatu lain yang konslet di sana sehingga di zaman semaju ini, kita masih harus dibingungkan dengan yang aneh-aneh begitu.

Kalau saya jujur malas menentukan sikap atas LGBT ini. Sama seperti saya tidak menentukan sikap atas masalah rokok, miras, atau hukuman mati. Kalaupun saya punya sikap atas masalah semacam ini, saya memilih diam. Pengecut memang tapi lebih baik dari pada menghabiskan energi untuk berdebat tanpa jelas ujungnya. Tentu dari sekian banyak argumen, pilihan untuk menggunakan argumen agama yang membuat saya berfikir lebih baik banyak-banyak ngaji dari pada ngurusin LGBT. Tapi seperti yang saya bilang, memilih diam bisa jadi pengecut meski kebanyakan bicara juga tak membuat kita menjadi terlihat lebih baik.

Jika ketika Paus dari Vatikan mengatakan, tidak perlu membernarkan LGBT namun boleh mentoleransi mereka dalam kehidupan masyarakat atas sumbangsihnya terhadap dunia, banyak didukung berbagai pihak, itu wajar. Selain pernyataannya yang teduh, tidak menghakimini, dan tidak dangkal seperti aktivis socmed, memang banyak para penganut LGBT yang punya dampak besar di dunia yang dihuni oleh kita yang geli dengan pernikahan sesama jenis. Sebut saja Alan Turing, bapak jenius si pemecah kode enigma yang tahun lalu kisahnya telah difilmkan dalam The Imitation Game. Meski pada akhirnya ia bunuh diri karena urusan batang dengan batang, ia tetap harus kita sejajarkan pengaruhnya dengan pencipta lampu, penemu pesawat, bahkan sampai level paling atas seperti orang yang pertama kali membuat kerupuk.

Adapun yang membuat saya benci mungkin dengan lambang LGBT yang kenapa harus pelangi. Karena kita tahu sesama jenis itu satu arah, maka ada baiknya ia dirayakan dengan satu warna. Dan usul saya, warna yang digunakan adalah warna hitam. Sehingga ketika saya melihat pelangi, saya tak perlu lagi merasa geli seperti saya melihat timeline twitter akhir-akhir ini.

Selasa, 23 Juni 2015

Curhat Buat AA Raffi dan Teh Gigi

Tulisan ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterbitkan di situs mojok.co

***

Samlikum, Teh Gigi. Yawlaaa, kemaren di acara 7 bulanannya cantik banget. Aku aja sampe nangis liatnya. Apalagi waktu liat Teteh sama Aa Raffi barengan ikut pengajian. Mata aku sampe berkaca-kaca loh, Teh. Yawlaaa…

Jadi gini, Teh… Aku mau curhat. Aku sengaja pilih curhat lewat E-mail gini ke Teteh, karena Aa Raffi pasti sibuk banget. Maklumlah artis papan atas. Teteh sih artis papan atas juga, tapi berhubung bentar lagi mau hamil, kan gak sibuk-sibuk amat. Jadi bisalah baca curhatan aku. Oh iya, sebenernya aku pengen kirim surat. Tapi
takut mahal bayar ongkos JNETeteh kan artis papan atas, takut nanti suratku malah dipasangin bom sama oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab—kayak Ahmad Dhani tempo hari. Kalau lewat E-mail kan aman. Ya paling-paling kena sadap geek yang kurang kerjaan.

Pertama-tama, kenalin dulu teh. Aku ketua RANS (Raffi-Nagita Fans) cabang Kalimantan. Aku tuh udah lama banget ngefans sama Aa Raffi dan Teh Nagita.

Aku juga udah lama yakin suatu saat kalian bakal menikah. Soalnya dulu tuh aku pernah mimpi ya, Teh, waktu itu aku lagi ngamen di lampu merah, terus liat Aa Raffi nyetir mobil ngebut banget sampai-sampai mobilnya nabrak mobil Teteh yang kebetulan lagi nungguin lampu ijo. Teteh marah dong, keluar dari mobil. Aa Raffi juga ikut keluar. Gak lama setelah kalian keluar, lampu ijo nyala. Karena ada mobil yang gak sabaran asal nyelonong aja, Teteh sama Aa ketabrak deh.

Nah, menurut buku primbon pedalaman di desaku, kalau ada dua orang ketabrak dalam mimpi, artinya mereka jodoh. Hehe. Jadi panjang gitu ya, Teh. Anggap aja itu pembuka, Teh. Hehe.

Gini, Teh… Aku tuh sedih banget acara 7 bulanan kemarin banyak yang nyinyir. Iya, Teh, banyak yang komen-komen negatif gitu. Tapi tenang aja, Teh, masih banyak kok yang dukung. Aku kasih liat ya, Teh, twit yang dukung? Gini bunyinya:

“Acara 7 bulanan Raffi sama Nagita ditayangin karena itu acara penting. Lebih penting dari pengungsi-pengungsi yang terlantar.”

Gimana, Teh, bagus kan twitnya? Temenku bilang, twit itu jenis satir atau apalah gitu. Aku sih gak ngerti satir itu makanan apa. Mungkin artinya dukungan kali ya, teh?

Aku kesel banget sama mereka yang nyinyir itu, teh. Masa mereka malah bandingin acara Teteh sama Aa dengan anak Presiden? Ini logikanya di mana ya, Teh? Padahal jelas-jelas Teteh sama Aa kan artis papan atas. Si anak Presiden itu mah cuma pengusaha katering, yang untungnya paling cuma bisa buat bayar gaji karyawan dan makan sehari-hari. Ya jelas acara nikahannya sederhana. Tapi sebenernya menurutku bukan sederhana deh, Teh. Itu lebih tepatnya kismin. Masa iya tamu undangannya dianter naik becak? Itu mau nikah apa mau ke pasar?

Lagian ya, Teh. Acara teteh kan acara 7 bulanan. Nah si anak Pak Presiden kemarin cuma acara nikahan. Bandinginnya itu gak kesemek to kesemek banget kan, Teh?

Acara 7 bulanan ditayangin di teve itu menurut aku ya wajar sih, Teh. Tipikal orang kismin ya gitu deh, Teh, dikit-dikit iri, dikit-dikit nyinyir. Padahal, Teh, kalau mereka punya kesempatan yang sama, pasti mau begitu juga.

Mereka ini, Teh, selain kismin dan iri, juga goblok. Masa iya acara Teteh sama Aa dibilang mewah? Hellawwww, mata mereka emang gak liat Aa’Raffi naik ojek sampe ketabrak-tabrak gitu? Kalo mewah tuh naiknya limosin atau pesawat jet. Ada-ada aja emang, Teh. Atau jangan-jangan mereka itu saking kamseupaynya sampai-sampai bilang naik ojek itu mewah? HAHA LOL!

Ya udah deh ya, Teh. Kayaknya curhatku udah dulu. Pokoknya Teteh sama Aa harus tetep semangat. Biarin aja para haters ngomongin Teteh sama Aa. Haters emang gitu, Teh.

Kalau Teteh sama Aa down karena haters, minta aja nasihat sama Ustadz apa gitu namanya. Pokoknya ustadz itu main twitter gitu, Teh. Ustadz gaul dan papan atas. Akhlaknya juga bagus, sama kayak Teteh. Buktinya meski diserang haters liberal dia tetap dakwah. Kayak cerita-cerita nabi gitu. Cocok deh sama Teteh dan Aa.

Udah dulu ya, Teh. Bentar lagi mau kopdar RANS se-Indonesia. Kita mau bikin project buat nyerang balik haters, gitu. Pokoknya Teteh sama Aa pasti suka. Oh iya, foto 7 bulanannya jangan lupa upload di Instagram ya, Teh. Salam ojek ketabrak!

Selasa, 16 Juni 2015

Anjuran kepada Jonru dan Bunda Eden agar Segera Melakukan RevolUFO

Tulisan ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterbitkan di situs mojok.co


*** 


Jokowi memang sedang tidak aman. Setelah upaya Jonru menurunkannya bagi sebagian orang dianggap gagal, ternyata sebenarnya tidak demikian. Banyak yang mengatakan bahwa Jonru sudah tidak becus menghadapi Jokowi. Namun pada saat ini, situasi masih bisa berubah. Tentu dengan syarat Jonru meminta bantuan teman seperguruan dari negeri seberang: Bunda Lia Eden. (Assalamualaikum, Bunda…)

Bunda Eden ini, konon mampu mendaratkan UFO. Sebuah alat transportasi yang menurut legenda karangan Hollywood adalah milik Alien dan, jujur saja, merupakan makhluk terbaik untuk meruntuhkan rezim Jokowi.

Memang terdengar tidak mungkin Jonru dan Bunda Eden akan bersatu mengingat Jonru adalah orang pertama yang akan melawan berbagai jenis kepercayaan lain selain agamanya. Apalagi, konon kepercayaan Bunda Eden dituduh sesat oleh pembawa kebenaran yang suka kagetan. Ah, tapi inilah satu-satunya jalan bagi Jonru. Untuk menjatuhkan Jokowi, saya kira bukan hal yang terlalu buruk bagi beliau untuk merapat ke kubu Bunda Eden. Bergabung menjadi satu untuk kemudian melakukan revolusi dengan basis masa terhebat sepanjang sejarah peradaban umat manusia: gabungan antara manusia bertopeng Guy Fawkes dan komplotan Alien suci. Rawrrrrr!

Setidaknya, ada dua alasan yang membuat Jonru harus percaya bahwa sebenarnya Bunda Eden juga ingin menurunkan Jokowi. Pertama, ia mengatakan Ahok adalah orang yang cocok untuk menjadi Presiden Indonesia selain Jokowi. Kedua, Bunda Eden juga meminta izin kepada Jokowi untuk “memarkir” UFO di Monas, yang menurut beberapa paranormal di pegunungan Alpen adalah “peringatan” kepada Jokowi supaya waspada terhadap serangan yang mungkin akan datang secara tiba-tiba. Entah ramalan ini benar atau salah, masih tergantung UFO yang dimaksud apakah jadi datang atau tidak.

Sekarang anggaplah jika keduanya memang bersatu menurunkan Jokowi, dan UFO Bunda telah terparkir rapi di pelataran Monas. Jonru-Bunda Eden. Kombinasi ini lebih menjanjikan dibanding duet Fidel Castro-Che Guevara. Jonru yang lebih dingin tentu akan mengontrol pasukannya lewat status-status Facebook yang membuat jiwa siapa saja bergelora. Sedangkan Bunda Eden, yang sudah progresif sejak dalam pikiran, akan ikut turun ke jalan, melakukan long march bersama Alien-alien miliknya. Sekilas, kombinasi ini bagaikan Kepala Divisi CIA dan Agen lapangannya yang siap menangkap penjahat sehebat apapun.

Yang membuat gerakan ini lebih hebat tentunya juga karena para pengikut mereka juga tidak kalah keren. Perpaduan yang menyeramkan antara manusia bertopeng Guy Fawkes pembela pribumi dan sekumpulan alien dari negeri antah-berantah tentu akan membuat Jenderal Moeldoko lekas minta izin mundur dari jabatan. Bayangkan saja, ketika para alien membasmi tentara dan polisi yang mencoba menghalangi demonstran dengan senjata berpeluru meteor, militan bertopeng Guy Fawkes asuhan Jonru diam-diam masuk ke dalam istana dan gedung parlemen, menaiki atap-atap tiap gedung lantas pada akhrinya merayakan revolusi yang berhasil dijalankan. Menurut perhitungan kasar saya, revolusi ini hanya perlu memakan waktu 60 menit (sudah termasuk istirahat makan nasi kotak).

Kalau sudah begini, tidak ada alasan bagi Jonru dan Bunda Eden untuk tidak bersatu. Jika memang punya ambisi untuk itu dan Bunda mengurungkan niat untuk pergi ke surga bersama UFO miliknya, keduanya bahkan sangat mungkin menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Jonru menjadi RI 1, Bunda Eden menjadi RI 2.

Sungguh mereka akan menjadi pemimpin yang selain sedap dipandang, juga membawa pesan keberagaman yang mulai hilang. Jonru Ginting yang terkenal ekstrem dalam membela keyakinannya ternyata adalah sosok yang sangat bisa menerima keyakinan Bunda Eden—yang kerap dijadikan bahan twit oleh manusia kurang kerjaan di Twitter. Jika ini terjadi, tentu lembaga keagamaan penyembah senyum Chelsea Islan pimpinan Agus Mulyadi tidak perlu berdiam diri lagi di dalam kamar masing-masing karena takut dibilang sesat. Mereka dapat menjalankan organisasi sebagaimana partai politik: merekrut jomblo-jomblo muda untuk bergabung dengan biaya registrasi hanya beberapa puluh ribu yang sudah termasuk kartu anggota, bonus poster wajah mbaknya, baju organisasi dan beberapa batang sabun mandi. Begitupun sekte penyembah Nabillah JKT 48, Pevita Pearce, Mbak AA dan bidadari-bidadari lain.

Tentu tidak akan ada yang berani untuk menjatuhkan rezim Jonru-Bunda Edenah—bahkan untuk sekadar memikirkannya. Penulis Mojok seperti Arman Dhani pun tidak ingin. Dan jauh lebih penting, tidak perlu ada pemilu lagi. Bangsa ini tidak perlu lagi dipecah-belah seperti seperti di pilpres kemarin yang efek permusuhannya begitu dahsyat. Jonru dan Lia Eden akan memimpin bangsa sampai ke anak cucu mereka.

Maka dari itu, tunggu apalagi, Jonru dan Bunda? Sekaranglah saatnya. RevolUFO adalah koentji!